Harga Minyak Naik! Bursa Asia Panik Konflik Timur Tengah?

JAKARTA, Shoesmart.co.id – Bursa saham Asia mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (18 Mei 2026) di tengah kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan ini kembali menghidupkan kekhawatiran akan inflasi global.

Serangan drone di kawasan Teluk telah menyebabkan gangguan pasokan energi, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global. Pasar pun semakin berhati-hati menjelang rilis laporan keuangan dari raksasa chip AI, Nvidia, yang dianggap sebagai penentu arah reli saham teknologi global pada pekan ini.

Ketegangan semakin memuncak setelah serangan drone menyebabkan kebakaran di pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab. Arab Saudi juga melaporkan keberhasilan mencegat tiga drone. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan Iran untuk segera mencapai kesepakatan dengan Washington.

Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya menjadi lalu lintas sekitar 20% perdagangan minyak dunia, mengalami gangguan pelayaran. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar akan semakin ketatnya pasokan energi global.

Analis Capital Economics memperingatkan bahwa penutupan jalur tersebut dapat menguras cadangan minyak dunia dengan cepat. “Penutupan Selat Hormuz menguras persediaan minyak global dengan cepat,” demikian pernyataan resmi dari Capital Economics. Lembaga tersebut bahkan memperkirakan harga minyak Brent berpotensi melonjak ke kisaran US$130 hingga US$140 per barel apabila gangguan ini berlangsung hingga akhir Juni.

Jika situasi ini berlanjut hingga akhir tahun dan harga minyak bertahan di sekitar US$150 per barel hingga tahun 2027, inflasi global berisiko kembali melonjak dan memicu resesi dunia.

Pada perdagangan Senin pagi, harga minyak Brent naik 1,2% menjadi US$110,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS menguat 1% ke level US$106,42 per barel.

Kenaikan harga energi ini langsung menekan pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan tinggi di level 4,584%, setelah melonjak 23 basis poin sepanjang pekan lalu. Yield obligasi tenor 30 tahun juga naik ke 5,109%. Lonjakan yield ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve, kemungkinan harus kembali memperketat kebijakan moneternya untuk meredam inflasi.

Pasar kini mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini dengan probabilitas sekitar 50%.

Di pasar saham, indeks Nikkei Jepang turun 0,4%, sementara bursa Korea Selatan anjlok 2,1% setelah reli saham semikonduktor mulai kehilangan tenaga. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga melemah 0,6%.

Tekanan juga terasa di Wall Street. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,4%, sedangkan Nasdaq futures terkoreksi 0,5%.

Investor kini menanti laporan kinerja Nvidia yang dijadwalkan rilis pada Rabu pekan ini. Ekspektasi pasar terhadap perusahaan AI paling bernilai di dunia tersebut sangat tinggi setelah saham Nvidia melonjak 36% sejak Maret dan indeks semikonduktor Philadelphia melesat lebih dari 60%.

Analis Citi menilai bahwa reli pasar saham global saat ini masih terlalu bergantung pada segelintir saham teknologi besar. “Penguatan indeks saham masih sangat sempit dan membutuhkan meredanya konflik Iran untuk bisa berlanjut lebih jauh,” tulis analis Citi, Scott Chronert.

Selain Nvidia, pasar juga menunggu laporan keuangan sejumlah perusahaan ritel besar seperti Walmart untuk melihat seberapa kuat daya beli konsumen dalam menghadapi tingginya harga energi.

Di pasar valuta asing, dolar AS kembali menguat karena dianggap sebagai aset aman di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Euro bertahan di US$1,1620 setelah turun 1,4% pekan lalu, sementara poundsterling melemah ke US$1,3318 akibat tekanan politik dan kenaikan tajam yield obligasi Inggris.

Sementara itu, harga emas cenderung datar di level US$4.540 per ons dan belum banyak mendapat dorongan sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak pasar global.

Ringkasan

Bursa saham Asia mengalami pelemahan akibat kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan drone di kawasan Teluk menyebabkan gangguan pasokan energi, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global. Pasar juga menanti rilis laporan keuangan Nvidia yang dianggap penentu arah reli saham teknologi.

Kenaikan harga minyak, dengan Brent mencapai US$110,63 per barel, menekan pasar obligasi global dan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Indeks Nikkei Jepang dan bursa Korea Selatan mengalami penurunan, sementara investor menantikan laporan keuangan Nvidia dan perusahaan ritel besar untuk melihat daya beli konsumen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *