JAKARTA, Shoesmart.co.id – Harga minyak mentah dunia diperkirakan akan terus merangkak naik akibat tensi geopolitik yang belum mereda, terutama konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Berdasarkan data dari Trading Economics pada Minggu (22/3/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di angka US$ 98,23 per barel, melonjak 48,14% dalam kurun waktu satu bulan. Sementara itu, harga minyak mentah Brent berada di level US$ 112,19 per barel, naik signifikan sebesar 56,93% dalam periode yang sama.
Ibrahim Assuaibi, seorang Analis Komoditas, memproyeksikan pergerakan harga minyak mentah WTI dalam jangka pendek akan berada di antara level support US$ 93,3 per barel dan resistance US$ 107,1 per barel. Untuk minyak mentah Brent, ia memperkirakan akan diperdagangkan di kisaran US$ 110 hingga US$ 116 per barel.
“Kenaikan yang cukup tajam terlihat pada Brent crude oil. Hal ini disebabkan karena Iran merupakan salah satu produsen Brent crude oil yang digunakan untuk bahan bakar avtur,” jelas Ibrahim pada Minggu (22/3/2026).
Kenaikan harga minyak mentah Brent ini, lanjut Ibrahim, akan berdampak langsung pada sektor transportasi penerbangan, yang diperkirakan mengalami kenaikan tarif yang cukup signifikan. Implikasi lebih lanjut dari kenaikan ini adalah potensi terjadinya inflasi.
Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti bahwa eskalasi yang terus memanas di Timur Tengah menjadi pendorong utama penguatan harga minyak. Serangan yang dilancarkan Iran terhadap fasilitas-fasilitas di Israel dan AS di wilayah Timur Tengah menjadi perhatian utama.
“Kondisi ini berpotensi besar membuat harga minyak terus mengalami kenaikan secara permanen, dan kemungkinan kenaikan ini akan berlangsung cukup lama,” ungkap Ibrahim.
Kenaikan harga minyak mentah global ini juga diperkirakan akan mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral utama di seluruh dunia, mendorong mereka untuk mempertahankan suku bunga.
Sebagai catatan, Federal Reserve AS dan Bank of Canada pada hari Rabu lalu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga. Langkah serupa juga diambil oleh Bank of Japan, Bank of England, European Central Bank (ECB), serta bank sentral Swiss dan Swedia pada hari Kamis. Bahkan, Bank Sentral Australia justru mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga.
Ringkasan
Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara AS dan Israel dengan Iran. Kenaikan ini terlihat pada harga minyak WTI yang mencapai US$ 98,23 per barel dan Brent crude oil di level US$ 112,19 per barel.
Kenaikan harga Brent crude oil diperkirakan akan berdampak pada sektor transportasi penerbangan dan berpotensi memicu inflasi. Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pendorong utama penguatan harga minyak, yang diperkirakan akan berlangsung lama dan mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia.