NEW YORK. Harga minyak dunia kembali menunjukkan taringnya, mencatat kenaikan mingguan yang signifikan. Pemicunya adalah keraguan pasar terhadap prospek gencatan senjata dalam konflik Iran yang telah berlangsung selama sebulan terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran berkelanjutan di kalangan investor mengenai potensi gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan.
Lonjakan harga minyak menjadi bukti nyata dari kekhawatiran tersebut. Minyak mentah Brent melesat 4,2% hingga mencapai US$ 112,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih tinggi lagi, dengan kenaikan 5,5% ke level US$ 99,64 per barel.
Perang Iran dengan AS–Israel Guncang Pasokan Global, Harga Minyak Naik Tajam
Agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang dimulai sejak 27 Februari lalu, telah memberikan dampak dramatis pada harga minyak. Brent telah meroket sekitar 53%, dan WTI juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 45%. Secara mingguan, Brent mengalami penguatan tipis sekitar 0,3%, sementara WTI mencatat kenaikan yang lebih besar, di atas 1%.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati, terutama dalam menanggapi pernyataan-pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi negosiasi dengan Iran. Seorang pejabat Iran bahkan secara terbuka menyebut proposal AS yang disampaikan melalui Pakistan sebagai “tidak adil dan sepihak,” semakin memperkeruh suasana.
Alex Hodes, seorang analis dari StoneX, berpendapat bahwa fokus utama investor saat ini tertuju pada durasi konflik, bukan lagi sekadar perkembangan berita jangka pendek.
Harga Minyak Bergerak Tipis, Pasar Cermati Perkembangan Pembicaraan AS–Iran
Lebih lanjut, Hodes menekankan bahwa potensi penutupan Selat Hormuz atau kerusakan infrastruktur energi akan serta merta mempertahankan premi risiko yang tinggi pada harga minyak.
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump memperpanjang tenggat waktu yang diberikan kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sebagai respons, AS meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan ribuan pasukan tambahan, bahkan mempertimbangkan opsi penggunaan pasukan darat untuk menguasai Pulau Kharg, sebuah pusat ekspor minyak utama Iran.
Ritterbusch & Associates, sebuah konsultan perdagangan minyak, mencatat bahwa pasar tampaknya semakin kebal terhadap sinyal-sinyal optimisme yang dikeluarkan oleh Trump.
“Pasar minyak tampaknya tidak lagi terlalu merespons komentar damai, terutama dengan adanya rencana penambahan 10.000 pasukan ke wilayah tersebut,” tulis mereka dalam sebuah catatan.
Harga Minyak Naik 2%, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi
Konflik yang berkecamuk ini telah menyebabkan pemangkasan pasokan minyak global hingga mencapai sekitar 11 juta barel per hari. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menggambarkan krisis ini lebih parah dibandingkan gabungan dua krisis minyak pada tahun 1970-an.
Menurut analis UBS, Giovanni Staunovo, pembatasan arus minyak melalui Selat Hormuz berpotensi menghilangkan lebih dari 10 juta barel per hari dari pasar, yang akan semakin memperketat pasokan global.
Di sisi lain, analis dari Macquarie Group memperkirakan bahwa harga minyak dapat mengalami penurunan cepat jika konflik mereda dalam waktu dekat, meskipun kemungkinan besar akan tetap berada di atas level sebelum perang.
Namun, skenario yang lebih mengkhawatirkan muncul jika konflik berlanjut hingga akhir Juni. Dalam situasi tersebut, harga minyak berpotensi melonjak hingga mencapai US$ 200 per barel, sebuah level yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Harga Minyak Naik Lebih dari 1% Usai Serangan Iran ke UEA
Selain konflik di Timur Tengah, risiko terhadap pasokan minyak global juga datang dari Rusia. Produsen minyak Rusia telah memperingatkan para pembeli bahwa mereka mungkin akan memberlakukan *force majeure* atas pengiriman dari pelabuhan utama di Laut Baltik, menyusul serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.
Ringkasan
Harga minyak dunia melonjak signifikan akibat kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran dan potensi gangguan pasokan energi global. Minyak mentah Brent naik 4,2% menjadi US$ 112,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,5% ke level US$ 99,64 per barel. Agresi militer AS dan Israel terhadap Iran telah meningkatkan ketegangan dan memicu kekhawatiran akan penutupan Selat Hormuz, yang dapat menghilangkan lebih dari 10 juta barel per hari dari pasar global.
Pasar tampak tidak lagi merespons sinyal-sinyal optimisme terkait negosiasi, terutama dengan rencana penambahan pasukan AS di Timur Tengah. Konflik telah memangkas pasokan minyak global hingga 11 juta barel per hari. Analis memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga US$ 200 per barel jika konflik berlanjut hingga akhir Juni. Risiko pasokan juga muncul dari Rusia terkait potensi *force majeure* atas pengiriman dari pelabuhan di Laut Baltik.