Shoesmart.co.id – Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren penguatan pada perdagangan Selasa (24 Maret 2026), didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat konflik yang masih membara di kawasan Teluk.
Sentimen pasar dipicu oleh bantahan dari Iran terkait adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) mengenai upaya mengakhiri konflik. Bantahan ini bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump, yang mengisyaratkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
Sebagai respons, harga minyak Brent naik 1,1% menjadi US$ 101 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,8% menjadi US$ 89,71 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak mengalami penurunan tajam lebih dari 10% pada hari sebelumnya, menciptakan volatilitas yang signifikan di pasar.
Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Pasokan Akibat Ketegangan AS-Iran
Penurunan harga sebelumnya dipicu oleh keputusan AS untuk menunda rencana serangan terhadap fasilitas listrik Iran selama lima hari. Langkah ini sempat meredakan kekhawatiran pasar, meskipun tensi geopolitik secara umum belum sepenuhnya mereda. Penundaan ini dilihat sebagai upaya de-eskalasi, namun dampaknya terhadap stabilitas jangka panjang masih belum jelas.
Tim Waterer, seorang analis pasar dari KCM Trade, menyoroti bahwa pergerakan harga saat ini mencerminkan tingkat ketidakpastian yang masih tinggi. “Kenaikan moderat ini mengindikasikan bahwa pasar masih mencari arah yang jelas. Meskipun serangan telah ditunda, keamanan jalur strategis Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama,” ujarnya.
Perlu diketahui, konflik di kawasan Teluk telah mengganggu pengiriman sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair global, yang umumnya melewati Selat Hormuz. Walaupun demikian, aktivitas pelayaran mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dengan beberapa kapal tanker, termasuk dua kapal yang menuju India, kembali melintasi selat tersebut pada hari Senin.
Namun, di tengah upaya meredakan ketegangan, Iran dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada komunikasi yang terjalin dengan Washington dan menganggap klaim tersebut sebagai upaya untuk memanipulasi pasar keuangan global. Pernyataan ini semakin memperkeruh suasana dan menambah lapisan ketidakpastian bagi para pelaku pasar.
Harga Minyak Terombang-ambing, Risiko Pasokan Akibat Ketegangan AS–Iran Menjadi Bayang-bayang
Selain itu, Garda Revolusi Iran melaporkan serangan baru terhadap target AS, sekaligus menanggapi pernyataan Trump sebagai bagian dari operasi psikologis. Serangkaian peristiwa ini semakin menegaskan kompleksitas situasi dan potensi eskalasi lebih lanjut.
Ketidakpastian yang terus berlanjut ini membuat proyeksi harga minyak tetap rentan terhadap fluktuasi. Lembaga keuangan Macquarie memperkirakan bahwa harga minyak memiliki batas bawah di kisaran US$ 85–US$ 90 per barel, namun berpotensi untuk kembali naik hingga mencapai US$ 110. Proyeksi ini menggarisbawahi potensi volatilitas di pasar minyak global.
Bahkan, dalam skenario terburuk jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga akhir April, harga minyak Brent berpotensi melonjak hingga menembus angka US$ 150 per barel. Skenario ini mencerminkan dampak signifikan yang dapat ditimbulkan oleh instabilitas regional terhadap harga energi global.
Selain itu, dilaporkan serangkaian serangan yang merusak infrastruktur energi di Iran, termasuk fasilitas gas di Isfahan dan pipa gas yang memasok pembangkit listrik di Khorramshahr. Serangan-serangan ini semakin memperburuk kekhawatiran tentang potensi gangguan pasokan minyak yang lebih luas.
Sebagai upaya untuk meredam potensi kekurangan pasokan, AS sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut. Langkah ini bertujuan untuk mendorong perdagangan minyak Iran kembali aktif, termasuk penawaran ke kilang di India dengan harga premium, meskipun langkah ini menuai kontroversi.
Minyak Naik Tipis 0,8%, Pasar Mencemaskan Negosiasi AS-Iran dan Stok AS
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan bahwa mereka tengah berkoordinasi dengan negara-negara di Asia dan Eropa terkait kemungkinan pelepasan cadangan strategis jika kondisi memburuk. Langkah ini menunjukkan kesiapan IEA untuk mengambil tindakan jika terjadi krisis pasokan yang signifikan.
Terakhir, para pelaku industri dan pejabat energi memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan berpotensi memberikan tekanan pada ekonomi global. Meskipun demikian, pemerintah AS meyakini bahwa dampaknya masih dapat dikendalikan. Dampak jangka panjang dari ketegangan geopolitik ini terhadap pertumbuhan ekonomi global masih menjadi perhatian utama bagi para pembuat kebijakan.
Ringkasan
Harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan yang disebabkan oleh ketegangan antara AS dan Iran. Hal ini dipicu oleh bantahan Iran terkait adanya pembicaraan dengan AS, yang bertentangan dengan pernyataan sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump. Kenaikan harga minyak terjadi setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam, menciptakan volatilitas di pasar.
Konflik di kawasan Teluk telah mengganggu pengiriman minyak dan gas alam cair global melalui Selat Hormuz. Meskipun ada upaya de-eskalasi dan pelayaran mulai pulih, ketidakpastian tetap tinggi karena Iran menyangkal adanya komunikasi dengan AS. Jika gangguan berlanjut, harga minyak Brent berpotensi melonjak, dan serangan terhadap infrastruktur energi di Iran semakin memperburuk kekhawatiran pasokan.