Harga Minyak Hari Ini: Pasar Menanti Kabar AS-Iran, Naik atau Turun?

HOUSTON. Harga minyak dunia menunjukkan pergerakan tipis di tengah perdagangan yang fluktuatif pada Kamis (26/2/2026). Fokus pasar tertuju pada perkembangan terkini pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sebuah isu yang berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pasokan minyak global.

Pada pukul 13.54 waktu setempat, harga minyak mentah Brent mengalami kenaikan sebesar 28 sen atau sekitar 0,4%, mencapai level US$ 71,13 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah WTI juga mencatatkan penguatan sebesar 13 sen atau 0,2%, berada di angka US$ 65,55 per barel.

Pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran memasuki putaran ketiga di Jenewa. Tujuan utama dari perundingan ini adalah untuk meredakan ketegangan yang berkaitan dengan program nuklir Teheran. Upaya diplomatik ini dilakukan seiring dengan meningkatnya aktivitas militer AS di kawasan tersebut, atas instruksi langsung dari Presiden Donald Trump.

Harga minyak sempat melonjak lebih dari US$ 1 per barel setelah beredar laporan media yang menyebutkan bahwa perundingan mengalami hambatan. Hambatan tersebut dipicu oleh tuntutan Washington agar Iran menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya hingga level 60%. Namun, kenaikan harga ini kemudian teredam setelah Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, memberikan pernyataan yang menunjukkan adanya kemajuan yang berarti.

“Kemajuan signifikan telah dicapai. Pembicaraan teknis akan dilanjutkan pekan depan di Wina,” ungkap Albusaidi melalui platform media sosial X.

Arah pembicaraan antara AS dan Iran diperkirakan akan terus menjadi faktor kunci yang memengaruhi pergerakan harga minyak. Jika negosiasi mengalami kegagalan, hal ini berpotensi memicu kekhawatiran terkait gangguan pasokan dari wilayah Timur Tengah, yang pada gilirannya dapat mendorong harga minyak naik. Sebaliknya, sinyal positif dari perundingan justru dapat memicu aksi jual.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga tertahan oleh lonjakan signifikan dalam persediaan minyak mentah AS. Data dari Administrasi Informasi Energi (EIA) menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS meningkat sekitar 16 juta barel pada pekan lalu.

Dari sisi pasokan global, Arab Saudi dilaporkan telah meningkatkan produksi dan ekspor minyak sebagai langkah antisipasi jika terjadi konflik antara AS dan Iran yang dapat mengganggu pasokan di kawasan tersebut. Selain itu, kelompok OPEC+ juga dikabarkan tengah mempertimbangkan kenaikan produksi sekitar 137.000 barel per hari mulai bulan April, sebagai persiapan untuk menghadapi puncak permintaan di musim panas.

Sebelumnya, harga Brent sempat mencapai level tertinggi sejak akhir Juli, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran akan gangguan pasokan dari Iran, yang merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC.

Analis dari ING berpendapat bahwa penyelesaian konstruktif dalam pembicaraan nuklir berpotensi menekan premi risiko di pasar minyak. “Resolusi yang positif kemungkinan akan memangkas premi risiko secara bertahap hingga sekitar US$10 per barel,” tulis ING dalam catatan mereka. Dengan demikian, perkembangan pembicaraan nuklir ini akan terus menjadi perhatian utama para pelaku pasar minyak dalam beberapa waktu mendatang.

Ringkasan

Harga minyak dunia bergerak tipis di tengah fokus pasar pada pembicaraan nuklir AS-Iran. Harga minyak mentah Brent naik 0,4% menjadi US$ 71,13 per barel, sementara WTI naik 0,2% menjadi US$ 65,55 per barel. Pembicaraan tidak langsung di Jenewa bertujuan meredakan ketegangan program nuklir Iran, meskipun sempat terhambat oleh tuntutan AS terkait pengayaan uranium.

Arah pembicaraan AS-Iran akan terus memengaruhi harga minyak, dengan kegagalan negosiasi berpotensi memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan mendorong harga naik. Kenaikan harga juga tertahan oleh lonjakan persediaan minyak mentah AS, dan Arab Saudi telah meningkatkan produksi sebagai antisipasi gangguan pasokan. Analis ING memperkirakan resolusi positif dalam pembicaraan nuklir dapat menekan premi risiko di pasar minyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *