Harga Minyak Anjlok: Trump Umumkan Negosiasi dengan Iran!

Harga Minyak Dunia Bergejolak: Klaim Trump Picu Penurunan Tajam, Iran Membantah

Harga minyak dunia mengalami guncangan hebat setelah mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat pernyataan kontroversial tentang perundingan damai dengan Iran. Klaim Trump, yang disampaikan melalui platform Truth Social, menyebutkan adanya diskusi untuk mengakhiri konflik, namun langsung dibantah keras oleh Teheran.

Akibat pernyataan tersebut, harga minyak mentah Brent sempat terjun bebas hingga 14%, mencapai level US$96 per barel. Penurunan drastis ini juga menyeret harga acuan gas alam Eropa yang ikut anjlok. Meskipun harga kemudian berangsur pulih setelah bantahan dari Iran, volatilitas pasar energi global tetap terasa.

Kekacauan di pasar energi global memang telah berlangsung sejak konflik meletus beberapa waktu lalu. Situasi diperparah dengan tindakan Iran yang hampir sepenuhnya memblokir Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Penutupan selat ini berpotensi mengganggu sekitar seperlima aliran minyak global dan sebagian pasokan gas alam cair. International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut krisis ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Baca juga:

* Trump Tunda Serang Pembangkit Iran, Teheran Bantah Ada Negosiasi
* Iran Akan Tutup Sepenuhnya Selat Hormuz jika AS Serang Pembangkit Listrik

Pemerintah AS sendiri telah berupaya menekan harga energi selama beberapa pekan terakhir. Pernyataan Trump, meskipun dibantah, menjadi bagian dari upaya tersebut. Langkah-langkah lain yang diambil termasuk pelepasan cadangan minyak darurat dan pelonggaran sebagian sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia, dengan tujuan menutup kekurangan pasokan akibat blokade Selat Hormuz.

Volatilitas ekstrem yang terjadi pada hari Senin tersebut menjadi bagian dari tren yang lebih besar sejak awal konflik. Empat dari enam pergerakan harga terbesar dalam sejarah kontrak berjangka Brent terjadi dalam periode yang sama, menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik.

“Pasar berada dalam kekacauan total,” tulis analis dari PVM Oil Associates Ltd, menggambarkan situasi yang serba tidak pasti.

Trump mengklaim bahwa telah terjadi pembicaraan produktif terkait penghentian konflik di Timur Tengah dan menyebut diskusi akan berlanjut sepanjang pekan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai pihak-pihak yang terlibat. Namun, kantor berita pemerintah Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada dialog dengan Washington.

Sebelumnya, Trump juga sempat menyatakan bahwa ia tengah mempertimbangkan pengurangan operasi militer AS, sembari memberikan tenggat waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, dan mengancam serangan terhadap fasilitas listrik negara tersebut.

Analis SEB AB, Bjarne Schieldrop, menilai bahwa pernyataan Trump tersebut merupakan upaya untuk menekan harga minyak. Namun, ia menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sepenuhnya bergantung pada Iran.

De-eskalasi konflik berpotensi memulihkan sebagian pasokan minyak, meskipun pemulihan penuh akan sangat bergantung pada kesiapan pelaku pelayaran untuk kembali melintasi wilayah yang masih dianggap berisiko tinggi.

Meredanya konflik juga dapat mengurangi tekanan inflasi global, walaupun pemulihan pasokan energi diperkirakan tidak akan terjadi secara instan.

Terlepas dari ketidakpastian ini, bank-bank investasi global terus merevisi naik proyeksi harga minyak. Goldman Sachs, misalnya, kini memperkirakan harga minyak rata-rata mencapai US$85 per barel tahun ini, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar US$77. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada potensi de-eskalasi, pasar masih melihat risiko kenaikan harga minyak dalam jangka pendek hingga menengah.

Ringkasan

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah klaim Donald Trump tentang negosiasi dengan Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh Iran. Penurunan harga minyak mentah Brent sempat mencapai 14% akibat pernyataan tersebut, diikuti oleh penurunan harga gas alam Eropa, namun kemudian harga berangsur pulih setelah bantahan dari Iran.

Pernyataan Trump dinilai sebagai upaya untuk menekan harga minyak di tengah kekacauan pasar energi global akibat konflik dan potensi blokade Selat Hormuz oleh Iran. Pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, dan bank-bank investasi global terus merevisi naik proyeksi harga minyak meskipun ada potensi de-eskalasi konflik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *