JAKARTA, KONTAN.CO.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah berdampak pada pergerakan harga logam industri global selama sepekan terakhir. Fluktuasi harga ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan rantai pasokan hingga kebijakan pembatasan produksi.
Berdasarkan data dari Trading Economics pada Selasa (10/3) pukul 16.16 WIB, terlihat adanya pergerakan yang signifikan. Harga aluminium mengalami kenaikan sebesar 1,60% dalam sepekan, mencapai US$ 3.329 per ton. Kenaikan paling mencolok terjadi pada nikel, yang melonjak 22,19% dalam sepekan menjadi US$ 17.506 per ton. Namun, tren berbeda terjadi pada timah. Harga timah justru mengalami penurunan sebesar 5,59% dalam sepekan menjadi US$ 50.685 per ton, meskipun sempat mencatatkan rekor tertinggi senilai US$ 57.730 per ton pada Jumat (27/2/2026).
Wahyu Laksono, analis komoditas dan founder Traderindo.com, berpendapat bahwa eskalasi konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi besar mengganggu operasional smelter dan jalur logistik, terutama di negara-negara seperti Qatar dan Bahrain. “Dampaknya lebih terasa pada jalur distribusi dan rantai pasokan yang terkait dengan Timur Tengah. Akan tetapi, secara umum, krisis ini cenderung masih terkendali dan dapat dibatasi, terutama karena faktor Trump yang relatif rasional,” jelas Wahyu kepada Kontan pada Selasa (10/3/2026).
Selain Timur Tengah, Rusia juga merasakan imbasnya. Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, menyoroti bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia turut mempengaruhi distribusi logam Rusia di pasar global. Gangguan produksi juga berpotensi terjadi di negara-negara Afrika, seperti Mozambique dan Kongo, akibat risiko terkait listrik, infrastruktur, dan stabilitas politik yang dapat mempengaruhi operasional pertambangan dan smelter.
Sutopo Widodo, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, melihat bahwa Indonesia juga merasakan dampak dari kenaikan harga logam industri ini. “Indonesia tetap memegang peran sentral dalam volatilitas nikel dan timah. Kebijakan pengetatan kuota ore nikel menjadi 250–260 juta ton serta penutupan tambang timah ilegal di Sumatra menciptakan ancaman defisit pasokan yang nyata,” ungkap Sutopo.
Lebih lanjut, Sutopo menambahkan bahwa ketergantungan smelter Indonesia pada sulfur dari Timur Tengah juga menambah kerentanan baru bagi keberlanjutan produksi di dalam negeri. Dengan demikian, berbagai faktor global dan domestik saling terkait dalam mempengaruhi dinamika harga logam industri saat ini.
Ringkasan
Eskalasi konflik di Timur Tengah mempengaruhi pergerakan harga logam industri global, terlihat dari fluktuasi signifikan pada harga aluminium, nikel, dan timah. Kenaikan harga nikel mencapai 22,19% dalam sepekan, sementara harga timah justru mengalami penurunan meskipun sempat mencatatkan rekor tertinggi.
Gangguan rantai pasokan akibat konflik Timur Tengah, sanksi terhadap Rusia, dan masalah produksi di negara-negara Afrika turut mempengaruhi distribusi logam global. Kebijakan pengetatan kuota ore nikel dan penutupan tambang timah ilegal di Indonesia juga menciptakan ancaman defisit pasokan, menambah kompleksitas dinamika harga logam industri.