Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar kripto kembali bergejolak. Setelah sempat menghijau di sesi pagi, harga berbagai aset kripto utama terpantau berbalik arah dan terkoreksi pada perdagangan Kamis (26/3). Meski demikian, prospek industri kripto di Indonesia dinilai tetap menjanjikan.
Data dari CoinMarketCap mencatat, beberapa kripto sempat mencapai level tertinggi di pagi hari. Bitcoin (BTC) menyentuh US$ 71.354 pada pukul 05.45 WIB. Ethereum (ETH) juga sempat menguat ke US$ 2.175 pada pukul 06.10 WIB, dan Solana (SOL) berada di level US$ 91,88 pada pukul 07.40 WIB.
Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Memasuki malam hari, tren berbalik. Pada pukul 19.15 WIB, harga Bitcoin terkoreksi 3,27% secara harian, menjadi US$ 69.342.
Pasar Kripto Volatil, Analis Sarankan Masuk Bertahap dan Hindari Masuk Agresif
Penurunan lebih dalam dialami oleh Ethereum, yang melemah 5,57% ke level US$ 2.068. Solana pun ikut tertekan, turun 5,48% ke posisi US$ 87,66. Secara mingguan, ketiga aset kripto ini mencatatkan koreksi.
Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto, melihat bahwa minat terhadap aset kripto di Indonesia masih menunjukkan tren positif dan semakin matang. Ia mengungkapkan bahwa jumlah investor kripto telah melampaui 20 juta orang, dengan tingkat kesadaran (awareness) mencapai lebih dari 90%.
“Ini mengindikasikan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pasar spekulatif. Kita telah berkembang menjadi sebuah ekosistem dengan basis pengguna yang kuat dan terus bertumbuh,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Kamis (26/3).
Lebih lanjut, Fyqieh menyoroti pendekatan regulasi yang relatif lebih progresif di Indonesia dibandingkan dengan banyak negara berkembang lainnya. “Peralihan pengawasan ke OJK menandakan bahwa kripto kini diposisikan sebagai bagian dari sistem keuangan, bukan hanya sebagai komoditas,” jelasnya.
Kinerja Emiten Menara Afiliasi Djarum Tumbuh Subur di 2025, Ini Rekomendasi Sahamnya
Selain itu, pasar kripto domestik juga sedang bertransisi dari dominasi investor ritel menuju struktur yang lebih seimbang dengan meningkatnya partisipasi institusi. Hal ini tercermin dari peningkatan aktivitas derivatif, potensi pengembangan ETF kripto, serta penguatan peran stablecoin dan edukasi sebagai pilar pertumbuhan.
Senada dengan Fyqieh, Vice President Indodax, Antony Kusuma, melihat pertumbuhan jumlah investor di Indonesia sebagai momentum penting bagi adopsi ekonomi digital. “Kuncinya saat ini terletak pada penguatan edukasi dan perlindungan konsumen, agar minat masyarakat dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” pungkas Antony.
Ringkasan
Pasar kripto mengalami fluktuasi, dengan beberapa aset seperti Bitcoin, Ethereum, dan Solana sempat naik di pagi hari namun kemudian terkoreksi pada sore harinya. Meskipun demikian, prospek industri kripto di Indonesia tetap dinilai positif dengan jumlah investor yang terus meningkat, melampaui 20 juta orang.
Analis menekankan pentingnya edukasi dan perlindungan konsumen untuk pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Regulasi yang progresif di Indonesia, dengan pengawasan yang beralih ke OJK, menandakan bahwa kripto diposisikan sebagai bagian dari sistem keuangan. Pasar juga bertransisi dari dominasi ritel menuju struktur yang lebih seimbang dengan meningkatnya partisipasi institusi.