Shoesmart.co.id – JAKARTA. Kenaikan harga komoditas global yang terjadi sejak awal tahun 2026 bukan lagi sekadar anomali sesaat akibat gangguan, melainkan sebuah pergeseran fundamental dalam arsitektur rantai pasok dunia.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh *Trading Economics*, hingga Jumat, 6 Februari 2026, pukul 12.57 WIB, sejumlah komoditas unggulan mencatatkan pertumbuhan harga yang signifikan secara *year to date* (YtD).
Emas, misalnya, melambung 13% dan mencapai US$ 4.886 per ons troi. Perak pun tak ketinggalan, menguat 4,4% menjadi US$ 74 per ons troi.
Komoditas mineral juga menunjukkan tren yang serupa. Lithium melonjak 14% hingga menyentuh CNY 134.500 per ton, sementara timah melesat 20% ke angka US$ 48.526 per ton. Nikel juga mengalami kenaikan sebesar 8%, menjadi US$ 16.962 per ton. Rhodium bahkan mencatatkan penguatan hingga 14%, mencapai US$ 10.475 per ons troi.
Sektor agrikultur dan energi pun tak luput dari tren kenaikan ini. Minyak sawit mentah (CPO) naik 4% menjadi MYR 4.191 per ton, sementara gandum menguat 5% ke level US$ 533 per semak.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, berpendapat bahwa disrupsi rantai pasok global saat ini telah berkembang menjadi tantangan jangka panjang yang perlu diantisipasi.
Menurutnya, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, fragmentasi perdagangan akibat kebijakan tarif yang diterapkan berbagai negara, serta kendala logistik yang belum teratasi, kini telah menjadi variabel permanen yang membentuk sistem ekonomi global.
“Efisiensi rantai pasok yang sebelumnya mengandalkan pendekatan *just-in-time* kini bergeser ke paradigma *just-in-case*. Keamanan pasokan menjadi prioritas utama, bahkan lebih penting daripada harga murah, sehingga menciptakan premi harga yang lebih berkelanjutan,” ungkap Sutopo kepada Kontan.co.id, Kamis (5/2).
Lebih lanjut, Sutopo menjelaskan bahwa lonjakan harga komoditas ini akan menciptakan efek ganda yang kompleks terhadap pasokan global.
Di satu sisi, harga yang tinggi akan menjadi insentif bagi para produsen untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka, serta mempercepat eksplorasi tambang yang sempat tertunda dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, di sisi lain, mahalnya harga bahan baku berpotensi menekan margin keuntungan industri manufaktur dan memicu *demand destruction* (penurunan permintaan) apabila daya beli konsumen tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya produksi.
“Untuk komoditas seperti lithium dan perak, harga yang tinggi justru dapat mempercepat pengembangan teknologi daur ulang serta substitusi bahan baku yang lebih terjangkau,” jelas Sutopo.
Bagi Indonesia, tren penguatan harga komoditas global ini bagaikan pedang bermata dua. Sebagai salah satu produsen komoditas utama di dunia, Indonesia berpotensi meraup keuntungan signifikan dari kenaikan harga emas, timah, dan CPO.
“Dampak positifnya dapat dilihat dari penguatan neraca perdagangan dan peningkatan penerimaan negara melalui bea keluar dan royalti. Harga komoditas domestik juga cenderung ikut terkerek naik karena mengacu pada harga global,” ujarnya.
Meskipun demikian, risiko inflasi tetap menjadi perhatian utama. Kenaikan harga komoditas input seperti gandum dan mineral industri berpotensi meningkatkan biaya produksi manufaktur nasional, yang pada akhirnya akan membebani harga barang konsumsi di dalam negeri.
“Kondisi ini menuntut respons kebijakan moneter yang lebih adaptif dari Bank Indonesia,” imbuh Sutopo.
Ke depan, Sutopo memperkirakan bahwa tren penguatan harga komoditas akan mengalami diferensiasi pada semester I-2026.
Harga emas dunia diproyeksikan akan bergerak konsolidatif di kisaran US$ 4.700–US$ 5.300 per ons troi hingga pertengahan tahun.
Di pasar domestik, harga emas Antam diperkirakan akan terdorong ke rentang Rp 3,1 juta–Rp 3,3 juta per gram.
Sementara itu, harga perak diproyeksikan akan tetap volatil, namun cenderung menguat di kisaran US$ 85–US$ 105 per ons troi.
Sebaliknya, harga minyak mentah global diprediksi relatif stabil dengan kecenderungan melemah ke kisaran US$ 60 per barel seiring dengan potensi surplus pasokan.
“Fase puncak harga komoditas diperkirakan akan memasuki tahap konsolidasi pada pertengahan tahun, sejalan dengan penyesuaian pasar terhadap suku bunga global yang mulai stabil,” pungkasnya.
Ringkasan
Kenaikan harga komoditas global sejak awal 2026 menandakan pergeseran fundamental dalam rantai pasok dunia, dipicu oleh ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, dan kendala logistik. Pola *just-in-time* bergeser ke *just-in-case*, mengutamakan keamanan pasokan daripada harga murah. Lonjakan harga ini bisa mendorong peningkatan produksi dan eksplorasi, tetapi juga menekan margin industri dan memicu penurunan permintaan.
Indonesia berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas seperti emas, timah, dan CPO, yang bisa memperkuat neraca perdagangan dan penerimaan negara. Namun, risiko inflasi tetap menjadi perhatian karena kenaikan harga input seperti gandum dan mineral industri dapat meningkatkan biaya produksi. Tren harga komoditas diprediksi akan mengalami diferensiasi, dengan emas bergerak konsolidatif, perak volatil cenderung menguat, dan minyak mentah global relatif stabil cenderung melemah.