Shoesmart.co.id JAKARTA. Kabar baik bagi industri pertambangan! Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, baru saja merevisi naik asumsi harga untuk berbagai logam dan komoditas tambang hingga tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika pasar global yang terus berubah.
Fitch Ratings melihat bahwa permintaan global akan komoditas-komoditas ini akan tetap kuat, sementara pasokan diperkirakan akan terbatas. Kombinasi kedua faktor ini mendorong mereka untuk menaikkan proyeksi harga sejumlah komoditas utama.
Dalam laporan resminya, Fitch Ratings secara spesifik menyebutkan beberapa komoditas yang mengalami revisi harga. Mari kita lihat lebih detail:
Tembaga (Copper): Harga aktual di tahun 2025 tercatat sebesar US$ 9.939 per ton. Sebelumnya, proyeksi untuk tahun 2026 berada di angka US$ 9.500. Namun, dengan asumsi terbaru, Fitch menaikkannya secara signifikan menjadi US$ 11.500 per ton. Kenaikan ini menunjukkan optimisme terhadap permintaan tembaga di masa depan.
Indofood (INDF) Catat Laba Bersih Naik 23,64% Jadi Rp 10,68 Triliun pada Tahun 2025
Aluminium: Komoditas ini juga mengalami penyesuaian. Harga aktual di tahun 2025 adalah US$ 2.630 per ton. Proyeksi untuk tahun 2026 yang semula US$ 2.550, kini dinaikkan menjadi US$ 2.900 per ton. Kenaikan ini mengindikasikan potensi pertumbuhan pasar aluminium.
Seng (Zinc): Setelah mencatatkan harga aktual US$ 2.867 per ton di tahun 2025, proyeksi harga seng untuk tahun 2026 direvisi naik dari US$ 2.850 menjadi US$ 3.000 per ton. Angka ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kinerja seng.
Emas (Gold): Logam mulia ini tak luput dari perhatian Fitch. Harga aktual emas di tahun 2025 tercatat sebesar US$ 3.431 per ons troi. Lonjakan permintaan global, yang didorong oleh pembelian bank sentral serta peningkatan alokasi investasi dari investor institusi dan ritel di tengah ketidakpastian geopolitik, menjadi alasan utama revisi ini.
Proyeksi harga emas untuk tahun 2026 yang sebelumnya berada di angka US$ 3.400, kini direvisi secara signifikan menjadi US$ 4.500 per ons troi. Ini adalah kenaikan yang cukup besar dan menunjukkan keyakinan akan nilai emas sebagai aset safe haven.
Batubara (Thermal Coal Newcastle): Untuk komoditas energi ini, harga aktual di tahun 2025 adalah US$ 105 per ton. Asumsi untuk tahun 2026 direvisi naik dari US$ 95 menjadi US$ 110. Hal ini menunjukkan bahwa batubara masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi global.
IHSG Melemah 0,53% ke 7.053 di Sesi I Selasa (31/3), HEAL, AADI, BREN Top Losers LQ45
Nikel: Di kelompok logam baterai, nikel mencatat harga aktual US$ 15.154 per ton di tahun 2025. Fitch menaikkan asumsi harga nikel jangka pendek untuk tahun 2026 menjadi US$ 16.000 per ton, mengindikasikan potensi pertumbuhan seiring meningkatnya permintaan baterai.
Lithium: Komoditas penting untuk baterai kendaraan listrik ini juga mengalami revisi naik, dari US$ 10.000 menjadi US$ 13.500 per ton, dibandingkan harga aktual di tahun 2025 sebesar US$ 10.388. Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang pesat.
Kobalt: Terakhir, kobalt juga melonjak signifikan, dari asumsi lama US$ 30.000 menjadi US$ 50.000 per ton, dari harga aktual US$ 37.037. Proyeksi ini menggarisbawahi peran penting kobalt dalam industri baterai dan potensi pertumbuhannya di masa depan.
Ringkasan
Fitch Ratings merevisi naik asumsi harga untuk berbagai logam dan komoditas tambang hingga tahun 2026 karena ekspektasi permintaan global yang kuat dan pasokan terbatas. Beberapa komoditas yang mengalami revisi harga termasuk tembaga, aluminium, seng, dan emas, dengan kenaikan signifikan pada proyeksi harga emas karena lonjakan permintaan global dan ketidakpastian geopolitik.
Selain logam, Fitch juga merevisi naik proyeksi harga untuk batubara, nikel, lithium, dan kobalt. Revisi ini mencerminkan ekspektasi pertumbuhan pasar kendaraan listrik dan peran penting komoditas tersebut dalam industri baterai. Kenaikan harga kobalt cukup signifikan, menggarisbawahi potensi pertumbuhannya di masa depan.