Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pergerakan harga emas yang sempat menunjukkan pelemahan dalam beberapa hari terakhir, dipandang sebagai bagian dari dinamika pasar global yang wajar.
Sempat terjadi penurunan tajam pada harga emas global dan domestik di awal pekan. Kendati demikian, prospek permintaan emas di masa mendatang dinilai tetap kokoh, didorong oleh kuatnya permintaan baik dari pasar global maupun dalam negeri.
Pada hari Rabu, 4 Februari 2026, harga emas Antam ditetapkan sebesar Rp 2.946.000 per gram, mengalami kenaikan sebesar Rp 86.000 per gram. Sebagai perbandingan, pada hari Selasa, 3 Februari 2026, harga emas Antam berada di angka Rp 2.844.000 per gram, yang berarti terjadi penurunan signifikan sebesar Rp 183.000 per gram.
Senada dengan pergerakan emas Antam, harga emas global juga sempat tertekan hingga di bawah US$ 5.000 per ons troi pada pekan yang sama. Bahkan, pada hari Senin, 2 Februari 2026, harga emas global sempat menyentuh angka US$ 4.425 per ons troi.
Namun, laju penurunan tersebut tidak berlangsung lama. Harga emas kembali menunjukkan penguatan dan berada di level US$ 5.073 per ons troi pada hari Rabu, 3 Februari 2026.
OJK Enggan Berkomentar soal Pansel Ketua Baru
Menanggapi pelemahan harga emas yang terjadi baru-baru ini, Global Head of Central Banks and Public Policy Head APAC ex-China, Shaokai Fan, berpendapat bahwa tekanan tersebut bersifat sementara dan tidak perlu dikhawatirkan.
Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang memicu koreksi harga emas. Salah satunya adalah sentimen yang berasal dari Amerika Serikat, terutama pengumuman mengenai Kevin Warsh sebagai kandidat pilihan Presiden Donald Trump untuk posisi Ketua Federal Reserve.
“Gambaran yang muncul dari penunjukan tersebut dinilai cukup hawkish, dan inilah yang menjadi pemicu spesifik penurunan harga emas,” jelas Shaokai dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Selain sentimen global, faktor-faktor domestik di berbagai negara juga turut memberikan tekanan pada harga emas di pasar lokal masing-masing.
Dengan harga emas yang saat ini berada pada level tinggi, Shaokai menilai bahwa potensi koreksi harga tetap terbuka lebar.
Namun, ia juga menekankan bahwa pergerakan harga emas menjadi semakin sulit diprediksi seiring dengan meningkatnya jumlah investor dan aktivitas ekonomi di pasar.
“Volatilitas harga emas cenderung meningkat. Meskipun demikian, memprediksi koreksi secara pasti adalah hal yang sulit dilakukan,” ujarnya.
Meskipun demikian, pola yang seringkali terjadi adalah investor justru memanfaatkan fase koreksi sebagai momentum untuk menambah kepemilikan emas atau melakukan akumulasi. Pola perilaku ini diperkirakan masih akan terus berlanjut di sepanjang tahun 2026.
Soal Manipulasi Pasar Saham PIPA, OJK Belum Kantongi Informasi Emiten Lain
Shaokai menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada proyeksi resmi mengenai harga emas untuk tahun 2026. Akan tetapi, dari sisi permintaan, tren kenaikan masih dinilai akan terus berlanjut.
“Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi global yang masih terus berlangsung, serta fungsi emas sebagai instrumen perlindungan nilai,” kata Shaokai.
Ke depannya, faktor utama yang akan tetap menjadi sorotan adalah kebijakan ekonomi yang diambil oleh Amerika Serikat.
Shaokai menyebutkan bahwa apabila AS mampu memperbaiki kondisi perekonomian tanpa memicu inflasi dan The Fed menahan diri untuk tidak memangkas suku bunga, maka kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi harga emas. Namun, ia menilai bahwa skenario tersebut relatif kecil kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat.
Ringkasan
Harga emas sempat mengalami pelemahan global dan domestik, namun dianggap sebagai dinamika pasar yang wajar. Penurunan ini dipicu oleh sentimen dari Amerika Serikat terkait kandidat Ketua Federal Reserve dan faktor domestik di berbagai negara. Meskipun harga emas berpotensi mengalami koreksi lebih lanjut, permintaan emas di masa depan diprediksi tetap kuat.
Menurut Shaokai Fan dari WGC, investor cenderung memanfaatkan koreksi harga emas sebagai peluang untuk melakukan akumulasi. Peningkatan aktivitas ekonomi global dan fungsi emas sebagai instrumen perlindungan nilai menjadi pendorong utama permintaan. Kebijakan ekonomi Amerika Serikat akan menjadi faktor penting yang mempengaruhi pergerakan harga emas di masa depan.