NEW YORK – Harga emas dunia mencatatkan kenaikan signifikan pada Jumat (9/1/2026), sekaligus berada di jalur menuju penguatan mingguan yang solid. Kenaikan harga emas ini dipicu oleh evaluasi investor terhadap data penggajian Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan, diiringi oleh ketidakpastian kebijakan ekonomi dan gejolak geopolitik yang meluas.
Pada Jumat (9/1/2026) pukul 13.31 ET (1618 GMT), harga emas spot melonjak 0,5% menjadi US$ 4.496,09 per ons. Dengan pencapaian ini, logam mulia diperkirakan akan membukukan kenaikan mingguan sekitar 3,9%. Sebelumnya, harga emas batangan sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 4.549,71 pada 26 Desember 2025. Senada, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup 0,9% lebih tinggi pada US$ 4.500,90. Menurut data dari Tradingview, harga emas spot bahkan mengakhiri hari dengan kenaikan 0,72% menjadi US$ 4.509,66 per ons troi pada penutupan Jumat (9/1/2026).
Indeks Bursa Wall Street Ditutup Menguat, S&P 500 Cetak All Time High
Pendorong utama kenaikan ini adalah rilis data penggajian AS yang mengecewakan. Jumlah pekerjaan non-pertanian di AS pada Desember hanya bertambah 50.000, meleset dari ekspektasi 60.000. Meskipun demikian, tingkat pengangguran menunjukkan penurunan menjadi 4,4%, lebih baik dari perkiraan 4,5%. Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, menjelaskan bahwa data penggajian yang lemah menunjukkan lingkungan penciptaan lapangan kerja yang lesu. Ia menambahkan, potensi peningkatan ketegangan geopolitik, harga minyak yang cenderung lebih tinggi dan inflasioner, serta pelonggaran kebijakan dari The Fed, semuanya merupakan kombinasi faktor yang sangat menguntungkan bagi logam mulia.
Para pelaku pasar terus mengantisipasi setidaknya dua kali penurunan suku bunga oleh Federal Reserve sepanjang tahun ini. Latar belakang kebijakan moneter yang cenderung longgar ini secara historis selalu menjadi kabar baik bagi harga emas. Selain itu, ketegangan geopolitik global masih membara, tercermin dari kerusuhan yang memanas di Iran, berlanjutnya konflik antara Rusia dan Ukraina, penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS, serta sinyal baru dari Washington untuk mengambil alih kendali Greenland.
Melihat prospek ke depan, Metals Focus memproyeksikan bahwa harga emas berpotensi mencapai rekor tertinggi baru, melampaui US$ 5.000 pada tahun 2026. Prediksi ini didasari oleh tren de-dolarisasi global dan risiko-risiko geopolitik yang terus berlanjut. Sementara itu, permintaan ritel emas di India terpantau lesu akibat harga yang tinggi, kontras dengan premi emas di Tiongkok yang justru melebar.
Di samping itu, ketidakpastian seputar tarif perdagangan juga masih menjadi perhatian. Mahkamah Agung AS diperkirakan tidak akan mengeluarkan putusan pada hari Jumat mengenai kasus penting yang menguji legalitas tarif global luas yang diberlakukan oleh mantan Presiden Donald Trump. Keputusan final kini diperkirakan baru akan diumumkan pada 14 Januari. Tidak hanya emas, harga perak spot juga turut melonjak 3,5% menjadi US$ 79,56 per ons, menempatkannya di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan sekitar 9,7%.
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 7.000 Jadi Rp 2.577.000 per Gram, Jumat (9/1/2026)
Ringkasan
Harga emas dunia mencatatkan kenaikan signifikan pada Jumat (9/1/2026), dipicu oleh data penggajian Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan serta ketidakpastian kebijakan ekonomi dan gejolak geopolitik. Harga emas spot melonjak 0,5% menjadi US$ 4.496,09 per ons, mengakhiri hari dengan kenaikan 0,72% menjadi US$ 4.509,66 per ons troi. Logam mulia ini diperkirakan akan membukukan penguatan mingguan sekitar 3,9%.
Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi pasar akan pelonggaran kebijakan moneter The Fed melalui penurunan suku bunga, serta berlanjutnya ketegangan geopolitik global. Para ahli memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai rekor baru di atas US$ 5.000 pada tahun 2026. Selain emas, harga perak spot juga turut melonjak 3,5%, menunjukkan tren penguatan pada pasar logam mulia.