Harga Emas Perak: Proyeksi Terkini hingga Kuartal II 2026!

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Setelah mengalami lonjakan harga yang signifikan sejak akhir tahun 2025 hingga Januari 2026, pergerakan harga logam mulia kini menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Berdasarkan data dari Trading Economics pada Jumat (13/2/2026) pukul 19.00 WIB, harga emas di pasar spot berada di level US$ 4.957 per ons troi, mencatatkan kenaikan 14,76% secara year-to-date (YTD). Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa harga emas sempat mencapai puncak US$ 5.558 per ons troi pada tanggal 29 Januari 2026.

Senada dengan emas, harga perak juga mengalami fluktuasi serupa. Saat ini, harga perak berada di level US$ 76,7 per ons troi, atau naik 7,67% YTD. Namun, pada tanggal yang sama dengan emas, yaitu 29 Januari 2026, harga perak sempat melonjak tajam hingga menyentuh level US$ 119,3 per ons troi.

Menanggapi kondisi ini, Wahyu Laksono, Founder Traderindo.com, berpendapat bahwa perlambatan ini bukanlah akhir dari tren kenaikan logam mulia. Menurutnya, fundamental yang mendasari harga emas dan perak belum mengalami perubahan signifikan dalam jangka menengah maupun panjang.

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 43.000 Menjadi Rp 2.904.000 Per Gram, Jumat (13/2)

“Secara umum, belum ada perubahan fundamental yang berarti, terutama untuk jangka panjang. Emas dan perak masih menunjukkan tren bullish,” ungkap Wahyu kepada Kontan pada Kamis (12/2/2026).

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan bahwa koreksi harga yang terjadi pada bulan Februari ini dipicu oleh beberapa faktor utama.

Faktor pertama adalah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) pada Januari 2026 yang dirilis lebih kuat dari perkiraan pasar. Hal ini memunculkan kembali spekulasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama (higher for longer) dari The Federal Reserve.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Ketika ekspektasi penurunan suku bunga melambat, daya tarik emas cenderung berkurang dalam jangka pendek.

Faktor kedua adalah faktor teknikal. Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high atau ATH) secara berulang-ulang, indikator teknikal menunjukkan kondisi overbought.

“Saya melihat ini lebih sebagai fase distribusi dan pengambilan keuntungan (profit taking) yang sehat,” jelasnya.

Harga Emas Rebound Jumat (13/2) Pagi, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Wahyu juga menekankan bahwa katalis utama yang mendukung harga logam mulia masih tetap kuat. Sentimen dedolarisasi yang digaungkan oleh negara-negara BRICS, serta pembelian agresif oleh bank sentral, terutama dari China dan kawasan Timur Tengah, terus menjadi fondasi yang kokoh bagi harga emas dan perak.

Untuk jangka pendek (Februari-Maret 2026), Wahyu memperkirakan harga emas dan perak akan bergerak sideways dengan pola konsolidasi.

Harga emas diperkirakan akan bergerak dalam rentang US$ 4.500 – US$ 5.800 per ons troi, sementara harga perak berpotensi stabil di kisaran US$ 60 – US$ 125 per ons troi.

Memasuki kuartal II 2026, arah harga logam mulia akan sangat bergantung pada dinamika inflasi global dan perkembangan geopolitik. Jika inflasi tetap tinggi atau terjadi eskalasi konflik di Eropa Timur maupun Timur Tengah, emas berpeluang untuk kembali menguji level psikologis US$ 6.000. Perak pun berpotensi menembus US$ 130 per ons troi.

Wahyu menambahkan bahwa perak memiliki fundamental yang unik. Permintaan industri, khususnya dari sektor panel surya dan kendaraan listrik, diperkirakan akan mencatatkan defisit pasokan selama enam tahun berturut-turut hingga 2026.

Harga Emas dan Perak Sideways Usai Naik Tajam, Prospek Reli Jangka Menengah Terbuka

“Hal ini membuat potensi rebound perak bisa lebih tajam dibandingkan emas dalam persentase,” imbuhnya.

Dengan demikian, meskipun reli spektakuler logam mulia telah mereda, prospek jangka menengah masih dinilai konstruktif.

Investor disarankan untuk mencermati perkembangan kebijakan moneter AS, dinamika geopolitik, serta tren permintaan industri sebagai penentu arah harga logam mulia selanjutnya.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Wahyu memperkirakan harga emas akan bergerak di rentang US$ 4.000 – US$ 6.000 per ons troi pada April-Juni 2026. Sementara itu, harga perak diproyeksikan berada di kisaran US$ 50 – US$ 130 per ons troi.

Ringkasan

Setelah lonjakan harga yang signifikan, harga emas dan perak menunjukkan perlambatan. Harga emas saat ini berada di US$ 4.957 per ons troi, naik 14,76% YTD, sementara harga perak berada di US$ 76,7 per ons troi, naik 7,67% YTD. Menurut Wahyu Laksono dari Traderindo.com, perlambatan ini bukan akhir dari tren kenaikan, karena fundamental emas dan perak masih kuat.

Koreksi harga dipicu data tenaga kerja AS yang kuat dan kondisi teknikal overbought. Namun, sentimen dedolarisasi dan pembelian oleh bank sentral tetap menjadi katalis positif. Untuk kuartal II 2026, harga emas diproyeksikan US$ 4.000 – US$ 6.000 per ons troi dan perak US$ 50 – US$ 130 per ons troi, tergantung pada inflasi dan geopolitik. Permintaan industri perak juga berpotensi menaikkan harganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *