Shoesmart.co.id JAKARTA. Harga emas mengalami koreksi pada awal pekan ini. Berdasarkan data dari Bloomberg, Senin (30/3/2026) pukul 06.17 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2026 di Commodity Exchange berada di level US$ 4.499,40 per ons troi. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,55% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang berada di US$ 4.524,30 per ons troi.
Koreksi harga emas ini terbilang tipis, dan pasar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Hal ini didorong oleh munculnya kembali minat beli dari para investor yang melihat penurunan harga sebagai peluang untuk mengakumulasi aset safe-haven ini.
Menurut laporan Bloomberg, aksi beli oportunistik mulai terlihat setelah pasar emas mengalami aksi jual signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik stabilisasi ini, masih tersimpan kekhawatiran mengenai dampak konflik yang berkepanjangan. Konflik ini berpotensi mendorong bank sentral untuk menjual cadangan emas mereka atau menaikkan suku bunga sebagai upaya mengendalikan inflasi.
Harga Minyak Naik Awal Pekan Ini, Imbas Kekhawatiran Meluasnya Konflik Timur Tengah
Sebagai informasi tambahan, pada akhir pekan lalu, Pakistan, Mesir, dan Arab Saudi melakukan pertemuan untuk membahas solusi terkait konflik di Timur Tengah. Upaya diplomatik ini menunjukkan keseriusan kawasan dalam mencari jalan keluar dari krisis yang sedang berlangsung.
Meskipun harga emas sempat mengalami kenaikan tipis pada pekan lalu, secara keseluruhan, harga emas telah mengalami penurunan sebesar 15% sejak konflik dimulai sekitar sebulan yang lalu.
Lebih lanjut, guncangan ekonomi yang disebabkan oleh lonjakan harga energi memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan merespons dengan menaikkan suku bunga. Kebijakan moneter yang lebih ketat ini berpotensi menghambat pergerakan harga emas.
Ringkasan
Harga emas mengalami koreksi tipis di awal pekan, dengan harga emas untuk pengiriman Juni 2026 berada di level US$ 4.499,40 per ons troi, turun 0,55% dari penutupan akhir pekan lalu. Penurunan ini memicu minat beli dari investor yang melihatnya sebagai peluang untuk mengakumulasi aset safe-haven, setelah aksi jual signifikan sebelumnya.
Meskipun ada stabilisasi, kekhawatiran mengenai dampak konflik yang berkepanjangan masih membayangi, berpotensi mendorong bank sentral untuk menjual cadangan emas atau menaikkan suku bunga. Selain itu, lonjakan harga energi akibat konflik memicu kekhawatiran The Fed akan menaikkan suku bunga, yang dapat menghambat kenaikan harga emas.