Harga Saham Emas Berguguran di Tengah Kenaikan Harga Emas Dunia, Saatnya Beli atau Jual?
Shoesmart.co.id Jakarta. Pergerakan harga saham emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren penurunan pada Maret 2026. Fenomena ini cukup menarik perhatian, mengingat harga emas dunia justru sedang melambung tinggi akibat ketegangan geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah.
Kondisi paradoks ini tentu menimbulkan pertanyaan di benak para investor: Apakah ini saat yang tepat untuk melepas kepemilikan saham emas, atau justru inilah peluang emas untuk menambah koleksi?
Bagaimana Pergerakan Saham Emiten Emas?
Dalam sepekan terakhir, sejumlah saham perusahaan tambang emas memang mencatatkan penurunan yang cukup signifikan.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengalami koreksi sebesar 1,98%, berada di level Rp 3.970 per saham pada Rabu (11/3).
Senada dengan itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga mengalami penurunan sebesar 1,18%, menjadi Rp 840 per saham.
Dua emiten yang tergabung dalam Grup Merdeka pun tak luput dari tren negatif ini. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 1,75% ke level Rp 3.370 per saham, sementara PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatatkan penurunan sebesar 1,23%, menjadi Rp 8.000 per saham.
Penurunan terdalam dialami oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), yang merosot hingga 9,84% ke level Rp 5.500 per saham dalam sepekan terakhir.
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga mengalami pelemahan, yakni sebesar 3,67% ke level Rp 1.705 per saham dalam periode yang sama.
Ringkasan pergerakan saham emas selama sepekan terakhir:
* ANTM : Rp 3.970 (-1,98%)
* BRMS : Rp 840 (-1,18%)
* MDKA : Rp 3.370 (-1,75%)
* EMAS : Rp 8.000 (-1,23%)
* AMMN : Rp 5.500 (-9,84%)
* ARCI : Rp 1.705 (-3,67%)
Lantas, Bagaimana dengan Harga Emas Dunia?
Berbanding terbalik dengan kondisi saham emiten emas, harga emas dunia justru terus menunjukkan tren kenaikan. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas dunia berada di level US$ 5.186,53 per ons troi pada Rabu (11/3) sore. Angka ini menunjukkan kenaikan sekitar 1,56% dalam sepekan terakhir.
Bahkan, pada perdagangan sebelumnya, harga emas dunia sempat menembus level US$ 5.200 per ons troi, menandakan betapa kuatnya daya tarik logam mulia ini di tengah ketidakpastian global.
Apa yang Menyebabkan Saham Emas Melemah?
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa pelemahan saham emiten emas ini dipengaruhi oleh sentimen negatif pasar global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Potensi disrupsi energi akibat konflik tersebut menciptakan risiko makro yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan bursa saham global. Akibatnya, saham produsen emas pun ikut tertekan secara kolektif, meskipun harga komoditas safe haven tersebut justru meningkat.
Investor global juga cenderung mengurangi risiko investasi di pasar saham, yang turut memengaruhi kinerja saham-saham emas.
Senada dengan Liza, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai bahwa tekanan pada saham produsen emas juga dipicu oleh sentimen *risk off* dan *capital outflow* dari pasar saham.
Khusus untuk saham MDKA dan AMMN, keduanya juga terbebani oleh eksposur yang besar terhadap komoditas nikel dan tembaga, selain emas.
“Valuasi mayoritas emiten sekarang sudah tergolong wajar dan beberapa sudah premium karena pasar sudah *priced in* reli emas,” ujar Wafi.
Bagaimana Prospek Saham Emas di Tahun 2026?
Meskipun mengalami tekanan saat ini, prospek emiten emas pada tahun 2026 dinilai masih menarik.
Penguatan harga emas dunia dan aksi akumulasi oleh bank sentral global menjadi katalis utama bagi sektor ini. Dari sisi internal, kemampuan emiten untuk meningkatkan volume produksi dan menjaga efisiensi biaya akan menjadi faktor penting bagi pertumbuhan kinerja keuangan.
Liza juga melihat bahwa minat masyarakat terhadap emas fisik tetap tinggi. Hal ini tercermin dari premi harga ritel yang sering kali melampaui harga spot emas dunia.
Strategi Emiten Menghadapi Volatilitas
Untuk memaksimalkan momentum kenaikan harga emas, emiten produsen emas perlu memprioritaskan pengendalian biaya produksi. Strategi ini penting agar kenaikan harga komoditas dapat langsung meningkatkan margin laba perusahaan.
Di sisi lain, Wafi menilai bahwa biaya pemeliharaan menyeluruh perlu ditekan dan realisasi ekspansi fasilitas pengolahan perlu dipercepat.
Perusahaan yang fokus pada bisnis emas dan sedang meningkatkan kapasitas produksi berpeluang menjadi pihak yang paling diuntungkan dari tren kenaikan harga emas.
Rekomendasi Saham Emas
Berdasarkan analisis KISI, beberapa saham emas masih layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga sebagai berikut:
* BRMS : Rp 900 per saham
* ANTM : Rp 4.000 per saham
* MDKA : Rp 3.700 per saham
Namun, investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan harga emas dunia, kondisi geopolitik global, serta strategi operasional emiten sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan kata lain, analisis yang cermat dan pertimbangan yang matang tetap menjadi kunci utama dalam berinvestasi di sektor emas.
Ringkasan
Harga saham emiten tambang emas di BEI mengalami penurunan signifikan pada Maret 2026, berbanding terbalik dengan harga emas dunia yang justru melambung tinggi akibat ketegangan geopolitik. Beberapa saham seperti ANTM, BRMS, MDKA, EMAS, AMMN, dan ARCI mencatatkan penurunan dalam sepekan terakhir. Pelemahan ini dipengaruhi sentimen negatif pasar global akibat konflik di Timur Tengah dan kecenderungan investor mengurangi risiko investasi di pasar saham.
Meskipun demikian, prospek emiten emas pada tahun 2026 dinilai masih menarik dengan katalis utama dari penguatan harga emas dunia dan aksi akumulasi oleh bank sentral global. Emiten perlu memprioritaskan pengendalian biaya produksi dan mempercepat realisasi ekspansi fasilitas pengolahan. KISI merekomendasikan beberapa saham seperti BRMS, ANTM, dan MDKA dengan target harga tertentu, namun investor tetap disarankan untuk mencermati perkembangan harga emas dunia dan kondisi geopolitik sebelum berinvestasi.