Harga emas dunia melonjak 1,7% setelah dolar dan yield obligasi AS melemah

Shoesmart.co.id NEW YORK. Harga emas dunia menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Sentimen positif ini juga diperkuat oleh meningkatnya harapan akan tercapainya perdamaian yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data pasar terkini, harga emas spot melonjak 1,7% menjadi US$ 4.505,35 per ons troi pada pukul 09.05 waktu New York. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus tidak ketinggalan, menguat 1,5% ke level US$ 4.532,80 per ons troi, menandai respons pasar yang kuat terhadap perubahan kondisi makroekonomi dan geopolitik.

Penguatan harga emas ini dipicu oleh kabar gembira kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang diumumkan pada Rabu, 3 Juni. Peristiwa ini sontak memicu optimisme pasar bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran juga berpotensi menemukan titik terang, membuka jalan menuju stabilitas regional yang lebih besar.

Dampak langsung dari kabar perdamaian tersebut terlihat pada penurunan harga minyak dunia yang mencapai lebih dari 3%. Para pelaku pasar global menaruh harapan besar agar Selat Hormuz, jalur krusial bagi pengiriman minyak dunia, dapat kembali beroperasi normal tanpa hambatan jika ketegangan di kawasan mereda sepenuhnya.

Secara bersamaan, indeks dolar AS mengalami penurunan sekitar 0,3%, sebuah faktor penting yang membuat emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, menjadi lebih terjangkau dan menarik bagi investor yang memegang mata uang selain dolar AS. Di sisi lain, penurunan yield obligasi AS, termasuk obligasi tenor 10 tahun, turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil namun menawarkan keamanan.

Trader logam independen, Tai Wong, menyoroti bahwa kombinasi pelemahan dolar dan penurunan yield obligasi sangat membantu harga emas untuk bertahan di atas level teknikal penting, yakni rata-rata pergerakan 200 hari. Menurut Wong, potensi emas untuk kembali mencetak rekor tertinggi tahun ini akan sangat bergantung pada dinamika situasi geopolitik di Timur Tengah.

“Rekor harga emas baru akan menjadi lebih sulit tercapai jika terjadi gencatan senjata permanen dengan Iran yang memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka, harga energi turun, dan kekhawatiran pasar terhadap suku bunga mereda,” ujarnya, menggarisbawahi kompleksitas faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan emas.

Meskipun menunjukkan penguatan pada perdagangan terbaru, harga emas saat ini masih berada jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah menyentuh US$ 5.594,82 per ons troi pada 29 Januari 2026. Sejak konflik di Iran memanas pada akhir Februari lalu, emas telah mengalami koreksi harga sekitar 16%, mencerminkan volatilitas pasar akibat ketidakpastian geopolitik.

Fokus pelaku pasar kini beralih ke rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk bulan Mei, yang dijadwalkan akan diumumkan pada Jumat, 5 Juni. Data ini sangat dinantikan karena dinilai krusial untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja dan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve, ke depan.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat kinerja positif. Harga perak spot melonjak 3,1% menjadi US$ 74,96 per ons troi. Sementara itu, harga platinum naik 1,9% mencapai US$ 1.895,29 per ons troi, dan paladium menguat 1,6% ke level US$ 1.322,01 per ons troi, menunjukkan tren penguatan yang menyeluruh di sektor logam mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *