Geopolitik Memanas: Peluang & Risiko Valas Utama Terungkap!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Pasar valuta asing (valas) diprediksi akan mengalami fluktuasi signifikan seiring dengan meningkatnya sentimen geopolitik global. Indeks Dolar Amerika Serikat (AS) saat ini menunjukkan penguatan, mencapai level 99.

Menurut Brahmantya Himawan, Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, penguatan indeks dolar AS (DXY) hingga area 99 tidak hanya dipengaruhi oleh faktor suku bunga. Ketidakpastian geopolitik global yang meningkat, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah, turut berperan mendorong lonjakan harga energi. Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven dan mata uang likuiditas global.

“Dalam situasi seperti ini, mayoritas mata uang utama cenderung tertekan terhadap dolar,” jelas Brahmantya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).

Emas Bukan Satu-satunya, Ini Pilihan Safe Haven Saat Geopolitik Bergejolak

Lebih lanjut, Brahmantya mengamati bahwa pasangan mata uang EUR/USD masih menghadapi tekanan. Hal ini disebabkan kawasan Euro relatif lebih rentan terhadap guncangan energi, dengan pertumbuhan ekonomi yang masih moderat. Di sisi lain, pasangan mata uang GBP/USD berpotensi lebih stabil dibandingkan Euro. Inflasi di Inggris yang masih cukup tinggi membuat Bank of England kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

Sementara itu, pasangan mata uang USD/JPY diperkirakan akan terus meningkat selama perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang masih lebar. Namun, semakin tinggi levelnya, risiko intervensi dari otoritas Jepang juga akan semakin meningkat, sehingga volatilitas pasangan mata uang ini berpotensi cukup tinggi.

Pasangan mata uang USD/CHF cenderung bergerak lebih defensif karena Franc Swiss masih dianggap sebagai aset safe haven. Sebaliknya, AUD/USD sangat sensitif terhadap sentimen risiko global dan prospek ekonomi China. Oleh karena itu, pasangan mata uang ini relatif lebih rentan ketika pasar global berada dalam mode risk-off.

“Secara umum, selama yield obligasi AS tetap relatif tinggi dan ketidakpastian geopolitik masih berlanjut, dolar AS kemungkinan akan mempertahankan keunggulannya terhadap sebagian besar mata uang utama,” jelas Brahmantya.

Beberapa faktor utama yang akan mempengaruhi arah pasar valas global ke depan, menurut Brahmantya, adalah perkembangan geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah yang saat ini berdampak langsung pada harga minyak dan persepsi risiko investor global.

Selain itu, arah kebijakan moneter bank sentral utama seperti Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, Bank of Japan, dan Reserve Bank of Australia juga akan memegang peranan penting. Perbedaan arah kebijakan suku bunga antar negara akan terus menjadi pendorong utama pergerakan mata uang.

Produksi Tembaga dan Emas Melonjak, Amman Mineral (AMMN) Diproyeksi Cetak Laba

Dinamika pasar obligasi global, khususnya pergerakan yield US Treasury, yang sangat berpengaruh terhadap kekuatan dolar, juga menjadi faktor krusial. Terakhir, prospek ekonomi China dan siklus komoditas global memegang peranan penting, terutama bagi mata uang berbasis komoditas seperti Dolar Australia.

Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX, menambahkan bahwa data ekonomi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan pasar tenaga kerja juga merupakan faktor penting. Sentimen geopolitik global dan dinamika perdagangan internasional juga dapat memicu perubahan sentimen risiko di pasar.

Investor disarankan untuk mengikuti tren pasar selama dolar AS masih kuat, terutama pada pasangan mata uang seperti EUR/USD dan AUD/USD. Selain itu, penting untuk mencermati rilis data ekonomi utama dan keputusan suku bunga bank sentral yang dapat memicu volatilitas.

“Penerapan manajemen risiko yang disiplin, termasuk penggunaan stop loss dan diversifikasi posisi, juga menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar valas,” ujar Amru.

Brahmantya menekankan bahwa dalam kondisi pasar saat ini, pendekatan yang lebih relevan bagi investor adalah strategi yang fleksibel dan berbasis tema makro global. Pertama, investor perlu tetap memperhatikan tren penguatan dolar AS selama ketidakpastian geopolitik dan pergerakan yield obligasi AS masih mendukung.

Kedua, fokus pada pasangan mata uang yang memiliki katalis fundamental yang jelas, seperti USD/JPY atau AUD/USD, karena pasangan mata uang ini biasanya menawarkan volatilitas dan peluang trading yang lebih besar.

IHSG Tertekan Jelang Libur Lebaran, Analis: Aksi Profit Taking Lebih Masif

Ketiga, investor sebaiknya lebih berhati-hati karena pasar valas saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan berita geopolitik dan data ekonomi.

Menurutnya, dalam fase geopolitik seperti sekarang, dolar AS kembali menjadi pusat perhatian pasar global. Selama konflik dan risiko energi belum mereda, mayoritas mata uang utama akan tetap bergerak defensif terhadap dolar.

“Secara keseluruhan, semester pertama 2026 kemungkinan akan ditandai oleh volatilitas yang tinggi di pasar valuta asing, dengan dolar AS masih menjadi pusat dinamika pergerakan pasar global,” jelas Brahmantya.

Pada semester I-2026, Amru memproyeksikan valas EUR/USD bergerak di kisaran 1,14 sampai 1,18, pasangan valas GBP/USD di kisaran 1,32 sampai 1,36.

Kemudian, pasangan USD/JPY diperkirakan berada di sekitar 145 sampai 152, pasangan valas USD/CHF di 0,88–0,92, dan pasangan AUD/USD dikisaran 0,69–0,72.

Amru melihat pasangan EUR/USD dan USD/JPY menjadi yang paling menarik untuk dicermati karena likuiditasnya yang tinggi serta sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter global.

Sementara itu, Brahmantya melihat pasangan valas yang menarik untuk dicermati saat ini adalah USD/JPY dan AUD/USD. USD/JPY menarik karena mencerminkan kombinasi antara kekuatan dolar, perbedaan suku bunga yang besar antara AS dan Jepang, serta potensi intervensi pemerintah Jepang ketika pelemahan Yen dianggap terlalu ekstrem.

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak, Rupiah Nyaris ke Rp 17.000

AUD/USD menarik karena sering menjadi indikator sentimen risiko global dan prospek ekonomi China. Jika kondisi global membaik dan permintaan komoditas meningkat, pasangan ini berpotensi mengalami rebound yang cukup signifikan.

“Untuk safe haven, lebih ke Franc Swiss (CHF). Namun, selama ketidakpastian geopolitik dan harga energi masih tinggi, Dolar AS tetap masih jadi primadona,” pungkas Brahmantya.

Ringkasan

Pasar valuta asing diprediksi bergejolak akibat sentimen geopolitik global yang meningkat, dengan indeks Dolar AS menguat hingga level 99. Penguatan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga energi dan meningkatkan permintaan Dolar AS sebagai aset safe haven. Mayoritas mata uang utama diperkirakan akan tertekan terhadap Dolar AS.

Beberapa faktor kunci yang mempengaruhi pasar valas adalah perkembangan geopolitik, kebijakan moneter bank sentral utama, dinamika pasar obligasi, prospek ekonomi China, dan data ekonomi penting. Investor disarankan untuk mengikuti tren pasar selama Dolar AS kuat dan mencermati rilis data ekonomi serta keputusan suku bunga. Strategi yang fleksibel dan berbasis tema makro global serta manajemen risiko yang disiplin menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar valas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *