Shoesmart.co.id – JAKARTA. Bagaimana masyarakat akan membelanjakan Tunjangan Hari Raya (THR) tahun ini? Diprediksi akan ada pergeseran pola pemanfaatan dana THR dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Jika biasanya THR digunakan untuk meningkatkan konsumsi menyambut Idulfitri, kini, eskalasi geopolitik global, terutama di Timur Tengah, mendorong sebagian masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengelola dana tambahan tersebut. Alih-alih langsung berbelanja, banyak yang mempertimbangkan untuk menjadikannya sebagai “bantalan” keuangan.
Kondisi ini berpotensi membuat masyarakat, khususnya investor, menahan diri dari belanja konsumtif dan mengalihkan dana THR ke instrumen investasi yang likuid dan berisiko relatif rendah. Lalu, instrumen investasi apa saja yang menarik?
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa dana THR secara historis memang tidak serta merta masuk ke pasar modal. Prioritas utama masyarakat tetaplah memenuhi kebutuhan konsumsi menjelang Lebaran.
Bahkan, investor yang sudah aktif di pasar saham pun cenderung hanya mengalokasikan sebagian kecil THR untuk investasi. Sebagian besar dana tetap disimpan untuk menjaga likuiditas jangka pendek, sebagai antisipasi kebutuhan mendadak.
“Dalam kondisi pasar saat ini, kami melihat investor juga cenderung lebih berhati-hati, walaupun banyak saham fundamental yang sebenarnya sudah cukup terdiskon,” jelas Liza kepada Kontan, Jumat (6/3/2026). Artinya, peluang investasi di saham tetap ada, namun perlu kehati-hatian.
Senada dengan Liza, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, berpendapat bahwa meningkatnya ketidakpastian akibat konflik global dapat membuat masyarakat mengerem konsumsi.
“Dengan adanya tensi geopolitik yang membuat masyarakat khawatir, tampaknya belanja akan ditahan. Mengingat kenaikan harga minyak bisa menjalar ke harga bahan pokok dan sektor lainnya,” ucap Nico. Kekhawatiran akan inflasi menjadi salah satu faktor pendorong.
Dalam situasi seperti ini, dana yang dimiliki investor cenderung dialihkan ke instrumen yang lebih aman. Obligasi menjadi salah satu pilihan menarik, karena menawarkan kepastian imbal hasil, meskipun kupon yang diberikan saat ini mengalami penurunan.
Nico bahkan memperkirakan sukuk ritel seri SR024 yang mulai dipasarkan pada Jumat (6/3) hingga 15 April 2026 berpotensi mendapatkan respons positif dari investor. Menurutnya, seri SR024–T5 menjadi pilihan menarik karena menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.
Jika dibandingkan dengan ORI029–T5 yang hanya memberikan kupon sebesar 5,80%, sukuk ritel perdana pada 2026 dengan tenor lima tahun tersebut dinilai masih lebih kompetitif. Meskipun demikian, Nico mengingatkan pentingnya berinvestasi dengan dana yang tidak dialokasikan untuk kebutuhan utama.
Prospek Saham Ritel Menguat Saat Ramadan–Lebaran, Ini Rekomendasi Analis
Lalu, bagaimana sebaiknya mengelola THR di tengah ketidakpastian ini? Liza menyarankan investor untuk menerapkan strategi pengelolaan dana yang lebih konservatif. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menjaga porsi kas dalam jumlah yang cukup besar terlebih dahulu.
Investor tetap dapat mulai masuk ke pasar saham, tetapi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dengan pemilihan saham yang sangat selektif. Dengan kata lain, jangan terburu-buru dan lakukan riset yang mendalam.
“Pendekatan bertahap ini penting untuk mengantisipasi volatilitas jika harga energi global melonjak dan memicu tekanan inflasi,” ucapnya. Volatilitas pasar bisa menjadi tantangan tersendiri.
Selain saham, investor juga dapat mempertimbangkan instrumen yang lebih defensif seperti obligasi pemerintah atau reksa dana pendapatan tetap guna menjaga stabilitas portofolio investasi. Diversifikasi menjadi kunci.
“Intinya, THR sebaiknya tidak langsung diinvestasikan seluruhnya, tetapi tetap dikelola dengan prinsip money management yang disiplin agar memastikan kebutuhan Lebaran aman terlebih dahulu,” tutup Liza. Prioritaskan kebutuhan pokok, baru kemudian pertimbangkan investasi.
Ringkasan
Eskalasi geopolitik global mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengelola dana THR tahun ini. Alih-alih langsung berbelanja, banyak yang mempertimbangkan untuk menjadikannya sebagai “bantalan” keuangan, sehingga berpotensi mengalihkan dana THR ke instrumen investasi yang likuid dan berisiko relatif rendah, seperti obligasi atau sukuk ritel.
Investor disarankan untuk menerapkan strategi pengelolaan dana yang konservatif dengan menjaga porsi kas dalam jumlah yang cukup besar. Investasi di saham tetap bisa dilakukan secara bertahap dan selektif, serta mempertimbangkan instrumen defensif seperti obligasi pemerintah atau reksa dana pendapatan tetap. Prinsip money management yang disiplin tetap penting untuk memastikan kebutuhan Lebaran aman terlebih dahulu.