Trump Sepakat Gencatan Senjata dengan Iran Selama Dua Minggu
Kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran telah tercapai, dimediasi oleh Pakistan, membawa angin segar di tengah ketegangan yang membara. Gencatan senjata ini diharapkan dapat meredakan konflik selama enam minggu terakhir yang telah menelan ribuan korban, meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah, dan mengancam pasokan energi global.
Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada Selasa malam, hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang ia berikan kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia, sebelumnya diblokade oleh Iran.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, telah mengundang perwakilan dari Iran dan Amerika Serikat untuk bertemu di Islamabad pada hari Jumat. Trump menekankan bahwa kesepakatan ini bergantung pada kesediaan Iran untuk menghentikan sementara blokade minyak dan gas yang melintasi selat tersebut.
Kabar baik ini, yang disertai harapan akan berakhirnya gangguan signifikan terhadap pasar energi global, segera memicu penurunan harga minyak dan penguatan pasar saham internasional.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa Teheran akan menghentikan serangan balasan dan menjamin keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut, asalkan tidak ada lagi serangan yang ditujukan kepada Iran.
Kaja Kallas, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, melalui akun X pribadinya @kajakallas (8/4/2026), menyambut baik kesepakatan ini. Ia menyatakan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran membuka peluang emas untuk meredakan ketegangan, menghentikan serangan rudal, memulihkan arus pengiriman, dan memberikan ruang bagi diplomasi menuju kesepakatan yang lebih permanen. Kallas juga mengungkapkan telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menekankan pentingnya jalur mediasi tetap terbuka mengingat akar konflik yang belum terselesaikan. Ia menambahkan bahwa isu ini akan menjadi salah satu agenda utama dalam kunjungannya ke Arab Saudi pada hari Rabu.
Iran sendiri telah mengonfirmasi pembukaan kembali jalur pengiriman melalui Selat Hormuz selama masa gencatan senjata dua minggu, langkah yang sangat melegakan mengingat gangguan sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak dan gas global. Israel juga menyatakan akan menghentikan serangannya terhadap Iran.
Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi. Perbedaan mendasar antara Amerika Serikat dan Iran mengenai bentuk kesepakatan menyeluruh yang diinginkan masing-masing pihak masih menjadi ganjalan. Perundingan di Islamabad pada Jumat mendatang akan menjadi ujian krusial untuk melihat apakah gencatan senjata sementara ini dapat berkembang menjadi kesepakatan yang lebih permanen dan komprehensif.
Trump Sepakat Gencatan Senjata dengan Iran: Ini Isi 10 Poin dari Iran
Washington mengklaim bahwa Iran telah menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara penuh, cepat, dan aman. Donald Trump juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah menerima proposal 10 poin dari Iran, yang dinilainya sebagai dasar yang cukup untuk melanjutkan negosiasi. Berikut adalah 10 poin utama dalam proposal tersebut, yang dibahas dalam kerangka gencatan senjata:
1. Komitmen dasar non-agresi dari Amerika Serikat terhadap Iran.
2. Pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz yang dikoordinasikan dengan militer Iran, memberikan Iran pengaruh di jalur tersebut.
3. Pengakuan terhadap program pengayaan nuklir Iran.
4. Pencabutan seluruh sanksi primer dan sekunder terhadap Iran.
5. Penghentian resolusi yang menentang Iran di Badan Energi Atom Internasional.
6. Mengakhiri seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran.
7. Penarikan pasukan tempur Amerika Serikat dari pangkalan-pangkalan di kawasan.
8. Pemberian ganti rugi penuh atas kerusakan yang dialami Iran selama perang, termasuk melalui mekanisme pembayaran dari kapal yang melintas di Selat Hormuz.
9. Pelepasan seluruh aset dan properti Iran yang dibekukan di luar negeri.
10. Pengesahan seluruh kesepakatan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB yang bersifat mengikat.
Namun, Trump menegaskan kepada kantor berita AFP bahwa isu persediaan senjata nuklir Iran akan ditangani secara tuntas dalam setiap kesepakatan perdamaian. “Itu akan diselesaikan dengan sempurna, atau saya tidak akan menyetujuinya,” tegasnya.
Iran sendiri menegaskan tidak memiliki niat untuk mengembangkan senjata nuklir, namun bersedia membahas batasan kegiatan nuklir mereka sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Dalam wawancara terpisah dengan Sky News, Trump menyinggung bahwa rencana 10 poin yang secara resmi dibocorkan oleh pejabat Iran mungkin berbeda dari versi yang sebenarnya tengah dinegosiasikan. “Itu poin-poin yang sangat bagus dan sebagian besar sudah sepenuhnya dinegosiasikan,” kata Trump. “Ini bukan tuntutan maksimalis seperti yang diklaim Iran.”
Ia menambahkan, “Jika negosiasi ini tidak berhasil, kita akan dengan mudah kembali ke ketegangan.”
Sejak pengumuman gencatan senjata, baik Trump maupun pemerintahannya belum memberikan rincian mengenai poin-poin utama dalam rencana 10 poin tersebut, termasuk pencabutan sanksi AS, pembebasan aset Iran yang dibekukan, pengaturan berkelanjutan atas Selat Hormuz, maupun penarikan pasukan militer AS dari wilayah tersebut.
Donald Trump sepakat gencatan senjata dengan Iran selama dua minggu, menandai langkah penting menuju deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Gencatan senjata selama dua minggu merupakan syarat utama dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendukung langkah Amerika Serikat tersebut, namun menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata sementara itu.
Setelah Iran menyetujui pembukaan akses pelayaran dan penghentian sementara operasi militer, ketegangan di kawasan mulai mereda, sekaligus memberikan harapan bagi stabilitas pasar energi dan ekonomi dunia.
Ringkasan
Amerika Serikat dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu, dimediasi oleh Pakistan, dengan tujuan meredakan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah. Kesepakatan ini dipicu oleh blokade Selat Hormuz oleh Iran, yang mengancam pasokan energi global. Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan serangan balasan sebagai imbalan atas jaminan keamanan.
Sebagai bagian dari kesepakatan ini, Amerika Serikat menerima proposal 10 poin dari Iran, yang mencakup komitmen non-agresi, pencabutan sanksi, dan pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz. Negosiasi lebih lanjut akan diadakan di Islamabad untuk membahas kesepakatan yang lebih permanen, meskipun perbedaan mendasar masih ada. Israel mendukung langkah ini, namun mengecualikan Lebanon dari kesepakatan gencatan senjata.