Shoesmart.co.id JAKARTA. Kabar kurang mengenakkan datang dari pasar modal Indonesia. Lembaga pemeringkat global, FTSE Russell, mengumumkan penghapusan empat emiten Tanah Air dari daftar indeksnya. Keputusan ini tertuang dalam pengumuman June 2026 Quarterly Review yang dirilis pada hari Sabtu (23/5/2026).
Langkah FTSE Russell ini didasari oleh beberapa faktor krusial. Beberapa emiten dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi, tidak memenuhi persyaratan minimal free float atau saham beredar di publik, serta masuk dalam daftar pengawasan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI).
Salah satu emiten yang terkena dampak adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Perusahaan yang merupakan bagian dari Grup Sinar Mas ini bergerak di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, energi baru dan terbarukan, teknologi, hingga bahan kimia. DSSA dikeluarkan dari daftar emiten berkapitalisasi besar.
Menurut penilaian FTSE, mayoritas saham DSSA hanya dikuasai oleh segelintir pemegang saham, sehingga masuk kategori high shareholding concentration (HSC). Dalam pengumumannya, FTSE Russell menyatakan, “Failed High Shareholding Concentration.”
Emiten Poultry Cetak Kinerja Solid di Tengah Tekanan Rupiah dan Pakan
Selain DSSA, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan nikel dan batu bara, juga harus rela dikeluarkan dari daftar emiten berkapitalisasi kecil. DAAZ dinilai tidak memenuhi batas minimal saham beredar yang wajib dimiliki publik dan bebas diperjualbelikan di pasar. “Failed Minimum Free Float Requirement,” demikian bunyi pengumuman resmi tersebut.
Dua emiten lainnya yang turut terdepak adalah PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA). HILL merupakan perusahaan induk dan kontraktor yang fokus pada pertambangan nikel dan batu bara. Sementara itu, MLIA bergerak di bidang manufaktur, perdagangan, dan distribusi produk industri kaca.
Alasan penghapusan HILL dan MLIA adalah karena kedua emiten tersebut masuk dalam daftar pengawasan atau pemantauan khusus oleh otoritas bursa Indonesia. Keduanya terindikasi memiliki aktivitas perdagangan yang tidak wajar. “Failed Surveillance stocks screen,” jelas FTSE Russell dalam pengumumannya.
Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, menjelaskan bahwa sebelum penyesuaian ini dilakukan, kapitalisasi pasar bersih (Net Market Capitalization free-float) dari 39 saham Indonesia pada kategori large cap dan mid cap berada di angka US$ 91,01 miliar. Angka ini mencerminkan bobot 0,88% dari total kapasitas seluruh saham large dan mid cap negara berkembang.
Setelah keluarnya DSSA, bobot Indonesia mengalami penurunan dari 0,88% menjadi 0,86%. “Penurunan bobot tersebut berpotensi memicu outflow, terutama bagi passive fund, hingga tanggal efektif rebalancing 22 Juni 2026,” ungkap Ratih kepada Kontan, Sabtu (23/5/2026).
Ratih memperkirakan potensi outflow mencapai US$ 297 juta atau setara dengan Rp 4,87 triliun (dengan asumsi kurs rupiah Rp 17.600/US$) khusus dari satu produk Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO) dengan dana kelolaan (AUM) sebesar US$ 102,68 miliar per akhir April 2026.
Koreksi Harga CPO Diproyeksi Hanya Sementara, Fundamental Masih Solid
Secara keseluruhan, potensi outflow dari passive fund diperkirakan mencapai US$ 297 juta atau Rp 5,2 triliun, dengan asumsi total AUM passive fund di negara berkembang sebesar US$ 1,1 triliun. Outflow ini juga tercermin pada kinerja IHSG, dengan catatan net sell asing sejak awal tahun mencapai Rp 53 triliun (per 23/5).
Menanggapi situasi ini, Ratih menyarankan investor untuk menghindari saham-saham yang berada dalam pemantauan khusus BEI, termasuk saham dengan kategori HSC dan saham yang belum memenuhi persyaratan free float namun masih tercantum dalam indeks global.
Ia juga merekomendasikan untuk menghindari saham-saham yang keluar dari indeks FTSE hingga outflow mereda, yaitu hingga tanggal 22 Juni 2026. Sebagai alternatif, investor disarankan untuk memilih saham dengan fundamental yang kuat dan memberikan passive income berupa dividen di tengah kondisi outflow pasar ekuitas domestik.
Sebagai contoh, BBNI dinilai memiliki valuasi yang rendah sejak tahun 2008 dengan rasio PBV saat ini sebesar 0,88%. Selain itu, saham-saham yang masih memiliki sentimen dividen, seperti PTBA yang akan menggelar RUPST pada tanggal 11 Juni 2026 dengan potensi dividend yield sebesar 6,8%, juga menarik untuk diperhatikan.
Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Pemicunya
Rekomendasi Saham
Lebih lanjut, Ratih membagikan beberapa rekomendasi saham yang menarik untuk dicermati:
-
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 4.000 serta pertimbangkan support di level Rp 3.600.
-
PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 2.900 serta pertimbangkan support di level Rp 2.580.
-
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
Rekomendasi: Buy on weakness dengan target harga pada resistance di level Rp 2.500 serta pertimbangkan support di level Rp 2.000.
Ringkasan
FTSE Russell mengumumkan penghapusan empat emiten Indonesia dari daftar indeksnya berdasarkan June 2026 Quarterly Review. Penghapusan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi (high shareholding concentration), tidak memenuhi persyaratan minimal free float, dan masuk daftar pengawasan khusus BEI. Emiten yang terdampak adalah DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA.
Penghapusan ini berpotensi menyebabkan outflow dana asing, terutama dari passive fund, yang diperkirakan mencapai US$ 297 juta atau sekitar Rp 4,87 triliun hingga tanggal efektif rebalancing pada 22 Juni 2026. Investor disarankan untuk menghindari saham-saham dalam pemantauan khusus BEI dan memilih saham dengan fundamental yang kuat serta memberikan dividen. Beberapa saham yang direkomendasikan adalah BBNI, PTBA, dan ADRO.