Shoesmart.co.id JAKARTA. Kabar baik bagi PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO): jumlah investor mereka melonjak di bulan Januari 2026. Peningkatan ini terjadi seiring dengan kepemilikan saham publik yang semakin luas, bahkan telah melampaui batas minimal free float yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan laporan registrasi efek bulanan, tercatat 4.921 investor GPSO hingga akhir Januari 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang berjumlah 4.506 investor. Dengan kata lain, ada penambahan 415 pemegang saham baru hanya dalam satu bulan.
Manajemen GPSO juga mengumumkan bahwa jumlah saham tercatat perusahaan hingga akhir Januari 2026 mencapai 666,74 juta lembar. Dari total tersebut, 340,37 juta saham atau setara dengan 51,05% dikategorikan sebagai free float, yang berarti dimiliki oleh publik.
Geoprima Solusi (GPSO) Ungkap Transaksi Material Rp 700 Miliar, Ini Opsi Pendanaannya
Sementara itu, pemegang saham pengendali GPSO saat ini adalah PIMSF Pulogadung, yang menguasai 326,37 juta saham atau 48,95% dari total saham yang beredar. Kurniawan Eddy Tjokro tercatat sebagai ultimate beneficial owner (UBO) atau penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham perseroan.
Rencana Akuisisi Ambisius
GPSO juga mengumumkan rencana akuisisi besar. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Rabu, 21 Januari 2026, GPSO telah menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) untuk mengakuisisi sejumlah aset senilai Rp700 miliar dari entitas terafiliasi, yaitu PT Morita Tjokro Gearindo (MTG) dan PT Jaya Indah Casting (JIC).
“Aset yang akan diambil alih meliputi 75% saham PT Pulogadung Tempajaya (PTJ), 70% saham PT Tjokro Bersaudara Komponenindo (TBK), dan 70% saham PT Jakarta Marten Logamindo (JML), serta aset tanah dan bangunan yang berlokasi strategis di Kawasan Industri Jababeka I dan Kawasan EJIP Bekasi,” demikian pernyataan manajemen dalam keterbukaan informasi tersebut.
Aksi korporasi yang ambisius ini diproyeksikan akan mendongkrak nilai perusahaan secara signifikan. Langkah ini berpotensi membawa GPSO ke dalam jajaran emiten dengan kapitalisasi pasar triliunan rupiah.
GPSO Chart by TradingView
Untuk membiayai serangkaian transaksi ini, GPSO sedang menjajaki berbagai opsi pendanaan yang dianggap paling optimal. Beberapa opsi yang dipertimbangkan termasuk skema share swap inbreng saham dalam Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) dan penggunaan instrumen utang.
Manajemen menegaskan bahwa seluruh aksi korporasi ini akan dilaksanakan dengan mematuhi ketentuan yang berlaku dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia. Proses penilaian kewajaran transaksi oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang independen juga akan dilakukan.
Sebagai informasi tambahan, PIMSF Pulogadung, yang merupakan bagian dari grup industri mekanikal raksasa, Tjokro Group, secara resmi mengambil alih GPSO pada akhir tahun 2025.
Saat ini, GPSO tengah bersiap untuk melakukan konsolidasi aset-aset strategis Tjokro Group. Tujuannya adalah menjadikan GPSO sebagai induk perusahaan (holding company) dari Tjokro Group di bidang usaha parts maker di Indonesia dan property building management.
Ringkasan
Jumlah investor PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) meningkat signifikan pada Januari 2026, mencapai 4.921 investor. Peningkatan ini sejalan dengan bertambahnya free float saham perusahaan yang telah melampaui batas minimal yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia, dengan 51,05% saham dimiliki publik.
GPSO juga mengumumkan rencana akuisisi aset senilai Rp700 miliar dari entitas terafiliasi dan menjajaki opsi pendanaan, termasuk share swap inbreng saham dan instrumen utang. Langkah ini dilakukan dalam rangka konsolidasi aset-aset strategis Tjokro Group, menjadikan GPSO sebagai holding company di bidang parts maker dan property building management.