Fixed Broadband Belum Optimal? Intip Rekomendasi Saham Telekomunikasi Ini!

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Tingkat penetrasi layanan fixed broadband di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Padahal, ekspansi layanan ini diprediksi menjadi salah satu kunci pendorong kinerja emiten sektor telekomunikasi ke depan.

Analis DBS Vickers Sekuritas Indonesia, Sachin Mittal, menyoroti bahwa penetrasi fixed broadband di Indonesia secara struktural masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Data menunjukkan bahwa penetrasi fixed broadband rumah tangga di Indonesia baru mencapai sekitar 20% – 21%. Angka ini jauh berbeda dengan Filipina (33%), Malaysia (51%), Thailand (55%), dan Singapura (89%).

IHSG Berpotensi Menguat, Ini Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Senin (19/1)

Mittal juga mencatat bahwa pada tahun 2023, hanya ada sekitar 5 pelanggan fixed broadband per 100 orang di Indonesia. Sebagai perbandingan, Filipina mencatatkan 7 pelanggan per 100 orang, Malaysia 13, Thailand 16, dan Singapura 27.

“Kondisi ini menciptakan peluang pertumbuhan pelanggan yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang seiring dengan perluasan cakupan. Meskipun demikian, persaingan diperkirakan akan terus menekan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) broadband dan menggeser pertumbuhan ke arah tingkatan harga yang lebih rendah,” ungkap Mittal dalam risetnya tertanggal 13 Januari 2026.

Simak Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas untuk Perdagangan Senin (19/1)

Sementara itu, Opensignal mencatat bahwa Telkomsel (IndiHome + Orbit) masih mendominasi pasar dengan pangsa pasar sekitar 67% dari pelanggan fixed broadband. Pesaing terdekatnya, XLSMART (XL Home/First Media), berada di angka 6% – 7%, diikuti oleh Indosat HiFi dengan 3% – 4%.

Mittal melihat adanya pergeseran fokus strategi dari ekspansi ritel murni ke monetisasi infrastruktur. Baik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) maupun PT Indosat Tbk (ISAT) dikabarkan sedang menjajaki divestasi sebagian aset serat optik di seluruh jaringan backhaul, last mile, dan jaringan bawah laut.

Daftar Saham Batubara Berpotensi Cuan: Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis!

Langkah ini diharapkan dapat mengkristalkan nilai, mendaur ulang modal, dan memperluas penyewaan serat optik grosir kepada pihak ketiga.

Menurut Mittal, strategi ini sangat relevan di Indonesia, mengingat distribusi ekonomi yang secara struktural menantang akibat faktor geografis kepulauan dan tingginya intensitas pekerjaan sipil.

Oleh karena itu, model kemitraan menjadi cara yang pragmatis untuk mendanai ekspansi sekaligus mengurangi pembangunan berlebihan yang tidak efisien.

“Seiring waktu, lapisan grosir yang lebih sehat juga akan mendukung keterjangkauan ekosistem yang lebih luas dan mempercepat peningkatan penetrasi, bahkan jika harga ritel jangka pendek tetap kompetitif,” jelas Mittal.

Analis OCBC Sekuritas, Gani, memproyeksikan kinerja emiten sektor telekomunikasi pada kuartal I – 2026 akan tumbuh positif secara year on year (yoy).

Namun, beberapa tantangan masih perlu diantisipasi, termasuk daya beli yang belum sepenuhnya pulih, kompetisi di industri, dan tren suku bunga.

IHSG Berpotensi Rebound, Simak Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Jumat (23/1)

“Kompetisi di pasar fixed broadband cenderung lebih intens dibandingkan bisnis selular. Pertumbuhan diproyeksikan cenderung terbatas pada kuartal I – 2026,” ujar Gani kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, memperkirakan sektor telekomunikasi pada kuartal I – 2026 akan tumbuh moderat dengan dukungan utama dari layanan data dan fixed broadband.

Konsumsi data yang stabil serta ekspansi jaringan fiber berpotensi mendorong pendapatan, meskipun peningkatan margin masih terbatas.

Sukarno menyoroti tantangan utama berasal dari persaingan tarif yang ketat, kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang tinggi untuk fiber dan 5G, serta tekanan margin akibat komoditisasi layanan. Faktor makro dan regulasi spektrum juga berpotensi memengaruhi sentimen jangka pendek.

IHSG Rekor, Rupiah Makin Loyo Dekati Rp 17.000, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Dari sisi sentimen, investor akan mencermati tren ARPU, pertumbuhan pelanggan broadband, serta disiplin capex dan stabilitas EBITDA. Secara sektoral, telekomunikasi tetap defensif namun sensitif terhadap perubahan risk appetite global.

“Pasar fixed broadband diperkirakan melanjutkan pertumbuhan positif pada kuartal I – 2026, didorong penetrasi fiber ke segmen residensial dan kontribusi ARPU yang relatif lebih stabil,” ujar Sukarno kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Mittal merekomendasikan beli saham ISAT dengan target harga Rp 3.310 per saham.

Gani merekomendasikan beli saham ISAT dengan target harga Rp 2.500 per saham, beli saham TLKM dengan target harga Rp 4.200 per saham, dan beli saham PT XLSMART Telecom Sejahtera (EXCL) namun target harganya masih dalam proses review OCBC Sekuritas.

Sedangkan Sukarno merekomendasikan beli saham TLKM dengan target harga Rp 4.000 per saham.

Ringkasan

Penetrasi layanan fixed broadband di Indonesia masih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya. Analis memprediksi ekspansi layanan ini akan menjadi pendorong kinerja emiten telekomunikasi, namun persaingan diperkirakan akan menekan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU). Telkomsel masih mendominasi pangsa pasar fixed broadband, sementara PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT) menjajaki divestasi aset serat optik.

Analis memproyeksikan pertumbuhan positif sektor telekomunikasi pada kuartal I-2026, didukung oleh layanan data dan fixed broadband. Beberapa rekomendasi saham termasuk beli saham ISAT (target harga Rp 2.500 – Rp 3.310), TLKM (target harga Rp 4.000 – Rp 4.200), dan EXCL (target harga dalam review). Investor akan mencermati tren ARPU, pertumbuhan pelanggan broadband, serta disiplin capex dan stabilitas EBITDA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *