
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) berancang-ancang untuk memacu ekspansi jaringan gerainya di tahun 2026. Langkah ini menjadi salah satu strategi utama perusahaan untuk mendorong pertumbuhan bisnis.
Manajemen Erajaya menegaskan bahwa ekspansi ritel akan dilakukan secara cermat, dengan mengutamakan profitabilitas, tingkat pengembalian investasi, dan keberlanjutan usaha dalam setiap keputusan yang diambil. Dengan kata lain, pertumbuhan yang sehat dan berkualitas menjadi prioritas utama.
Sayangnya, Erajaya belum memberikan detail mengenai target jumlah gerai baru yang akan dibuka pada tahun 2026. Namun, perusahaan memastikan bahwa ekspansi akan tetap dijalankan secara selektif. Kajian komprehensif terhadap kondisi pasar, kinerja masing-masing segmen bisnis, serta optimalisasi penggunaan modal akan menjadi landasan utama dalam proses pengambilan keputusan.
Amelia Allen, Head of Legal Counsel & Corporate Affair Erajaya Group, menjelaskan bahwa dari sisi pendanaan, perusahaan akan menerapkan pendekatan yang prudent dengan mengoptimalkan struktur permodalan yang sehat.
Erajaya (ERAA) Bakal Buyback Saham, Siapkan Dana Rp 150 Miliar
Secara umum, Erajaya Group akan mengandalkan arus kas operasional internal sebagai sumber pembiayaan utama. Meski demikian, perusahaan tetap membuka peluang untuk memanfaatkan pendanaan eksternal secara selektif, terutama jika menawarkan struktur biaya yang efisien.
Perusahaan juga berkomitmen untuk menjaga tingkat leverage tetap terkendali dan memastikan bahwa setiap belanja modal memiliki perhitungan pengembalian investasi yang jelas dan terukur. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas keuangan perusahaan.
“Dengan pendekatan ini, Erajaya Group berupaya menyeimbangkan antara ekspansi bisnis, pengelolaan arus kas, dan penguatan neraca keuangan. Tujuannya adalah agar pertumbuhan yang dicapai dapat berkelanjutan dalam jangka panjang,” ungkap Amelia kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).
Ekspansi jaringan Erajaya juga akan difokuskan pada wilayah-wilayah dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, penetrasi produk yang masih luas, serta potensi peningkatan konsumsi kelas menengah. Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki potensi pasar yang besar untuk produk-produk Erajaya.
“Selain memperkuat posisi di kota-kota besar, perusahaan juga aktif menangkap peluang di kota tier 2 dan tier 3 yang menunjukkan tren pertumbuhan solid,” imbuhnya, menandaskan bahwa Erajaya tidak hanya fokus pada pasar yang sudah mapan.
Tak Hanya Elektronik, Erajaya (ERAA) Geber Pertumbuhan Bisnis dari Dua Segmen Ini
Lebih lanjut, Amelia menjelaskan bahwa pemilihan lokasi gerai akan dilakukan secara disiplin dengan mempertimbangkan beberapa faktor penting, seperti potensi lalu lintas pengunjung, struktur biaya, kondisi persaingan, serta proyeksi periode pengembalian investasi yang sehat. Pemilihan lokasi yang strategis menjadi kunci keberhasilan ekspansi.
Pertumbuhan Bisnis ERAA
Analis Equity Research Samuel Sekuritas, Jonathan Guyadi, menilai bahwa ERAA berada di jalur yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan bisnisnya pada tahun 2026–2027. Optimisme ini didukung oleh ekspansi gerai yang agresif serta akuisisi merek di segmen dengan pertumbuhan cepat, terutama Active Lifestyle dan sektor lain termasuk kendaraan listrik (EV) melalui XPENG.
“Jumlah gerai telah meningkat menjadi 2.322 unit, bertambah 633 outlet atau naik 37,5% sejak akhir 2022. Pertumbuhan signifikan ini akan menjadi basis pertumbuhan ERAA dalam dua tahun ke depan,” tulis Jonathan dalam risetnya, Senin (26/1/2026). Penambahan gerai yang masif ini diharapkan dapat mendongkrak penjualan dan memperluas jangkauan pasar Erajaya.
Dari sisi segmen bisnis, Erajaya telah memasuki pasar kendaraan listrik dengan menjadi agen pemegang merek tunggal XPENG di Indonesia, serta menghadirkan lini perakitan pertama XPENG di luar China. Langkah ini menunjukkan komitmen Erajaya untuk berinovasi dan beradaptasi dengan tren pasar.
Sementara itu, pada portofolio Active Lifestyle, merek baru yang diperkenalkan antara lain Wilson dan Under Armour. Jonathan memprediksi bahwa segmen-segmen dengan pertumbuhan tinggi ini dapat menyumbang sekitar 25%–30% dari total pendapatan dalam beberapa tahun ke depan, meningkat signifikan dari kontribusi 16,1% pada sembilan bulan pertama tahun 2025.
Entitas Usaha Erajaya (ERAA) Lakukan Transaksi Afiliasi Rp 44,55 Miliar
Dalam beberapa tahun ke depan, ERAA diperkirakan akan membuka bersih sekitar 100–150 gerai per tahun, yang terdiri dari 50–60 gerai ERAA Lifestyle dan 30–40 gerai Food & Nourishment (FnR) setiap tahun. Ekspansi ini menunjukkan ambisi Erajaya untuk terus memperluas jangkauan bisnisnya di berbagai sektor.
Dari sisi profitabilitas, EBIT (Earnings Before Interest and Taxes) diproyeksikan tumbuh dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) lima tahun sebesar 18% pada periode 2025–2030. Pertumbuhan ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan penjualan ponsel di segmen harga yang lebih tinggi.
Proyeksi positif ini juga didukung oleh perbaikan komposisi bisnis dalam jangka menengah dan peningkatan leverage operasional melalui efisiensi biaya operasional. Dengan kata lain, Erajaya diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas secara berkelanjutan.
Meskipun demikian, ERAA tetap menghadapi sejumlah risiko, antara lain potensi melemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan penjualan gerai yang tidak sesuai ekspektasi, tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, serta risiko geopolitik yang berpotensi menghambat impor produk perusahaan. Faktor-faktor eksternal ini perlu diwaspadai oleh perusahaan.
Dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhan dan potensi risiko yang ada, Jonathan merekomendasikan buy saham ERAA dengan target harga Rp 800 per saham. Rekomendasi ini mencerminkan keyakinan analis terhadap potensi pertumbuhan ERAA di masa depan.
Ringkasan
Erajaya Swasembada (ERAA) berencana mempercepat ekspansi gerai di tahun 2026 dengan fokus pada profitabilitas dan keberlanjutan usaha. Perusahaan akan selektif dalam memilih lokasi, mempertimbangkan potensi pertumbuhan ekonomi wilayah, penetrasi produk, dan potensi peningkatan konsumsi kelas menengah. Pendanaan ekspansi akan diutamakan dari kas internal, namun tidak menutup kemungkinan pendanaan eksternal yang efisien.
Analis memproyeksikan pertumbuhan bisnis ERAA didukung oleh ekspansi gerai yang agresif dan akuisisi merek di segmen yang berkembang pesat, termasuk Active Lifestyle dan kendaraan listrik (EV). Erajaya diperkirakan akan membuka 100-150 gerai per tahun dan mencapai pertumbuhan EBIT sebesar 18% (CAGR) pada periode 2025-2030, meskipun tetap menghadapi risiko seperti pelemahan daya beli dan fluktuasi nilai tukar rupiah.