
Shoesmart.co.id – JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menunjukkan kinerja cemerlang sepanjang periode Januari hingga September 2025. Proyeksi menunjukkan bahwa sentimen geopolitik yang memengaruhi fluktuasi harga komoditas minyak dan gas (migas) akan menjadi pendorong utama atau katalis positif bagi performa ENRG ke depan.
Hingga kuartal III-2025, ENRG sukses membukukan pendapatan sebesar US$ 361 juta, sebuah peningkatan signifikan sebesar 13% secara year on year (yoy). Tidak hanya itu, laba bersih perusahaan juga melonjak 9% yoy, mencapai US$ 56 juta, menandakan pertumbuhan yang solid di tengah dinamika pasar.
Indy Naila, seorang Analis Investasi dari Edvisor Provina Visindo, menyoroti strategi ENRG dalam meningkatkan produksi minyak dan gas. Menurutnya, perusahaan telah menyusun rencana ambisius melalui pengembangan aset-aset strategis, yang menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan.
Di sisi lain, konflik geopolitik global, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, dipandang sebagai katalis jangka pendek hingga menengah yang berpotensi memicu volatilitas pada saham-saham migas. Indy menjelaskan bahwa tensi geopolitik ini, termasuk ketegangan antara AS dan Iran, dapat menimbulkan kekhawatiran serius akan gangguan rantai pasok dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak secara global. “Dengan adanya sentimen dari penyerangan AS-Venezuela dan tensi geopolitik AS-Iran dapat memicu kekhawatiran akan supply chain disruptions dan kenaikan harga minyak,” ujar Indy kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).
Fluktuasi Harga Minyak Bayangi Kinerja Energi Mega Persada (ENRG) pada 2026
Meskipun demikian, Indy mengingatkan bahwa keberlanjutan kenaikan harga komoditas migas sangat bergantung pada perkembangan dinamika geopolitik. Oleh karena itu, daya tahannya masih relatif terbatas, dan pengawasan ketat terhadap kondisi keuangan saham-saham migas menjadi esensial bagi investor. Indy menambahkan bahwa ENRG akan memfokuskan perhatiannya lebih pada sektor gas, dengan harapan volume penjualan gas dapat tetap tinggi. “Tetapi tetap waspada fluktuasi harga minyak dan gas yang bisa menekan margin,” kata Indy, menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan terhadap pergerakan pasar.
Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas, turut memberikan pandangannya mengenai faktor-faktor kunci yang akan memengaruhi kinerja ENRG pada tahun 2026. Menurutnya, kebijakan pemerintah yang mendukung kedaulatan energi nasional, dengan tujuan meningkatkan produksi migas domestik, akan menjadi sentimen utama. Kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan iklim yang sangat menguntungkan bagi para produsen hulu.
Abida juga menekankan agar investor tetap memperhatikan pergerakan harga komoditas dan nilai tukar rupiah, mengingat sensitivitas laba perusahaan yang signifikan terhadap fluktuasi harga minyak global. “Investor juga perlu memperhatikan pergerakan harga komoditas dan nilai tukar rupiah, mengingat sensitivitas laba perusahaan terhadap fluktuasi harga minyak global yang signifikan,” ucap Abida kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).
Dalam proyeksinya, Abida memperkirakan harga minyak Brent akan bergerak di kisaran US$ 56 hingga US$ 58 per barel pada awal 2026, kondisi ini diakibatkan oleh surplus pasokan global. Selain itu, antusiasme pasar terhadap langkah ekspansi anorganik perusahaan serta potensi pelonggaran suku bunga domestik juga berpotensi menjadi katalis tambahan yang dapat meningkatkan daya tarik investasi di sektor energi pada periode tersebut.
Dari perspektif Sukarno Alatas, Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, ENRG tengah melakukan upaya penataan ulang portofolio yang lebih seimbang. Langkah ini termasuk pelepasan 50% saham di Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) Gebang kepada Japan Petroleum Exploration Co. Ltd (JAPEX), membentuk usaha patungan yang setara. Strategi ini diharapkan memperkuat kapasitas pendanaan dan meningkatkan kualitas pelaksanaan proyek.
Secara bersamaan, ENRG juga mengonsolidasikan kendali penuh atas PSC Kangean, sebuah aset vital yang berkontribusi sekitar 21,8% dari total produksi minyak pada semester pertama 2025 dan sekitar 17,5% dari pendapatan pada sembilan bulan pertama 2025. Konsolidasi ini diharapkan akan menciptakan profil risiko-imbal hasil yang lebih optimal dan seimbang bagi perusahaan.
Tingkatkan Produksi Migas, Simak Rekomendasi Saham Energi Mega Persada (ENRG)
Sukarno juga mengungkapkan bahwa ENRG telah mengalokasikan anggaran belanja modal (capex) sebesar US$ 200 juta untuk mendukung pertumbuhan. Anggaran ini merupakan bagian dari rencana investasi jangka panjang perusahaan senilai US$ 1,4 miliar untuk periode 2025–2035, yang akan difokuskan pada kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan pemeliharaan guna menjaga stabilitas produksi. “ENRG menetapkan anggaran belanja modal (capex) sebesar US$ 200 juta untuk pertumbuhan. ENRG telah mengalokasikan anggaran belanja modal tahun 2026 sebesar US$ 200 juta (sekitar Rp 3,3 triliun) sebagai bagian dari rencana investasinya sebesar US$ 1,4 miliar untuk tahun 2025–2035, yang difokuskan pada eksplorasi, pengembangan, dan pemeliharaan untuk mempertahankan produksi,” jelas Sukarno dalam risetnya pada 17 Desember 2025.
Sementara itu, Juan Harahap, Analis Samuel Sekuritas Indonesia, menyoroti ekspansi besar di Production Sharing Contract (PSC) Bentu, Riau, sebagai kunci penting bagi pertumbuhan jangka panjang perseroan. Kunjungan lapangan baru-baru ini ke Bentu, yang merupakan aset gas terbesar ENRG di Pekanbaru, Riau, memberikan wawasan mendalam mengenai ekspansi operasional yang sedang berjalan dan tujuan pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Selama kunjungan tersebut, tim Samuel Sekuritas meninjau sejumlah fasilitas utama, termasuk Pabrik Gas Segat 1 & 2, lokasi pengeboran pengembangan Sumur North Segat 16, Kompresor Booster di Pabrik Gas Segat, serta Fasilitas Pengolahan Kondensat Dalam North Segat yang saat ini dalam tahap pembangunan. Seluruh komponen ini terintegrasi secara strategis, menjadi pilar utama dalam strategi pertumbuhan ENRG.
Selain proyek-proyek tersebut, ENRG juga aktif mengembangkan beberapa fasilitas lain, seperti Lapangan Central East Napuh (CEN) dan Pabrik Kondensat North Segat. Upaya ini tidak hanya mendukung rencana ekspansi jangka panjang perusahaan, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan produksi jangka pendek secara signifikan, dari 78 MMscfd saat ini menjadi 86–90 MMscfd pada tahun 2026, yang didukung oleh kegiatan pengeboran berkelanjutan.
Juan juga menginformasikan mengenai penemuan gas signifikan yang baru-baru ini diumumkan oleh ENRG. Penemuan ini memiliki Absolute Open Flow (AOF) sebesar 120 MMSCFD yang diperkirakan akan terealisasi pada tahun 2027 di Formasi Tacipi, Walanga Timur (sumur eksplorasi EWL-1), yang berada di dalam Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) Sengkang di Sulawesi Selatan. “ENRG baru-baru ini mengumumkan penemuan gas signifikan dengan Absolute Open Flow (AOF) sebesar 120 MMSCFD pada tahun 2027 di Formasi Tacipi di Walanga Timur (sumur eksplorasi EWL-1), yang terletak di dalam Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) Sengkang di Sulawesi Selatan,” ujar Juan dalam risetnya pada 16 Desember 2025.
Dalam proyeksinya, Juan memperkirakan pendapatan ENRG pada tahun 2025 dapat mencapai US$ 505 juta dengan laba bersih US$ 82 juta. Untuk tahun 2026, proyeksi pendapatan meningkat menjadi US$ 522 juta dengan laba bersih US$ 95 juta. Angka ini menunjukkan pertumbuhan stabil jika dibandingkan dengan pendapatan tahun 2024 sebesar US$ 467 juta dan laba bersih US$ 75 juta.
Berdasarkan analisis tersebut, Sukarno, Juan, dan Abida secara kompak merekomendasikan buy untuk saham ENRG, dengan masing-masing target harga Rp 1.720, Rp 2.300, dan Rp 1.710 per saham. Sementara itu, Indy Naila memberikan rekomendasi speculative buy untuk saham ENRG, dengan target harga yang sedikit lebih tinggi, yaitu Rp 1.800 per saham.
Ringkasan
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat kinerja positif hingga kuartal III-2025, membukukan pendapatan US$361 juta (naik 13% yoy) dan laba bersih US$56 juta (naik 9% yoy). Sentimen geopolitik global, seperti konflik AS-Venezuela dan AS-Iran, dipandang sebagai katalis positif yang berpotensi memicu kenaikan harga migas. Analis menyoroti strategi ENRG dalam meningkatkan produksi melalui pengembangan aset dan dukungan kebijakan pemerintah untuk kedaulatan energi nasional.
ENRG berencana melakukan restrukturisasi portofolio, termasuk pelepasan 50% saham PSC Gebang dan konsolidasi penuh PSC Kangean, serta mengalokasikan belanja modal US$200 juta pada tahun 2026. Perusahaan juga fokus pada ekspansi aset gas di PSC Bentu untuk meningkatkan produksi menjadi 86-90 MMscfd pada 2026, serta penemuan gas signifikan di PSC Sengkang. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang stabil, mayoritas analis merekomendasikan “buy” untuk saham ENRG.