Shoesmart.co.id, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan merasakan dampak positif dari sentimen window dressing menjelang akhir tahun ini. Para analis melihat adanya sejumlah saham menarik yang layak diperhatikan di tengah momentum window dressing yang kerap terjadi.
Sebagai informasi, window dressing adalah strategi yang umum dilakukan oleh manajer investasi untuk mempercantik performa portofolio investasi sebelum laporan kinerja disampaikan kepada para investor.
Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menyampaikan bahwa peluang terjadinya window dressing di akhir tahun ini sangat terbuka lebar. Bahkan, sentimen window dressing tahun ini berpotensi lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh likuiditas global yang longgar, arus modal asing yang mulai masuk ke pasar, serta stimulus fiskal yang digelontorkan oleh pemerintah.
Baca Juga: Manajer Investasi Kocok Ulang Portofolio Incar Cuan Window Dressing
“Aksi window dressing dari investor institusional, aliran dana asing yang masuk ke saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), stimulus fiskal, dan ekspektasi positif di awal tahun 2026, menjadi faktor-faktor pendukung. Kondisi di tahun 2025 ini mendukung pola historis, terutama karena arus likuiditas yang kuat,” jelas Wafi kepada Bisnis pada Senin (17/11/2025).
Menurutnya, secara historis, sentimen window dressing mampu mendongkrak kinerja IHSG. Kenaikan IHSG saat momen window dressing di akhir tahun bisa mencapai 1,5% hingga 3,5%. Pada tahun ini, ia memperkirakan IHSG berpotensi naik 2% hingga 4% apabila aliran dana asing tetap kuat dan sentimen dari The Fed (Bank Sentral AS) positif.
Baca Juga: Strategi Manajer Investasi Sambut Window Dressing di Bursa Saham 2025
Sepanjang tahun 2025 berjalan, IHSG menunjukkan performa yang solid di zona hijau, dengan penguatan sebesar 18,88% secara year to date (ytd) ke level 8.416,89, berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Wafi memproyeksikan IHSG akan tetap berada dalam tren bullish hingga akhir tahun ini, meskipun potensi koreksi sehat tetap ada. Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di level resisten 8.550 dan level support 8.350.
Baca Juga: Laju Kencang Arus Borong Saham PGAS Jelang Window Dressing
Meskipun demikian, ia juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai, seperti kondisi geopolitik global, lonjakan inflasi di Amerika Serikat, potensi penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed, dan penguatan nilai tukar dolar AS.
Wafi menambahkan bahwa saat momentum window dressing, saham-saham perbankan dengan kapitalisasi besar (bank jumbo), sektor consumer cyclical, ritel, telekomunikasi, transportasi, hingga teknologi biasanya akan mengalami kenaikan. Ia juga menyarankan untuk mewaspadai sektor komoditas karena volatilitas harga global yang tinggi.
M. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, juga berpendapat bahwa performa positif IHSG diperkirakan akan berlanjut, terutama pada periode November 2025 hingga Januari 2026, berdasarkan data rata-rata selama 25 tahun terakhir.
“Dengan demikian, peluang terjadinya window dressing di penghujung tahun 2025 dan January effect pada tahun 2026 sangat terbuka lebar,” kata Nafan.
Lebih lanjut, Nafan menjelaskan bahwa IHSG saat ini berada dalam tren bullish, terutama di tengah tren kenaikan yang sedang berlangsung. Dalam skenario yang paling optimis, IHSG bahkan berpotensi mencapai level 10.500 dalam kurun waktu kurang dari satu dekade mendatang, terutama jika berhasil menembus level resisten di 7.911.
Ia menyoroti beberapa saham yang menarik untuk diperhatikan, seperti saham bank jumbo PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI). Sektor lain yang juga menarik adalah saham-saham yang dikenal royal dalam membagikan dividen, seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), hingga PT United Tractors Tbk. (UNTR).
Sementara itu, Angga Septianus, Community & Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), berharap bahwa banyaknya stimulus yang diberikan di dalam negeri, pemotongan suku bunga oleh The Fed, serta pengurangan pengetatan moneter di AS, dapat memicu aliran dana asing lebih lanjut ke pasar Indonesia.
“Window dressing mungkin akan mulai terjadi pada bulan ini, setelah serangkaian rebalancing indeks MSCI. Secara historis, bulan Desember memiliki probabilitas tinggi untuk ditutup di zona hijau seiring dengan aksi window dressing,” ujar Angga.
Selain sektor perbankan, Angga juga memproyeksikan sejumlah saham lain yang berpotensi bersinar saat window dressing, yaitu saham-saham dengan dividend yield yang menjadi basis investasi institusi besar, seperti PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM).
_______
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.