Emiten Komoditas: Daya Tarik Investor Asing di Pasar Saham RI

Shoesmart.co.id, JAKARTA – Di tengah gejolak geopolitik global yang memicu sentimen risk-off di pasar, peluang masuknya dana asing ke pasar saham Indonesia masih terbuka lebar pada paruh pertama 2026. Prospek ini menandai potensi pembalikan tren setelah investor asing mencatat penjualan bersih (net sell) senilai Rp17,34 triliun sepanjang tahun 2025.

Liza Camelia, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, menilai Indonesia memiliki serangkaian katalis kuat untuk menarik minat investor global, khususnya di awal 2026. Salah satu faktor pendorong utama adalah ekspektasi potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed tahun ini. Selain itu, Indonesia juga diuntungkan oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela, yang berimbas pada kenaikan harga komoditas global. Situasi ini sangat relevan mengingat karakter pasar saham Indonesia yang masih commodity-driven.

Tren positif ini diperkuat oleh meredanya tekanan jual pada akhir tahun 2025, yang membuka celah bagi arus dana asing untuk kembali mengalir pada awal 2026. Indikator lainnya adalah kinerja cemerlang IHSG sepanjang 2025, yang berhasil membukukan 24 rekor baru, dengan sebagian besar dicetak pada paruh kedua tahun tersebut. Lebih lanjut, pada awal 2026, IHSG menunjukkan performa yang signifikan dibandingkan emerging market lain di Asia. Berdasarkan data perdagangan terkini, IHSG telah menguat 3,32% secara year-to-date (YtD), menempatkannya di peringkat kedua di antara pasar saham Asia Tenggara.

Kuatnya daya tarik Indonesia bagi investor asing bertumpu pada fundamental ekonomi yang solid, valuasi saham yang relatif menarik, serta dukungan likuiditas dari arus dana domestik. Ini adalah kombinasi faktor yang menjadi magnet bagi modal global, ujar Liza Camelia kepada Bisnis, Rabu (7/1/2026).

Senada dengan pandangan tersebut, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, optimistis terhadap peluang besar masuknya dana asing ke pasar saham Tanah Air di paruh pertama 2026. Keyakinan ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap laju IHSG yang berpotensi mencapai 10.000, didukung oleh kondisi fundamental pasar domestik yang kokoh.

Meskipun ketegangan geopolitik masih membayangi, Abida menegaskan bahwa situasi tersebut tidak berdampak langsung pada arus perdagangan minyak nasional. Oleh karena itu, fokus utama investor yang ingin masuk ke emerging market seperti Indonesia tetap berada pada stabilitas makroekonomi nasional. “Fokus investor saat ini lebih tertuju pada stabilitas makroekonomi domestik dan rotasi sektor daripada isu geopolitik tersebut,” jelas Abida, Rabu (7/1/2026).

Abida juga menyoroti peran krusial keputusan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan sebagai pemicu utama masuknya dana asing. BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan Bank Indonesia akan memangkas suku bunga hingga level 4%. Kebijakan ini, jika terealisasi, akan menjaga likuiditas domestik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor global.

: Unilever (UNVR) Jual Bisnis Teh Sariwangi Rp1,5 Triliun ke Grup Djarum

Upaya Danantara untuk mendatangkan investasi di dalam negeri, diharapkan menjadi katalis strategis yang mampu meningkatkan likuiditas dan kedalaman pasar nasional. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah serta surplus neraca perdagangan juga tetap menjadi daya tarik fundamental yang kuat bagi modal global, tambah Abida.

: Bos Danantara Bakal Serahkan 600 Rumah ke Korban Bencana Sumatra

Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi juga melihat peluang besar masuknya dana asing di paruh pertama 2026, terutama disebabkan oleh valuasi saham-saham domestik yang cenderung murah.

Namun, di balik prospek yang menjanjikan, pemerintah dinilai harus mampu menjaga stabilitas rupiah untuk memastikan kelanjutan aliran dana asing ke Tanah Air. Selain itu, stabilitas politik juga akan menjadi sentimen krusial. “Investor asing sangat sensitif terhadap gejolak kurs. Selama rupiah stabil dan laba big caps tumbuh double digit, asing akan tetap inflow. Stabilitas politik juga membuat risiko investasi di RI semakin rendah,” pungkas Wafi, Rabu (7/1/2026).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Peluang masuknya dana asing ke pasar saham Indonesia di paruh pertama 2026 sangat terbuka, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan kenaikan harga komoditas global. Hal ini didukung kinerja IHSG yang cemerlang sepanjang 2025 dengan 24 rekor baru dan penguatan signifikan di awal 2026. Fundamental ekonomi yang solid, valuasi saham menarik, serta dukungan likuiditas domestik menjadi daya tarik utama bagi investor global.

Analis memproyeksikan IHSG berpotensi mencapai 10.000, dengan fokus investor pada stabilitas makroekonomi domestik daripada isu geopolitik. Potensi pemangkasan suku bunga Bank Indonesia hingga 4% juga diharapkan menjaga likuiditas dan menarik investasi asing. Namun, keberlanjutan arus dana asing sangat bergantung pada stabilitas rupiah, pertumbuhan laba perusahaan besar, serta stabilitas politik di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *