Emas Terus Turun! Harga Spot Kembali Koreksi di Awal Pekan

JAKARTA. Harga emas mengalami koreksi pada awal pekan ini. Pada hari Senin, 2 Februari 2026, pukul 07.55 WIB, harga emas spot berada di level US$ 4.788,79 per ons troi. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 2,15% dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu yang berada di US$ 4.894,23 per ons troi.

Koreksi harga emas ini merupakan kelanjutan dari tren penurunan yang signifikan, bahkan tercatat sebagai penurunan terbesar dalam lebih dari satu dekade terakhir. Aksi jual emas ini terus berlanjut, membebani kinerja logam mulia tersebut.

Sentimen pasar tampaknya dipengaruhi oleh kabar mengenai pencalonan Kevin Warsh oleh Presiden AS Donald Trump sebagai kandidat untuk memimpin The Fed. Hal ini memicu penguatan dolar AS, yang kemudian berdampak negatif pada sentimen investor yang sebelumnya mengharapkan Trump untuk membiarkan mata uang Negeri Paman Sam tersebut melemah.

Kekhawatiran akan inflasi yang lebih terkendali di bawah kepemimpinan Warsh, yang dianggap sebagai “pejuang inflasi” terkuat di antara kandidat lainnya, mendorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kebijakan ini berpotensi mendukung penguatan dolar AS, yang pada gilirannya menekan harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar.

Robert Gottlieb, mantan pedagang logam mulia di JPMorgan Chase & Co., memberikan pandangannya mengenai prospek harga emas. “Penurunan belum berakhir,” tegasnya. Gottlieb menambahkan, “Kita perlu melihat apakah harga akan menemukan titik support. Intinya, perdagangan ini terlalu ramai.”

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok di Awal Pekan (2/2/2026), Pasar Cermati Ketegangan AS-Iran

Ringkasan

Harga emas spot mengalami koreksi di awal pekan, tepatnya pada Senin, 2 Februari 2026, turun sebesar 2,15% menjadi US$ 4.788,79 per ons troi. Penurunan ini merupakan yang terbesar dalam satu dekade terakhir dan dipicu oleh aksi jual yang berkelanjutan.

Sentimen pasar terpengaruh oleh kabar pencalonan Kevin Warsh sebagai kandidat pemimpin The Fed oleh Presiden AS, yang mendorong penguatan dolar AS. Kekhawatiran akan inflasi yang terkendali di bawah Warsh juga memicu ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, yang berpotensi menekan harga emas lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *