Shoesmart.co.id, LONDON – Harga emas mengalami penurunan pada hari Selasa (10 Februari 2026), meskipun masih bertahan di atas level psikologis US$ 5.000 per ons troi. Sentimen kehati-hatian investor menjelang rilis data penting terkait pekerjaan dan inflasi Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Data ini sangat dinantikan karena dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di masa depan.
Pada pukul 05.24 GMT, harga emas spot tercatat turun 0,8% menjadi US$ 5.022,57 per ons. Padahal, pada hari Senin (9 Februari 2026), harga logam mulia ini sempat melonjak 2% seiring dengan melemahnya dolar AS ke level terendah dalam lebih dari sepekan. Perlu dicatat, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di angka US$ 5.594,82 pada tanggal 29 Januari 2026 lalu.
Sementara itu, pergerakan serupa juga terlihat pada harga kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April, yang turun 0,7% menjadi US$ 5.044,80 per ons.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (10/2): Naik Rp 14.000 Jadi Rp 2.954.000 Per Gram
Tidak hanya emas, harga perak spot juga mengalami koreksi. Tercatat, harga perak spot turun 2,8% menjadi US$ 81,08 per ons, setelah sebelumnya sempat melonjak hampir 7% pada sesi perdagangan sebelumnya. Sebagai informasi, harga perak pernah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di angka US$ 121,64 pada tanggal 29 Januari lalu.
“Kita berada dalam situasi di mana emas memiliki bias kenaikan yang melekat secara luas. Pertanyaan utamanya sekarang adalah, seberapa besar ekspektasi kebijakan The Fed dalam jangka pendek akan memengaruhi pergerakan harga,” ujar Ilya Spivak, kepala makro global di Tastylive, seperti dikutip dari Reuters.
Pada hari Selasa, dolar AS mengalami penurunan yang signifikan. Di sisi lain, yen Jepang justru berhasil mempertahankan penguatannya setelah kemenangan telak Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dalam pemilihan.
Lebih lanjut, Spivak menjelaskan bahwa emas ditarik kembali ke level US$ 5.000 dari rentang harga atas dan bawah, sementara perak menunjukkan volatilitas yang lebih besar akibat perdagangan spekulatif.
Saat ini, perhatian investor tertuju pada serangkaian data ekonomi AS yang akan dirilis, dimulai dengan data penjualan ritel pada hari Selasa, laporan penggajian non-pertanian pada hari Rabu, dan data inflasi pada hari Jumat. Pasar saat ini memproyeksikan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun 2026, dengan ekspektasi pemangkasan pertama akan terjadi pada bulan Juni.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas batangan cenderung menunjukkan kinerja yang baik dalam lingkungan suku bunga rendah.
Sebelumnya, penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menyampaikan pada hari Senin bahwa pertumbuhan lapangan kerja di AS kemungkinan akan melambat dalam beberapa bulan mendatang.
“Untuk emas, US$ 5.000 adalah level support yang krusial, sementara untuk perak, level US$ 80 menjadi acuan. Namun, dalam perdagangan intraday, kedua logam ini diperkirakan akan bergerak dalam kisaran yang luas, dengan sedikit kecenderungan negatif karena aksi ambil untung,” jelas Jigar Trivedi, analis riset senior di IndusInd Securities.
Baca Juga: Harga Sempat Tertekan, Begini Proyeksi Harga Emas ke Depan
Ringkasan
Harga emas spot mengalami penurunan karena investor berhati-hati menantikan data pekerjaan dan inflasi AS yang akan mempengaruhi kebijakan suku bunga The Fed. Pada pukul 05.24 GMT, harga emas spot turun 0,8% menjadi US$ 5.022,57 per ons, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April turun 0,7% menjadi US$ 5.044,80 per ons.
Selain emas, harga perak spot juga terkoreksi 2,8% menjadi US$ 81,08 per ons. Pasar saat ini menantikan data penjualan ritel, laporan penggajian non-pertanian, dan data inflasi AS. Level US$ 5.000 menjadi support krusial untuk emas, sementara US$ 80 menjadi acuan untuk perak.