Emas Rekor Tertinggi! Investor Panik Borong Aset Aman?

Shoesmart.co.id, NEW YORK – Pasar logam mulia global kembali memanas pada Senin (12/1), ketika harga emas meroket ke rekor tertinggi menembus US$4.600 per ons. Tak hanya emas, perak pun ikut mencatatkan puncak harga baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lonjakan dramatis ini mencerminkan meningkatnya kecenderungan investor untuk memburu aset aman di tengah gejolak dan ketidakpastian politik yang semakin intens di Amerika Serikat.

Kenaikan fantastis ini sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap penyelidikan pidana yang sedang digulirkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Situasi ini menambah lapisan ketegangan yang signifikan dalam lanskap ekonomi dan politik AS, memicu sentimen penghindaran risiko di kalangan investor global.

Harga emas spot terpantau melonjak 1,7% menjadi US$4.584,91 per ons troi pada pukul 21.30 WIB. Bahkan, sebelumnya harga emas sempat menyentuh level rekor tertinggi di angka US$4.620. Senada, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga tidak ketinggalan menguat tajam sebesar 2,1%, mencapai level US$4.596,70 per ons troi.

Wall Street Loyo, Trump Tekan ke Fed dan Pembatasan Bunga Kartu Kredit Guncang Pasar

Michael Haigh, Kepala Riset Komoditas Global di Societe Generale, menyoroti dampak langsung dari situasi ini. “Kondisi ketidakpastian yang tinggi berdampak langsung pada pasar emas, dan hampir setiap minggu muncul sumber ketidakpastian baru,” jelas Haigh. Ia menambahkan bahwa faktor-faktor fundamental yang menopang reli harga emas diperkirakan tidak akan berbalik arah dalam waktu dekat, mengindikasikan potensi kelanjutan tren kenaikan.

Performa emas sepanjang tahun lalu memang telah mengukir sejarah, melonjak lebih dari 64%, menjadikannya kinerja tahunan terbaik sejak tahun 1979. Sementara itu, perak berhasil mencatatkan kenaikan tahunan paling impresif sepanjang sejarah, dengan lonjakan luar biasa mencapai 146,8%.

Ketegangan antara pemerintahan Trump dan The Fed semakin memuncak, dengan laporan yang menyebutkan adanya peningkatan tekanan terhadap bank sentral. Ancaman dakwaan terhadap Jerome Powell terkait pernyataannya mengenai proyek renovasi gedung The Fed menjadi sorotan utama. Powell sendiri menanggapi tudingan ini sebagai dalih untuk mengambil alih kendali atas kebijakan pemangkasan suku bunga yang sangat diinginkan oleh Presiden Trump.

Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed akan segera berakhir pada bulan Mei mendatang, menambah spekulasi di pasar. Media Fox News bahkan melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan Rick Rieder dari BlackRock sebagai kandidat potensial untuk menggantikan Powell, memicu diskusi luas mengenai arah kebijakan moneter AS di masa depan.

The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan 27–28 Januari, menyusul pemangkasan suku bunga sebesar 75 basis poin sepanjang tahun lalu. Meskipun demikian, pasar masih memperhitungkan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga tambahan pada tahun ini. Prospek ini secara signifikan meningkatkan minat investor terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas, yang cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.

Selain dinamika internal AS, ketegangan geopolitik global juga tetap membayangi. Presiden Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan respons terhadap tindakan keras mematikan terhadap demonstrasi di Iran. Hal ini menyusul keputusan sebelumnya untuk mencopot Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan gagasan kontroversial untuk mengakuisisi Greenland, semua ini menunjukkan iklim ketidakpastian global yang semakin kompleks.

Di pasar perak, logam mulia ini juga tak kalah bersinar, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$85,69 per ons, sebelum kemudian menguat 5,1% ke level US$84 per ons pada penutupan perdagangan.

Asing Net Buy Saat IHSG Terkoreksi,Cermati Saham yang Banyak Diborong, Senin (12/1)

Ned Naylor-Leyland, Manajer Dana Emas dan Perak di Jupiter Asset Management, menjelaskan fenomena ini. “Emas dan perak biasanya bergerak seiring, namun ketika aliran dana masuk ke perak, pergerakannya bisa jauh lebih kencang karena pasar perak lebih kecil dan lebih sensitif terhadap arus keluar-masuk dana,” ujarnya, menyoroti volatilitas inheren pada pasar perak.

Sementara itu, platinum spot juga menunjukkan penguatan positif, naik 1,8% ke US$2.314,71 per ons. Palladium pun tidak ketinggalan, menguat 1,9% menjadi US$1.850,82 per ons, menegaskan tren kenaikan yang luas di seluruh sektor logam mulia.

Ringkasan

Harga emas global melonjak ke rekor tertinggi menembus US$4.600 per ons pada Senin (12/1), diikuti perak yang juga mencapai puncak baru. Kenaikan dramatis ini mencerminkan meningkatnya kecenderungan investor untuk memburu aset aman di tengah gejolak politik dan ketidakpastian di Amerika Serikat. Kekhawatiran pasar terhadap penyelidikan pidana pemerintahan Donald Trump terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menjadi pemicu utama. Emas spot sempat menyentuh US$4.620, sementara kontrak berjangka emas AS menguat tajam.

Ketegangan antara pemerintahan Trump dan The Fed terkait kebijakan suku bunga menambah sentimen penghindaran risiko di kalangan investor. Prospek pemangkasan suku bunga tambahan pada tahun ini diperkirakan akan semakin meningkatkan minat terhadap emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Ditambah dengan ketidakpastian geopolitik global, faktor-faktor fundamental ini diperkirakan akan terus menopang reli harga emas dan perak, yang telah menunjukkan kinerja tahunan luar biasa sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *