KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia terus berfluktuasi dalam beberapa waktu terakhir, menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi para investor.
Menurut data dari Trading Economics, pada pekan lalu, tepatnya Senin (23 Maret 2026), harga emas sempat menyentuh titik terendahnya di US$ 4.201 per ons troi. Namun, setelah penurunan tersebut, harga emas menunjukkan resiliensi dan mulai berangsur-angsur pulih.
Pada perdagangan hari Selasa (31 Maret 2026) pukul 12.45 WIB, harga emas tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,37%, mencapai US$ 4.772 per ons troi. Meskipun demikian, secara bulanan, emas masih membukukan koreksi sebesar 14,33%, menunjukkan dinamika pasar yang kompleks.
Wahyu Laksono, seorang analis komoditas sekaligus founder Traderindo.com, berpendapat bahwa pergerakan harga emas saat ini merupakan cerminan dari tarik-ulur antara kebijakan moneter Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik global. Kedua faktor ini saling memengaruhi, menciptakan volatilitas yang kita saksikan di pasar emas.
Fitch Revisi Naik Harga Komoditas 2026, Tembaga hingga Emas Diproyeksi Menguat
Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan bahwa sinyal pelonggaran kebijakan dari bank sentral, ditambah dengan meredanya tensi geopolitik dalam jangka pendek, menjadi katalis positif bagi penguatan harga emas sejak akhir pekan lalu. Sentimen ini memberikan angin segar bagi investor emas.
“Pernyataan terbaru dari para pejabat bank sentral yang mulai mengisyaratkan pelonggaran memberikan sinyal kuat bahwa siklus kenaikan suku bunga telah mencapai puncaknya. Hal ini tentu saja menguntungkan aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas,” ungkap Wahyu kepada Kontan, Selasa (31/3).
Dari sudut pandang teknikal, Wahyu melihat kenaikan 1,37% dalam satu hari sebagai indikasi awal dari tren bullish, sebuah sinyal yang menggembirakan bagi para pelaku pasar.
“Apabila harga emas mampu bertahan di atas level support kritis yang terbentuk selama penurunan pada periode 18-23 Maret, maka tren kenaikan ini bukan sekadar dead cat bounce (kenaikan sesaat), melainkan merupakan awal dari fase reli yang baru,” jelas Wahyu, menekankan pentingnya level support tersebut.
Ia juga menyoroti peningkatan volume perdagangan saat harga naik sebagai indikasi adanya akumulasi beli dari investor besar. Aktivitas ini menunjukkan kepercayaan terhadap potensi kenaikan harga emas di masa depan.
Namun, Wahyu mengingatkan bahwa arah pergerakan emas masih sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah. Jika ketegangan di kawasan tersebut mereda, emas berpotensi kembali menguat sebagai aset safe haven yang dicari saat kondisi tidak pasti.
Senada dengan Wahyu, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, berpendapat bahwa ekspektasi inflasi yang tetap tinggi akibat konflik di Selat Hormuz juga turut memengaruhi pergerakan harga emas. Inflasi yang tinggi cenderung meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang.
Indofood (INDF) Catat Laba Bersih Naik 23,64% Jadi Rp 10,68 Triliun pada Tahun 2025
“Kondisi ini mendorong narasi bahwa bank sentral global, khususnya Federal Reserve, akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan semula,” ujar Sutopo, menyoroti dampak kebijakan moneter terhadap daya tarik emas.
Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga berpotensi memicu aksi ambil untung (profit taking) oleh investor institusi besar. Para investor perlu mewaspadai potensi koreksi akibat aksi ini.
Ringkasan
Harga emas mengalami kenaikan sebesar 1,37% menjadi US$ 4.772 per ons troi setelah sempat menyentuh titik terendah. Analis melihat kenaikan ini sebagai indikasi awal tren bullish jika harga emas mampu bertahan di atas level support kritis. Kenaikan harga emas dipengaruhi oleh sinyal pelonggaran kebijakan moneter dan potensi meredanya ketegangan geopolitik.
Namun, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik, terutama di Timur Tengah, serta ekspektasi inflasi. Kebijakan moneter yang ketat dapat meningkatkan opportunity cost memegang emas dan memicu aksi ambil untung, sehingga investor perlu mewaspadai potensi koreksi.