Emas Perak Turun? Analis Ungkap Peluang Reli Harga!

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar logam mulia, khususnya emas dan perak, mengalami koreksi harga dalam sepekan terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih tinggi.

Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (20 Maret 2026) pukul 12.15 WIB, harga emas berada di level US$ 4.722 per ons troi, menunjukkan penurunan sebesar 5,91% dalam sepekan. Perak juga mengalami penurunan signifikan, dengan harga berada di US$ 73,76 per ons troi, terkoreksi hingga 8,36% dalam periode yang sama.

Sutopo Widodo, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, menjelaskan bahwa pelemahan harga emas dan perak ini merupakan hasil dari kombinasi faktor teknikal dan sentimen makroekonomi global. Lantas, apa yang menyebabkan penurunan harga logam mulia ini?

Harga Perak Terkoreksi di Tengah Tensi Geopolitik, Ini Prospek Selanjutnya

Menurut Sutopo, lonjakan harga logam mulia sebelumnya lebih didorong oleh reaksi spontan pasar terhadap peningkatan risiko geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi. Investor mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

“Namun, ketika harga minyak mulai terkoreksi dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat cenderung stabil, daya tarik aset safe haven seperti emas dan perak ikut mereda,” jelas Sutopo kepada Kontan, Selasa (17 Maret 2026). Dengan kata lain, berkurangnya kekhawatiran akan inflasi energi membuat investor mengurangi kepemilikan aset aman.

Selain itu, aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor setelah mengalami kenaikan tajam sebelumnya juga menjadi faktor pendorong penurunan harga dalam jangka pendek. Akibatnya, pergerakan mingguan emas dan perak menunjukkan tren bearish, meskipun fundamental jangka panjangnya tetap kuat.

Namun, Sutopo menekankan bahwa pelemahan ini tidak serta merta mengindikasikan berakhirnya reli harga logam mulia akibat konflik geopolitik. Ketegangan yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran masih menjadi katalis utama yang berpotensi memicu kenaikan harga.

Pasar saat ini cenderung menunggu perkembangan eskalasi lanjutan atau dampak nyata dari ketegangan tersebut terhadap inflasi global. Jika harga energi kembali melonjak atau terjadi gangguan pada jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz, harga emas berpotensi kembali menguat, karena kekhawatiran inflasi dan gangguan rantai pasokan akan kembali meningkat.

Di sisi lain, perak memiliki keunggulan tambahan dari sisi fundamental. Proyeksi defisit pasokan serta tingginya permintaan dari industri, terutama sektor elektronik, dapat menopang harga perak di masa depan. Dengan kata lain, permintaan industri yang kuat dapat mengimbangi tekanan dari sentimen makroekonomi.

“Ke depan, tren harga kemungkinan akan lebih fluktuatif, dengan fase konsolidasi sebelum melanjutkan reli berikutnya. Ini sangat bergantung pada arah geopolitik dan kebijakan moneter global,” imbuhnya. Pergerakan harga emas dan perak akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan kebijakan suku bunga dari bank sentral utama.

Untuk proyeksi semester I 2026, Sutopo memperkirakan harga emas akan bergerak di kisaran US$ 4.800 hingga US$ 5.300 per ons troi. Kecenderungan menguat akan terjadi jika tekanan inflasi energi kembali meningkat dan memengaruhi kebijakan bank sentral, yang pada akhirnya akan mendorong investor kembali ke aset safe haven.

Sementara itu, harga perak diproyeksikan berada di rentang US$ 75 hingga US$ 85 per ons troi, ditopang oleh defisit pasokan serta permintaan industri yang tetap kuat. Kombinasi faktor-faktor ini diharapkan dapat menjaga harga perak tetap stabil dan berpotensi naik.

Harga Emas Spot Anjlok Lebih dari 4%, Tren Penurunan Masih Akan Berlanjut

Ringkasan

Harga emas dan perak mengalami penurunan signifikan dalam sepekan terakhir, masing-masing sebesar 5,91% dan 8,36%. Penurunan ini disebabkan oleh meredanya kekhawatiran inflasi energi dan aksi ambil untung investor setelah kenaikan harga sebelumnya. Meskipun demikian, fundamental jangka panjang logam mulia tetap kuat, terutama karena ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.

Sutopo Widodo dari HFX International Berjangka memproyeksikan harga emas dan perak akan fluktuatif, dengan potensi reli berikutnya bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Untuk semester I 2026, emas diperkirakan bergerak di kisaran US$ 4.800 – US$ 5.300 per ons troi, sementara perak diproyeksikan berada di rentang US$ 75 – US$ 85 per ons troi, didukung oleh defisit pasokan dan permintaan industri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *