Shoesmart.co.id – JAKARTA. Setelah mengalami lonjakan harga yang signifikan sejak akhir 2025 hingga Januari 2026, laju kenaikan harga logam mulia kini menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Meskipun demikian, prospek jangka menengah hingga panjang tetap dinilai positif, didukung oleh fundamental global yang kuat.
Wahyu Laksono, Founder Traderindo.com, berpendapat bahwa perlambatan harga ini bukanlah pertanda berakhirnya tren kenaikan logam mulia. Ia menekankan bahwa secara fundamental, belum ada perubahan mendasar yang dapat membalikkan arah tren dalam jangka menengah maupun panjang.
“Secara umum, belum ada banyak perubahan fundamental yang memengaruhi prospek jangka menengah, apalagi jangka panjang. Emas dan perak masih berada dalam tren bullish,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).
Faktor-Faktor Penekan Harga dalam Jangka Pendek
Wahyu menjelaskan bahwa koreksi harga yang terjadi pada bulan Februari disebabkan oleh beberapa faktor utama.
Pertama, data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) pada Januari 2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Hal ini kembali memunculkan spekulasi mengenai kebijakan suku bunga tinggi yang akan berlangsung lebih lama (higher for longer) dari The Federal Reserve.
Harga Emas Antam Naik Rp 50.000 Menjadi Rp 2.954.000 per Gram Sabtu (14/2)
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas sangat rentan terhadap perubahan kebijakan suku bunga. Ketika ekspektasi penurunan suku bunga meredup, daya tarik emas dalam jangka pendek cenderung berkurang karena investor mencari instrumen investasi yang menawarkan bunga.
Kedua, faktor teknikal juga berperan. Setelah berulang kali mencetak rekor tertinggi (all time high atau ATH), sejumlah indikator teknikal menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought), yang kemudian memicu aksi ambil untung oleh para pelaku pasar.
“Menurut saya, ini lebih merupakan fase distribusi dan profit taking yang sehat,” jelasnya.
Katalis Fundamental Tetap Kuat Menopang Harga
Di tengah tekanan jangka pendek yang ada, Wahyu menegaskan bahwa katalis utama yang mendukung harga logam mulia masih tetap terjaga. Sentimen dedolarisasi yang dilakukan oleh negara-negara BRICS serta pembelian agresif yang dilakukan oleh bank sentral, terutama dari China dan kawasan Timur Tengah, tetap menjadi fondasi kuat yang menopang harga emas dan perak.
Untuk jangka pendek, yakni Februari–Maret 2026, Wahyu memperkirakan harga akan bergerak sideways dengan pola konsolidasi. Harga emas diperkirakan akan bergerak dalam rentang US$ 4.500–US$ 5.800 per ons troi, sementara harga perak berpotensi stabil di kisaran US$ 60–US$ 125 per ons troi.
Memasuki kuartal II 2026, arah pergerakan harga akan sangat bergantung pada dinamika inflasi global dan perkembangan geopolitik. Jika inflasi tetap tinggi atau terjadi peningkatan konflik di Eropa Timur maupun Timur Tengah, emas berpeluang untuk kembali menguji level psikologis US$ 6.000 per ons troi. Sementara itu, perak berpotensi menembus US$ 130 per ons troi.
Permintaan Industri Topang Kenaikan Perak
Wahyu menambahkan bahwa perak memiliki fundamental yang unik dan berpotensi mendorong kenaikan harga yang lebih agresif dibandingkan emas. Permintaan industri, terutama dari sektor panel surya dan kendaraan listrik, diperkirakan akan mengalami defisit pasokan selama enam tahun berturut-turut hingga 2026.
Harga Emas dan Perak Sideways Usai Naik Tajam, Prospek Reli Jangka Menengah Terbuka
“Hal ini membuat potensi rebound perak bisa lebih tajam dibandingkan emas dalam persentase,” imbuhnya.
Dengan demikian, meskipun reli harga logam mulia yang spektakuler telah mereda dalam jangka pendek, prospek jangka menengah masih dinilai positif. Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan kebijakan moneter AS, dinamika geopolitik global, serta tren permintaan industri sebagai faktor utama yang akan menentukan arah harga selanjutnya.
Wahyu memperkirakan bahwa pada periode April–Juni 2026, harga emas berpotensi bergerak di rentang US$ 4.000–US$ 6.000 per ons troi. Sementara itu, harga perak diproyeksikan berada di kisaran US$ 50–US$ 130 per ons troi.
Ringkasan
Setelah lonjakan signifikan, harga logam mulia menunjukkan perlambatan, namun prospek jangka menengah hingga panjang tetap positif didukung fundamental global. Menurut Wahyu Laksono dari Traderindo.com, koreksi harga disebabkan data tenaga kerja AS yang kuat dan kondisi jenuh beli setelah mencetak rekor tertinggi, memicu aksi ambil untung. Meski demikian, sentimen dedolarisasi dan pembelian agresif oleh bank sentral tetap menjadi fondasi kuat penopang harga.
Untuk jangka pendek, harga diperkirakan sideways dengan pola konsolidasi. Memasuki kuartal II 2026, arah pergerakan harga akan bergantung pada inflasi global dan geopolitik. Perak memiliki fundamental unik dengan permintaan industri yang tinggi, berpotensi mendorong kenaikan harga lebih agresif dibandingkan emas karena defisit pasokan yang diperkirakan berlanjut hingga 2026.