Emas Naik! Prospek & Rekomendasi Saham Emiten Emas Terbaru

Shoesmart.co.id JAKARTA. Pasar komoditas global kembali dihebohkan oleh lonjakan signifikan pada harga emas spot yang berhasil menembus level psikologis baru, yakni US$ 4.600 per ons troi. Rekor tertinggi sepanjang masa ini tercatat pada Senin pagi, 12 Januari, untuk pertama kalinya.

Melansir laporan Reuters, harga emas spot melonjak 1,5% mencapai US$ 4.478,79 per ons troi pada pukul 01:27 GMT. Angka ini dicapai setelah logam mulia tersebut sempat menyentuh puncaknya di US$ 4.600,33 per ons troi, menandakan momentum bullish yang kuat di tengah ketidakpastian pasar global.

Senada dengan pergerakan emas dunia, harga emas batangan bersertifikat Antam yang diproduksi oleh Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mencatatkan rekor tertinggi baru pada Senin, 12 Januari 2026. Lonjakan harga ini sontak menarik perhatian para investor di pasar domestik.

Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Selasa (13/1/2026)

Berdasarkan informasi dari situs resmi Logam Mulia, harga emas Antam pecahan satu gram kini dibanderol Rp 2.631.000. Angka ini menunjukkan kenaikan substansial sebesar Rp 29.000 dibandingkan harga penutupan pada Sabtu, 10 Januari 2026, yang berada di level Rp 2.602.000 per gram.

Efek domino penguatan harga emas global turut dirasakan oleh saham-saham emiten emas di dalam negeri. Pada penutupan perdagangan Senin, 9 Januari 2026, mayoritas saham produsen emas kompak bergerak menghijau, mencerminkan sentimen positif yang melingkupi sektor ini. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memimpin kenaikan dengan lonjakan harga fantastis 16,39% menuju level Rp 2.770 per saham.

Kenaikan ini diikuti oleh emiten lain seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang menguat 7,04% ke level Rp 2.890 per saham, serta PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang mendaki 5,6% mencapai posisi Rp 1.790 per saham. Emiten-emiten besar lainnya juga tak ketinggalan dalam euforia ini.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tercatat naik 5,51% ke level Rp 3.830, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 2,44% ke Rp 1.260 per saham. Tak hanya itu, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) meningkat 1,67% ke Rp 610 per saham, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik tipis 0,93% ke Rp 5.400 per saham.

Theodorus Melvin, seorang Investment Analyst dari Stockbit, menyoroti potensi kenaikan harga emas sebagai sentimen positif jangka pendek bagi emiten produsen emas seperti BRMS, ARCI, EMAS, MDKA, PSAB, dan ANTM. “Ini berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (ASP) dan margin laba perseroan,” ujar Theodorus dalam risetnya pada Senin, 12 Januari 2026.

Prospek emiten emas juga dinilai cukup positif oleh Reza Diofanda, Analis BRI Danareksa Sekuritas. Ia melihat tren kenaikan harga emas global didukung oleh faktor fundamental yang kuat, memberikan pijakan kokoh bagi kinerja perusahaan pertambangan emas.

IHSG Berpeluang Rebound Terbatas pada Selasa (13/1), Ini Saham Rekomendasi Analis

Faktor-faktor pendorong kenaikan harga emas global semakin jelas terlihat dari melemahnya data ekonomi Amerika Serikat. Khususnya, data nonfarm payrolls yang hanya tumbuh sekitar 50 ribu, memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) akan memulai pemangkasan suku bunga pada tahun ini. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah secara historis sangat kondusif bagi harga emas, yang dikenal sebagai aset non-yielding.

Menariknya, meskipun dolar AS relatif masih bertahan kuat, harga emas tetap mampu mencetak rekor baru. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan emas saat ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, melainkan juga oleh meningkatnya kebutuhan akan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan.

“Ditambah lagi, ketegangan geopolitik seperti isu Venezuela dan Iran, serta pembelian emas yang konsisten oleh bank sentral China selama 14 bulan berturut-turut, menjadi penopang struktural bagi harga emas ke depan,” jelas Reza kepada Kontan pada Senin, 9 Januari 2026, menekankan beragamnya katalis pendorong harga emas.

Senada dengan pandangan tersebut, Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), mengamini bahwa prospek emiten emas masih sangat menarik. Hal ini didorong oleh tren harga emas global yang terus menguat dan mencetak rekor baru. Ketegangan geopolitik global, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, menjadi pendorong utama investor untuk terus menempatkan dana pada aset safe haven seperti emas. Selain itu, di pasar domestik, harga emas juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Ketika rupiah melemah, harga emas domestik cenderung ikut naik, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi kinerja emiten emas,” terang Hari kepada Kontan, Senin, 9 Januari 2026, menyoroti interaksi antara faktor eksternal dan internal.

IHSG Berpeluang Lanjut Terkoreksi pada Selasa (13/1), Ini Rekomendasi Sahamnya

Lebih lanjut, Hari berpandangan bahwa saham produsen emas masih memiliki prospek positif karena kenaikan harga emas secara langsung berdampak pada peningkatan pendapatan dan margin keuntungan perusahaan. Emiten dengan biaya produksi yang efisien, struktur keuangan yang sehat, serta cadangan emas yang memadai diprediksi akan mencatat kinerja yang lebih unggul dibandingkan pesaingnya. Selama harga emas global mampu bertahan di level tinggi, saham-saham produsen emas diperkirakan akan tetap menarik dan berpotensi melanjutkan tren penguatan, meskipun dengan volatilitas yang perlu diantisipasi.

Harry Su, Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, juga berpendapat bahwa kenaikan saham emiten emas merupakan imbas positif dari kenaikan komoditas emas. Hal ini didasari ekspektasi bahwa laba bersih emiten emas diperkirakan akan melanjutkan tren positifnya. “Emiten-emiten emas Indonesia diperkirakan akan terus melanjutkan tren positifnya, didorong harga emas yang masih dalam uptrend mengikuti ekspektasi pemangkasan suku bunga pada tahun depan dan ketegangan geopolitik internasional,” pungkas Harry kepada Kontan pada Senin, 9 Januari 2026.

Investor Perlu Cermati Risiko

Meskipun prospek emas tampak cerah, Hari mengingatkan investor untuk tetap mencermati risiko jangka pendek. Potensi aksi ambil untung setelah reli harga emas yang cukup agresif menjadi salah satu kekhawatiran utama. Selain itu, sifat dinamis dan sulit diprediksi dari ketidakpastian geopolitik yang menjadi pendorong utama saat ini juga menjadi faktor risiko yang patut diwaspadai.

Reza juga menambahkan beberapa risiko yang perlu dicermati, meskipun outlook emas secara keseluruhan masih positif. Pertama, risiko perubahan ekspektasi kebijakan moneter global, terutama jika penurunan suku bunga The Fed tertunda atau tidak seagresif yang diperkirakan pasar. Kedua, potensi penguatan dolar AS yang lebih signifikan juga dapat memberikan tekanan pada harga emas dalam jangka pendek. Tak hanya itu, reli harga emas yang cukup tajam berpotensi memicu aksi ambil untung (profit taking), sehingga volatilitas harga tetap perlu diantisipasi.

Untuk saham emiten, risiko operasional dan fluktuasi biaya produksi juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, Reza menyarankan investor untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin dalam setiap keputusan investasi mereka.

Rekomendasi Saham

Berdasarkan analisis teknikal, Reza melihat saham ANTM masih memiliki potensi penguatan jangka pendek, seiring dengan tren emas yang solid. Dalam jangka pendek, ANTM berpeluang bergerak menuju area resistance Rp 3.920 hingga Rp 4.100, asalkan mampu bertahan di atas area support kunci. Selain faktor harga emas, ANTM juga memiliki katalis jangka menengah berupa potensi masuk ke dalam indeks MSCI pada tahun 2026, yang diharapkan dapat mendorong aliran dana asing dan meningkatkan likuiditas saham.

Sementara itu, Harry Su merekomendasikan untuk membeli saham ANTM dan BRMS. Ia memasang target harga masing-masing Rp 4.600 untuk ANTM dan Rp 1.300 per saham untuk BRMS, menunjukkan keyakinan akan potensi pertumbuhan kedua emiten tersebut di tengah kondisi pasar emas yang menguntungkan.

Ringkasan

Harga emas spot global menembus rekor US$ 4.600 per ons troi pada 12 Januari, diikuti kenaikan harga emas Antam menjadi Rp 2.631.000 per gram. Lonjakan ini mendorong mayoritas saham emiten emas di dalam negeri bergerak positif, termasuk HRTA, MDKA, ANTM, dan BRMS. Para analis menilai kenaikan harga emas berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata dan margin laba emiten.

Kenaikan ini didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, ketidakpastian geopolitik, dan pembelian emas oleh bank sentral. Namun, investor disarankan mewaspadai risiko seperti aksi ambil untung dan perubahan kebijakan moneter. Rekomendasi saham mencakup ANTM dengan target Rp 4.600 dan BRMS dengan target Rp 1.300.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *