Shoesmart.co.id LONDON. Harga emas spot menunjukkan kenaikan di tengah kondisi likuiditas pasar yang menipis pada hari Rabu (18/2/2026). Pemulihan ini terjadi setelah harga emas sempat menyentuh level terendah dalam satu minggu pada sesi sebelumnya.
Saat ini, pasar global tengah menanti publikasi risalah rapat Federal Reserve (The Fed) edisi Januari. Investor berharap risalah ini akan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depannya.
Pada hari Rabu (18/2/2026), harga emas spot tercatat naik 1,1% menjadi US$ 4.931,61 per ons pada pukul 06.27 GMT. Sebelumnya, pada hari Selasa, harga emas sempat mengalami penurunan lebih dari 2%. Sementara itu, harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga mengalami kenaikan sebesar 0,9% menjadi US$ 4.950,20.
“Harga emas mendapatkan momentum di atas US$ 4.850 hari ini. Ini adalah ‘rebound teknis’ setelah sebelumnya mengalami penurunan akibat meredanya ketegangan geopolitik,” ujar Ajay Kedia, direktur di Kedia Commodities yang berbasis di Mumbai, seperti dikutip dari Reuters.
OJK, BEI, dan KSEI Dorong Penyesuaian Free Float dan Keterbukaan Data, Ini Langkahnya
Selain risalah The Fed, investor juga akan mencermati laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS untuk bulan Desember yang akan dirilis pada hari Jumat. Laporan ini akan memberikan indikasi lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga sepanjang tahun ini.
Berdasarkan FedWatch Tool dari CME, pasar saat ini memproyeksikan The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada bulan Juni.
Perlu diketahui bahwa emas batangan, yang tidak memberikan imbal hasil, cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah.
Presiden Chicago Fed, Austin Goolsbee, menyatakan bahwa The Fed berpotensi menyetujui “beberapa” pemangkasan suku bunga lagi tahun ini jika inflasi terus menurun menuju target 2%.
Senada dengan Goolsbee, Gubernur Fed Michael Barr juga mengindikasikan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut mungkin saja terjadi di masa depan, mengingat risiko berkelanjutan terhadap prospek inflasi Amerika Serikat (AS).
Di sisi geopolitik, Iran dan AS dilaporkan telah mencapai kesepahaman pada hari Selasa mengenai “prinsip-prinsip panduan” untuk pembicaraan nuklir. Kendati demikian, kesepahaman ini belum menjamin bahwa kesepakatan akan segera tercapai.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mendesak Kyiv untuk segera mencapai kesepakatan. Desakan ini muncul seiring dengan berlangsungnya pembicaraan damai antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi oleh AS di Jenewa.
“Saya memperkirakan reli (harga emas) akan tetap terbatas dan para pembeli akan memanfaatkan aksi jual. Kondisi ini diperkirakan akan menjaga harga emas tetap berada di kisaran $4.700-$5.100 dalam jangka pendek,” ungkap Matt Simpson, analis senior di StoneX.
Di sisi lain, harga perak spot mengalami kenaikan signifikan sebesar 2,9% menjadi US$ 75,58 per ons, setelah sebelumnya anjlok lebih dari 5% pada hari Selasa.
Aneka Tambang (ANTM) Resmi Berstatus Persero Penuh! Ini Dampak Hukumnya
Ringkasan
Harga emas spot mengalami kenaikan setelah sempat menyentuh level terendah dalam satu minggu. Investor kini menantikan publikasi risalah rapat Federal Reserve (The Fed) edisi Januari untuk mendapatkan petunjuk mengenai kebijakan suku bunga di masa depan. Pasar juga mencermati laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang akan dirilis pada hari Jumat.
Para pejabat The Fed, termasuk Presiden Chicago Fed Austin Goolsbee dan Gubernur Fed Michael Barr, mengindikasikan potensi pemangkasan suku bunga lebih lanjut jika inflasi terus menurun. Selain faktor ekonomi, kondisi geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan harga emas. Analis memperkirakan harga emas akan tetap berada di kisaran $4.700-$5.100 dalam jangka pendek.