Shoesmart.co.id – NEW YORK. Harga emas mencatatkan lonjakan signifikan dan mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terakhir pada hari Senin (23/2/2026). Pemicunya adalah meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven, didorong oleh ketidakpastian yang menyelimuti kebijakan tarif yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, serta teka-teki arah kebijakan suku bunga AS.
Pada penutupan sesi perdagangan di AS, harga emas spot mengalami kenaikan sekitar 2%, bertengger di angka US$ 5.206,39 per ons. Bahkan, sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir Januari, menunjukkan betapa kuatnya sentimen positif terhadap logam mulia ini.
Tidak hanya emas spot, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga menunjukkan performa yang solid, menguat 2,8% dan mencapai US$5.225,60 per ons. Kenaikan ini semakin mengukuhkan daya tarik emas di tengah gejolak pasar.
Lonjakan harga emas ini terjadi tidak lama setelah Presiden Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor. Pengumuman ini menyusul putusan Mahkamah Agung (MA) AS yang membatalkan kebijakan tarif yang sebelumnya diterapkan oleh Trump, menambah kompleksitas situasi ekonomi.
Harga Emas Meroket Lebih dari 2%: Dua Faktor Utama Pendorong Kenaikan Harga Emas
Pada akhir pekan lalu, Trump mengumumkan kenaikan tarif sementara untuk semua impor AS, dari 10% menjadi 15%. Langkah ini merupakan batas maksimum yang diizinkan oleh undang-undang dan langsung memicu kekhawatiran baru di pasar global. Dampak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian utama para pelaku pasar.
“Ketidakpastian ekonomi dan politik global masih berada di level yang tinggi. Dengan aktivitas pasar yang kembali normal setelah libur panjang Imlek, peluang emas untuk semakin menguat menjadi semakin besar,” ujar Jeffrey Christian, mitra pengelola CPM Group, memberikan analisisnya.
Dari sisi makroekonomi, data terbaru menunjukkan bahwa inflasi inti AS mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pada bulan Desember. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi justru melambat secara signifikan pada kuartal IV. Kombinasi kedua faktor ini berpotensi mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini, secara tradisional, cenderung menahan laju kenaikan harga emas. Akan tetapi, ketegangan geopolitik dan risiko kebijakan saat ini dinilai cukup kuat untuk menopang harga emas.
Emas Sentuh Level Tertinggi dalam 3 Pekan: Kebijakan Tarif AS Memicu Aksi Safe Haven
Selain itu, pasar juga menantikan pembukaan kembali pasar China daratan pada hari Selasa setelah libur Tahun Baru Imlek. China merupakan konsumen emas utama dunia, dan pembukaan kembali pasar diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan permintaan terhadap emas.
Di luar pergerakan harga emas, perak spot juga mengalami lonjakan sebesar 3,2% dan mencapai US$87,23 per ons, level tertinggi dalam lebih dari dua minggu. Sementara itu, platinum mengalami sedikit pelemahan sebesar 0,7% menjadi US$2.140,75 per ons, dan paladium naik tipis 0,1% menjadi US$1.750,53 per ons.
Secara keseluruhan, reli harga emas ini mencerminkan peningkatan sikap defensif di kalangan investor. Kebijakan tarif AS dan arah kebijakan suku bunga global akan menjadi faktor penentu utama pergerakan harga emas dalam waktu dekat. Investor akan terus memantau perkembangan kedua faktor ini untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
Ringkasan
Harga emas melonjak dan mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terakhir akibat meningkatnya minat investor pada aset safe haven. Pemicunya adalah ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Trump dan teka-teki arah kebijakan suku bunga AS. Harga emas spot naik sekitar 2% menjadi US$ 5.206,39 per ons.
Kenaikan harga emas dipicu pengumuman rencana kenaikan tarif impor oleh Presiden Trump. Kekhawatiran pasar global terhadap dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi meningkat. Pasar juga menantikan pembukaan kembali pasar China setelah libur Imlek, yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap emas.