JAKARTA – Manajemen PT Kapuas Prima Coal Tbk. (ZINC) angkat bicara terkait fluktuasi harga saham mereka yang cukup signifikan. Lonjakan dan penurunan tajam harga saham emiten tambang seng dan timbal ini menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait volatilitas transaksi saham ZINC, Direktur Kapuas Prima Coal, Hendra Susanto William, menjelaskan bahwa perusahaan tidak memiliki informasi atau fakta material yang belum diungkapkan kepada publik.
“Perseroan tidak memiliki informasi atau fakta material sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 31/POJK.04/2015 yang belum kami laporkan kepada Bursa Efek Indonesia maupun Otoritas Jasa Keuangan,” tegas Hendra dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/1/2026).
Lebih lanjut, Hendra juga menekankan bahwa pihaknya tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material lain yang berpotensi memengaruhi nilai efek atau keputusan investasi para pemodal, sesuai dengan Peraturan Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi BEI.
“Sampai dengan saat ini, kami juga belum memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi dalam waktu dekat,” imbuhnya, mencoba menenangkan para investor.
Hendra meyakinkan bahwa Kapuas Prima Coal selalu patuh dalam menyampaikan seluruh informasi penting kepada BEI dan OJK sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini dilakukan sebagai wujud transparansi dan komitmen terhadap tata kelola perusahaan yang baik.
Sebagai informasi, harga saham ZINC pada perdagangan Jumat (23/1/2026) tercatat stagnan. Dibuka pada harga Rp53 per lembar, saham ZINC ditutup pada level yang sama, mencatatkan kenaikan 8,16% dari penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp49 per lembar.
Secara kumulatif, sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD) 2026, saham ZINC telah melonjak 65,63%. Bahkan, dalam enam bulan terakhir, kenaikannya mencapai 341,67%, dengan kapitalisasi pasar saat ini sebesar Rp1,34 triliun.
Dalam rentang waktu antara 30 Januari 2025 hingga 23 Januari 2026, harga tertinggi saham ZINC tercatat berada di level Rp60 per lembar pada 20 Januari 2026. Sementara itu, level terendahnya menyentuh angka Rp10 per lembar pada 30 Juli 2025.
Volatilitas tinggi pada saham ZINC mulai terlihat pada 6 Januari 2026, ketika harga berada di level Rp33 per saham. Sejak saat itu, harga terus merangkak naik hingga mencapai puncaknya di Rp60 per saham pada 20 Januari 2026.
Sebelumnya, Kapuas Prima Coal dalam laporan eksplorasi ZINC yang disampaikan ke BEI pada 9 Januari 2026, mengungkapkan bahwa perseroan telah menemukan indikasi mineralisasi Au (emas) di beberapa zona, terutama di area Gojo yang merupakan bagian dari izin usaha pertambangan (IUP) ZINC seluas 5.569 hektare. Penemuan ini tentu menjadi angin segar bagi prospek perusahaan.
Untuk aktivitas eksplorasi di prospek Gojo dan Karim, Kalimantan Tengah, perusahaan telah menginvestasikan dana sebesar Rp421 juta. Investasi ini menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengembangkan potensi sumber daya yang dimilikinya.
Sebagai tindak lanjut dari hasil eksplorasi tersebut, perseroan berencana untuk melakukan kegiatan mapping detail lanjutan, test pit, serta relogging hasil pemboran KPC 2100. Langkah ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai potensi mineralisasi di wilayah tersebut dengan menggunakan konsep model endapan (deposit model) dan penamaan yang baru.
Sebagai informasi tambahan, Kapuas Prima Coal adalah perusahaan tambang yang didirikan pada tahun 2005. Awalnya, bijih besi menjadi komoditas utama yang diproduksi oleh perusahaan. Namun, sejak tahun 2014, perseroan beralih fokus ke produksi Galena (PbS) seiring dengan penurunan harga pasar bijih besi.
Galena (PbS) kemudian diolah menjadi konsentrat Timbal (Pb) dan Zinc (Zn) serta Perak (Ag). Perusahaan mengklaim menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan teknologi pengolahan terbaik untuk mendapatkan hasil atau kadar yang maksimal.
Wilayah penambangan yang telah mendapatkan izin mencakup area seluas 5.569 hektare, dengan potensi deposit Galena (PbS) yang diklaim masih sangat besar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Manajemen PT Kapuas Prima Coal Tbk. (ZINC) menanggapi fluktuasi harga sahamnya yang signifikan, menegaskan bahwa perusahaan tidak memiliki informasi atau fakta material yang belum diungkapkan kepada publik. Direktur Hendra Susanto William menyatakan perusahaan patuh dalam menyampaikan informasi penting kepada BEI dan OJK serta belum memiliki rencana tindakan korporasi dalam waktu dekat. Harga saham ZINC menunjukkan volatilitas tinggi dan telah melonjak sepanjang tahun 2026.
Sebelumnya, ZINC mengumumkan penemuan indikasi mineralisasi emas (Au) di area Gojo, bagian dari IUP perusahaan, dan telah menginvestasikan dana untuk eksplorasi. Perusahaan berencana melakukan kegiatan lanjutan seperti mapping detail, test pit, dan relogging hasil pemboran. Kapuas Prima Coal, yang didirikan tahun 2005, awalnya berfokus pada bijih besi, namun sejak 2014 beralih ke produksi Galena (PbS) yang diolah menjadi konsentrat Timbal (Pb), Zinc (Zn), dan Perak (Ag).