JAKARTA – Harga emas mencatat sejarah baru sepanjang tahun 2025. Logam mulia ini berhasil membukukan imbal hasil tahunan fantastis hingga 67%, dengan harganya melesat menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada level US$ 4.449 per ons troi di Desember 2025.
Tren kenaikan ini berlanjut pada tahun 2026. Terbukti, pada Selasa (13/1/2026) pukul 10.05 WIB, harga emas spot telah melonjak ke level US$ 4.595 per ons troi. Angka ini merepresentasikan kenaikan signifikan sebesar 34% secara bulanan dan bahkan melampaui 187% secara tahunan (Year-on-Year/YoY).
Performa luar biasa ini semakin mengukuhkan posisi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) utama di tengah gejolak dan ketidakpastian global yang terus meningkat.
Menariknya, Tim Riset World Gold Council (WGC) dalam laporan terbarunya, “Gold Market Commentary”, mengungkapkan bahwa rekor harga emas pada 2025 tidak hanya tercatat dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga berhasil menembus puncak di seluruh mata uang utama dunia.
Namun demikian, besaran imbal hasil tahunan di setiap mata uang menunjukkan variasi, yang sebagian besar dipengaruhi oleh volatilitas nilai tukar yang terjadi sepanjang tahun tersebut.
Secara historis, dolar AS sering kali dianggap sebagai aset yang diuntungkan saat terjadi peningkatan risiko geopolitik. Akan tetapi, sepanjang tahun 2025, emas justru tampil dominan, semakin mengukuhkan posisinya sebagai safe haven pilihan utama para investor global.
Berbagai faktor, mulai dari peningkatan ketegangan geopolitik, ketidakpastian arah kebijakan ekonomi, hingga dinamika geopolitik yang terus berlanjut di beberapa kawasan—termasuk di Venezuela—secara kolektif mendorong lonjakan permintaan emas secara signifikan.
Tim Riset WGC menegaskan, lonjakan harga emas ini bukan semata-mata didorong oleh sentimen jangka pendek. Justru, permintaan struktural yang kokoh, terutama dari bank sentral di berbagai negara, telah menjadi salah satu faktor fundamental yang menopang kuat reli logam mulia ini.
Selain itu, peran krusial emas dalam diversifikasi portofolio investasi di tengah kondisi makroekonomi yang penuh volatilitas dan ketidakpastian, turut memperkuat daya tarik logam mulia ini di mata investor.
“Faktor-faktor struktural ini memberikan fondasi yang sangat solid bagi ketahanan emas, tidak hanya selama tahun 2025, tetapi juga diperkirakan akan terus berlanjut memasuki tahun 2026,” terang Tim Riset WGC, seperti dikutip dari riset yang diterima Kontan pada Senin (12/1/2026).
Menjelang tahun 2026, pasar emas diproyeksikan masih akan bergejolak, dipengaruhi oleh serangkaian faktor kebijakan global. Di antaranya, putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif perdagangan, serta potensi penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan menjadi sentimen utama yang terus-menerus dicermati oleh para pelaku pasar.
Tak hanya itu, dinamika di pasar logam mulia lainnya juga turut berperan dalam membentuk prospek emas. Seiring meredanya tekanan pasokan pada perak dan platinum, emas diproyeksikan akan semakin menegaskan dominasinya sebagai aset lindung nilai utama di kancah investasi global.
Dengan likuiditas pasar emas yang lebih dalam dan fungsinya yang tak tergantikan sebagai instrumen diversifikasi yang efektif, emas menawarkan keunggulan kompetitif yang signifikan di tengah tingkat ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dengan demikian, kombinasi antara dukungan struktural yang kuat dan sentimen global yang belum sepenuhnya mereda, membuat Tim Riset WGC meyakini bahwa emas masih memiliki fondasi yang kokoh untuk tetap menjadi pilihan utama para investor dalam menjaga nilai aset dan stabilitas portofolio mereka sepanjang tahun 2026.
“Dalam jangka pendek, setiap kenaikan 100 poin pada Indeks Risiko Geopolitik dapat memicu kenaikan harga emas sekitar 2,5%,” tambah juru bicara WGC.
Sementara itu, dampak jangka panjang dari peristiwa-peristiwa tersebut akan sangat bergantung pada durasi berlangsungnya dan bagaimana pengaruhnya terhadap faktor-faktor makroekonomi utama, seperti inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai dolar AS.
Ringkasan
Harga emas mencatat rekor tertinggi sepanjang 2025, mencapai US$ 4.449 per ons troi, dan terus melonjak hingga US$ 4.595 per ons troi pada Januari 2026 dengan imbal hasil tahunan signifikan. Kenaikan fantastis ini menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai utama di tengah gejolak dan ketidakpastian global yang meningkat. Tim Riset World Gold Council (WGC) mengungkapkan bahwa rekor harga ini didukung oleh permintaan struktural yang kokoh, terutama dari bank sentral, bukan hanya sentimen jangka pendek.
Fondasi kuat emas ini diproyeksikan akan terus berlanjut hingga tahun 2026, didorong oleh perannya dalam diversifikasi portofolio di tengah kondisi makroekonomi yang volatil. Meskipun pasar akan dipengaruhi oleh faktor kebijakan global, likuiditas yang dalam dan fungsi diversifikasinya menjadikan emas pilihan utama investor. WGC meyakini emas akan tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga nilai aset dan stabilitas portofolio.