Shoesmart.co.id, JAKARTA – Setelah mengalami penurunan selama enam hari berturut-turut, harga emas di pasar spot menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Menurut data dari Bloomberg pada Kamis (19/3/2026), harga emas spot berada di level US$4.834,93 per troy ounce pada pukul 06.34 WIB. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 0,36% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.
Sebelumnya, pada hari Rabu, harga emas spot mengalami penurunan tajam sebesar 3,2% di New York. Logam mulia lainnya, seperti perak, juga mengalami penurunan signifikan, yakni 4,3% menjadi US$75,90 per troy ounce. Platinum dan paladium turut merasakan dampak negatif ini.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga Acuan dalam FOMC Maret 2026
Tekanan terhadap harga emas ini dipicu oleh pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, yang mengindikasikan bahwa kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi secara keseluruhan. Hal ini berdampak pada harga emas karena nilainya ditetapkan dalam mata uang Dolar AS, dan biasanya emas berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga yang rendah.
Sebelumnya, harga emas batangan juga sempat anjlok hingga 3,4%, mencapai titik terendah dalam lebih dari sebulan. Pemicunya adalah melonjaknya harga energi dan laporan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Kombinasi kedua faktor ini memicu spekulasi bahwa The Fed kemungkinan akan menunda pemotongan suku bunga tahun ini.
Baca Juga: Rumah Tapak dan Penyewaan Mall jadi Penopang Utama Bisnis APLN pada 2025
Selain faktor ekonomi, perkembangan terkini dalam konflik di Timur Tengah juga turut memicu aksi jual pada berbagai aset berisiko, termasuk saham. Kondisi ini mendorong investor untuk menjual kepemilikan emas mereka dan beralih ke uang tunai.
“Kondisi ini tampaknya merupakan reposisi lintas aset. Harga minyak bereaksi terhadap risiko pasokan, sementara penurunan harga emas bisa jadi merupakan aksi ambil untung dan likuidasi yang lebih luas, di samping aksi jual aset berisiko dan penguatan Dolar AS serta imbal hasil riil,” ujar Ewa Manthey, ahli strategi komoditas di ING Bank.
Baca Juga: Arab Saudi Mulai Pulihkan Ekspor Minyak via Jalur Pintas Hormuz
Meskipun harga emas batangan mengalami tekanan dalam beberapa minggu terakhir akibat kekhawatiran suku bunga yang akan tetap tinggi, secara keseluruhan, harga emas masih mencatatkan kenaikan lebih dari 10% sepanjang tahun ini. Kenaikan ini didorong oleh risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap independensi The Fed, yang kemudian mendukung permintaan emas.
Lebih lanjut, kekhawatiran mengenai stagflasi, yaitu kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang tinggi, dapat mendukung harga emas batangan dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan investor cenderung mencari alternatif penyimpanan nilai yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ringkasan
Setelah mengalami penurunan selama enam hari, harga emas spot menunjukkan pemulihan dengan kenaikan 0,36% menjadi US$4.834,93 per troy ounce pada Kamis (19/3/2026). Sebelumnya, harga emas tertekan akibat pernyataan The Fed mengenai potensi kenaikan inflasi yang dipicu harga energi, serta laporan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, memicu spekulasi penundaan pemotongan suku bunga.
Tekanan jual juga dipicu oleh perkembangan konflik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke uang tunai. Meskipun tertekan akibat kekhawatiran suku bunga tinggi, harga emas masih naik lebih dari 10% sepanjang tahun ini, didorong oleh risiko geopolitik dan kekhawatiran independensi The Fed. Kekhawatiran stagflasi juga berpotensi mendukung harga emas dalam jangka panjang.