Ekonomi Kepri 2025: Industri & Investasi Jadi Andalan?

Shoesmart.co.id, BATAM — Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan kinerja yang membanggakan sepanjang tahun 2025. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Kepri terus berada dalam tren positif dan menempati posisi teratas di wilayah Sumatera.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto Purubaskoro, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi Kepri pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 7,89% (year on year/yoy). Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan 7,48% (yoy).

Secara kumulatif, perekonomian Kepri sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 6,94% (cumulative to cumulative/ctc). Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi Sumatera secara keseluruhan yang hanya sebesar 4,81% pada periode yang sama. “Kinerja yang solid ini mencerminkan optimisme dan ketahanan ekonomi Kepri dalam menghadapi berbagai tantangan global,” ujar Rony.

Lebih lanjut, Rony menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Kepri terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, konstruksi, serta perdagangan. Keempat sektor ini mencatatkan pertumbuhan masing-masing sebesar 7,52%, 16,01%, 5,30%, dan 7,55% sepanjang tahun 2025, memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah. “Industri pengolahan dan pertambangan masih menjadi mesin utama penggerak ekonomi Kepri,” tegasnya.

Meskipun mengalami sedikit perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya, industri pengolahan tetap menunjukkan pertumbuhan yang tinggi. Hal ini sejalan dengan dinamika kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat. Sementara itu, sektor pertambangan mengalami pertumbuhan yang kuat seiring dengan dimulainya operasional lapangan migas sejak Mei 2025.

Sektor konstruksi juga turut memberikan kontribusi positif berkat kelanjutan pembangunan proyek strategis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI). Selain itu, sektor perdagangan tumbuh positif seiring dengan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Dari sisi stabilitas keuangan, intermediasi perbankan di Kepri tetap terjaga dengan baik. Pada Desember 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,22% (yoy), sementara penyaluran kredit meningkat signifikan sebesar 25,92% (yoy). Pembiayaan kepada korporasi dan UMKM juga mencatatkan pertumbuhan yang menggembirakan, masing-masing sebesar 37,00% dan 13,21%.

Pertumbuhan ekonomi Kepri juga didorong oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 6,81% (ctc) dengan kontribusi sebesar 2,81%. Hal ini sejalan dengan iklim investasi yang kondusif serta kemudahan perizinan yang difasilitasi melalui penerbitan PP Nomor 25 dan PP Nomor 28 Tahun 2025.

Konsumsi rumah tangga juga turut berkontribusi dengan pertumbuhan sebesar 3,84 persen (ctc) dan kontribusi sebesar 1,51%, didukung oleh tingkat keyakinan konsumen yang tetap optimistis. Kinerja ekspor neto juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat sebesar 20,52% (ctc) seiring dengan permintaan yang stabil terhadap komoditas unggulan Kepri.

Bank Indonesia terus berupaya mendorong digitalisasi sistem pembayaran guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Hingga Desember 2025, volume transaksi QRIS di Kepri mencapai 99,44 juta transaksi, melonjak sebesar 192,69% (yoy), dengan nilai transaksi sebesar Rp11,54 triliun atau meningkat 129,60% (yoy). Transaksi QRIS lintas negara dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura juga menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi di Kepri tetap terkendali. Sepanjang tahun 2025, inflasi tercatat sebesar 3,47% (yoy), masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga emas perhiasan, cabai merah, angkutan udara, cabai rawit, dan daging ayam.

Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan bahwa perekonomian Kepri akan terus tumbuh positif, didukung oleh keberlanjutan pengembangan KEK, kawasan industri, serta Proyek Strategis Nasional (PSN). “Kami juga memperkirakan inflasi akan tetap terjaga melalui penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah dengan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif,” pungkas Rony.

Ringkasan

Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan pertumbuhan positif pada tahun 2025, melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera. Sektor industri pengolahan dan pertambangan menjadi pendorong utama, didukung oleh sektor konstruksi dan perdagangan yang juga mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Pertumbuhan ekonomi Kepri didukung oleh investasi yang kondusif, digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS yang melonjak, dan terjaganya stabilitas keuangan dengan pertumbuhan DPK dan penyaluran kredit. Meskipun inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas harga dan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kepri yang berkelanjutan melalui pengembangan KEK, kawasan industri, dan PSN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *