NEW YORK – Perdagangan saham di Wall Street pada Rabu (7/1/2026) berakhir dengan performa yang beragam. Indeks-indeks utama mengalami tekanan signifikan dari penurunan saham-saham sektor keuangan seperti JPMorgan dan Blackstone. Di sisi lain, antusiasme investor terhadap kecerdasan buatan (AI) kembali menyala, mengangkat saham Nvidia dan Alphabet, sehingga memberikan dorongan positif bagi indeks Nasdaq.
Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan 0,34% ke level 6.920,93, sementara Dow Jones Industrial Average tergelincir 0,94% menjadi 48.996,08. Berbeda dengan keduanya, indeks Nasdaq berhasil menguat tipis 0,16% dan ditutup pada level 23.584,28. Aktivitas perdagangan di bursa AS cukup tinggi, dengan volume mencapai 17,4 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 16,2 miliar saham.
Performa lesu pada S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average ini terjadi tak lama setelah kedua indeks sempat mencapai rekor tertinggi intraday di sesi pembukaan. Sentimen negatif sebagian besar dipicu oleh serangkaian pernyataan Presiden Donald Trump yang berdampak langsung pada beberapa sektor kunci. Salah satunya adalah rencana larangan bagi investor Wall Street untuk membeli rumah keluarga tunggal, sebuah langkah yang disebutnya bertujuan menekan harga properti.
Kebijakan tersebut segera memukul saham perusahaan akuisisi perumahan. Saham Blackstone dan Apollo Global Management anjlok lebih dari 5%, menambah tekanan pada indeks keuangan S&P 500 yang secara keseluruhan turun 1,4%. American Homes 4 Rent juga merasakan dampaknya dengan penurunan 4,3%. Namun, menariknya, saham platform real estat Zillow justru menguat lebih dari 2%, menunjukkan adanya pergeseran minat investor.
Selain itu, saham raksasa perbankan JPMorgan Chase merosot 2,3% menyusul penurunan peringkat oleh Wolfe Research dari “outperform” menjadi “peer perform”. Sektor pertahanan pun tidak luput dari gejolak, setelah Trump menyatakan tidak akan mengizinkan dividen atau buyback saham bagi perusahaan pertahanan sebelum mereka memperbaiki isu produksi peralatan militer. Meskipun tidak menyebutkan nama spesifik, pernyataan ini menyeret turun saham Northrop Grumman sebesar 5,5% dan Lockheed Martin sebesar 4,8%.
Di tengah tekanan yang melanda sektor keuangan dan pertahanan, gairah investor terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali menyala. Saham Nvidia dan Microsoft masing-masing menguat sekitar 1%, sementara Alphabet melonjak lebih dari 2%. Penguatan ini menandakan kembalinya kepercayaan investor pada saham-saham AI, menepis kekhawatiran sebelumnya mengenai valuasi yang terlalu tinggi.
Antusiasme terhadap AI semakin diperkuat oleh kabar rencana penggalangan dana miliaran dolar oleh Anthropic, perusahaan pembuat chatbot Claude. Proyeksi valuasi mencapai $350 miliar akan menempatkan perusahaan swasta ini di posisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan mayoritas korporasi publik, termasuk Advanced Micro Devices, Chevron, dan Wells Fargo, menggarisbawahi potensi besar di sektor ini.
Menanggapi tren ini, Jake Dollarhide, Kepala Eksekutif Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma, berujar, “Para investor memasuki tahun 2026 dengan strategi yang mirip dengan tahun lalu: Beli saham teknologi dan lupakan saja. Rumor bahwa perdagangan AI sudah berakhir ternyata tidak benar.” Pernyataan ini menegaskan bahwa strategi investasi jangka panjang pada teknologi, khususnya AI, masih menjadi daya tarik utama.
Menjelang musim laporan keuangan kuartal keempat yang akan tiba dalam beberapa minggu ke depan, valuasi di Wall Street masih tergolong mahal. Indeks S&P 500 diperdagangkan sekitar 22 kali lipat dari perkiraan pendapatan, sedikit turun dari 23 kali lipat pada November, namun tetap di atas rata-rata lima tahun indeks yang berada pada angka 19, demikian data dari LSEG.
Meskipun data terbaru pasar tenaga kerja telah kembali dirilis setelah terganggu oleh penutupan pemerintah AS, informasi ini belum banyak mengubah ekspektasi pasar terkait potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Fokus investor kini beralih ke laporan penggajian pemerintah yang sangat dinanti pada hari Jumat, yang diperkirakan akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter.
Selain faktor ekonomi domestik, para investor juga mencermati perkembangan geopolitik yang dinamis. Amerika Serikat baru-baru ini menyita sebuah kapal tanker berbendera Rusia yang memiliki kaitan dengan Venezuela. Langkah ini merupakan bagian dari strategi agresif pemerintahan Trump untuk mengontrol aliran minyak di benua Amerika dan menekan pemerintah sosialis Caracas agar berpihak padanya. Seiring dengan itu, Gedung Putih juga mengonfirmasi pada Selasa bahwa Presiden Trump tengah mengeksplorasi opsi akuisisi Greenland, termasuk potensi pemanfaatan militer AS di wilayah tersebut, menambah kompleksitas lanskap global yang diamati pasar.
Ringkasan
Perdagangan saham di Wall Street pada 7 Januari 2026 berakhir beragam, dengan indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan. Tekanan utama datang dari pernyataan Presiden Donald Trump mengenai rencana larangan investor Wall Street membeli rumah keluarga tunggal, yang memukul saham properti seperti Blackstone dan Apollo Global Management. Selain itu, sektor pertahanan juga tertekan setelah Trump mengancam pembatasan dividen bagi perusahaan yang belum memperbaiki produksi militer, menyebabkan saham seperti Northrop Grumman anjlok.
Di sisi lain, indeks Nasdaq berhasil menguat tipis, didorong oleh kembalinya gairah investor terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI). Saham Nvidia, Microsoft, dan Alphabet melonjak, didukung oleh rumor penggalangan dana besar Anthropic yang berpotensi memiliki valuasi tinggi. Meskipun valuasi pasar secara keseluruhan masih mahal menjelang laporan keuangan kuartal keempat, investor tetap fokus pada saham teknologi dan AI. Pasar kini juga menanti laporan penggajian pemerintah untuk melihat arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.