Efek Reformasi Galangan Kapal: Saham-Saham Ini Langsung Terbang!

JAKARTA – Harapan baru bagi industri galangan kapal dan pelayaran nasional bersemi seiring dengan dorongan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, untuk merealisasikan regulasi dan insentif yang pro-kebangkitan. Langkah ini diyakini akan memacu kinerja emiten galangan kapal dan pelayaran di Bursa Efek Indonesia.

Ike Widiawati, Head of Ritel Research Sinarmas Sekuritas, melihat kebijakan ini sebagai angin segar yang akan berdampak langsung pada emiten galangan kapal. Efisiensi biaya produksi dan peningkatan kapasitas pengerjaan proyek menjadi buah manis yang dapat dipetik. “Insentif bea masuk akan menekan cost structure, sementara akses pembiayaan jangka panjang memperkuat arus kas dan ekspansi bisnis,” jelasnya.

Lebih lanjut, dampak positifnya tidak hanya berhenti di sektor galangan kapal. Emiten pelayaran pun turut merasakan manfaatnya. Perawatan armada kapal dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien, meminimalkan downtime, sehingga utilisasi kapal meningkat secara signifikan.

Sejumlah saham emiten yang terkait dengan sektor ini menunjukkan tren bullish dan berpotensi besar terdampak sentimen positif tersebut. Sebut saja PT Soechi Lines Tbk. (SOCI), PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR), PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL), PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk. (BBRM), hingga PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. (HUMI).

“Saham SOCI, SMDR, BULL, LEAD, BBRM, HUMI memiliki tren bullish,” tegas Ike pada hari Kamis (12/2/2026).

Di sisi lain, PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) memandang Indonesia sebagai pasar potensial dengan kebutuhan besar akan kapal berkualitas. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang tepat, industri galangan kapal domestik akan kesulitan bersaing dengan kompetitor dari luar negeri.

Menanggapi upaya pemerintah, Direktur SMDR, Bani Mulia, mengungkapkan bahwa persoalan utama yang selama ini menghantui industri adalah ketergantungan pada komponen impor. Banyak suku cadang kapal yang belum mampu diproduksi di dalam negeri, sehingga harus didatangkan dari luar dengan beban bea masuk yang tinggi. Akibatnya, biaya produksi kapal di galangan domestik menjadi lebih mahal dibandingkan membangun kapal di luar negeri.

Padahal, dengan kebijakan yang tepat, termasuk penyesuaian bea masuk komponen dan dukungan terhadap industri pendukung, Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi kapal berkualitas dengan biaya yang lebih kompetitif.

Sebelumnya, pemerintah telah mengumumkan langkah-langkah strategis untuk membangkitkan industri galangan kapal nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa gencar mendorong regulasi dan insentif yang bertujuan memangkas biaya pembangunan kapal di dalam negeri, sekaligus meningkatkan permintaan dari BUMN dan sektor swasta.

Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, Hashim S. Djojohadikusumo, menyampaikan bahwa pemerintah berencana memberikan berbagai kemudahan dan insentif untuk mendorong pembangunan kapal di dalam negeri. Ini termasuk kemudahan impor komponen tertentu serta insentif bagi pemesanan kapal baru di galangan domestik.

“Menteri Keuangan [Purbaya Yudhi Sadewa] akan memberikan kemudahan-kemudahan kepada galangan kapal dan pelayaran yang dapat membangun kapal-kapal di dalam negeri. Dengan itu ada kemudahan-kemudahan. Kemudahan berupa apa? Biar masuk bisa jadi 0% untuk banyak komponen-komponen. Dan untuk kapal-kapal, kapal baru yang membeli yang pesan juga nanti akan dapat insentif dan sebagainya. Kemudahan,” ungkap Hashim.

Sebagai informasi tambahan, industri pelayaran mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,8% pada tahun lalu, melampaui pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Sektor pelayaran dan galangan kapal juga telah memberikan kontribusi lebih dari 7,5% terhadap PDB.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Dorongan pemerintah untuk merealisasikan regulasi dan insentif pro-kebangkitan industri galangan kapal dan pelayaran nasional disambut positif. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja emiten galangan kapal dan pelayaran di Bursa Efek Indonesia, dengan menekan biaya produksi melalui insentif bea masuk dan memperkuat arus kas melalui akses pembiayaan jangka panjang. Emiten pelayaran juga diuntungkan dengan perawatan armada yang lebih cepat dan efisien.

Beberapa saham emiten yang berpotensi terdampak sentimen positif ini antara lain SOCI, SMDR, BULL, BBRM, dan HUMI yang menunjukkan tren *bullish*. Pemerintah berencana memberikan kemudahan impor komponen serta insentif bagi pemesanan kapal baru di galangan domestik. Sebelumnya, industri pelayaran mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,8% dan memberikan kontribusi lebih dari 7,5% terhadap PDB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *