Shoesmart.co.id – JAKARTA. Indeks Dolar AS (DXY) mengalami penurunan signifikan sepanjang Februari 2026. Kondisi ini membuka peluang emas bagi mata uang Asia untuk melanjutkan penguatannya dalam jangka pendek.
Berdasarkan data dari Trading Economics pada hari Minggu pukul 09.40 WIB, Indeks Dolar AS (DXY) berada di level 96,9, mencerminkan penurunan sebesar 1,4% secara year-to-date (Ytd).
Beberapa pasangan mata uang yang menunjukkan pergerakan signifikan antara lain USD/SGD yang melemah 1,8% Ytd menjadi 1,26, USD/KRW yang turun tipis 0,01% ke 1.440, dan USD/JPY yang terkoreksi 2,6% menjadi 152,7.
Wahyu Laksono, Founder Traderindo.com, menjelaskan bahwa dinamika pergerakan mata uang Asia saat ini didorong oleh kombinasi sentimen global dan kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat (AS).
Bursa Saham Hari Ini (16/2) Buka atau Libur? Cek Jadwal BEI & Saran untuk Investor
Dari sisi eksternal, data ekonomi AS yang menunjukkan hasil beragam menjadi faktor utama. Walaupun pertumbuhan payroll melampaui ekspektasi, revisi signifikan ke bawah pada data tahun sebelumnya mengindikasikan adanya perlambatan dalam tren penyerapan tenaga kerja.
Situasi ini semakin memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga pada tahun 2026.
Selain itu, normalisasi kebijakan setelah partial government shutdown di AS juga turut mempengaruhi sentimen pasar. Tertundanya rilis data penting seperti inflasi dan tenaga kerja membuat pelaku pasar menantikan kepastian arah kebijakan moneter.
“Pulihnya sentimen risk-on global turut menekan permintaan dolar AS sebagai aset safe haven dan mendorong penguatan mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Asia,” jelas Wahyu kepada Kontan, Jumat (13/2/2026).
Di luar faktor yang memengaruhi Indeks Dolar AS (DXY), pergerakan mata uang Asia juga ditopang oleh dinamika regional yang terjadi.
Di Jepang, kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi memicu ekspektasi kebijakan fiskal yang lebih ekspansif. Hal ini meningkatkan volatilitas Yen (JPY), yang seringkali menjadi barometer bagi pergerakan mata uang Asia lainnya.
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar secara saksama mencermati langkah-langkah yang diambil oleh bank sentral regional, seperti Bank Indonesia (BI) dan Bank of Korea (BoK), dalam menjaga selisih imbal hasil (yield spread) agar tetap menarik bagi investor asing.
Ramalan Feng Shui 2026 Sambut Imlek 2577: Sektor Bisnis Ini Siap Melejit Cuan
Selain itu, revisi aturan free float pada indeks global seperti MSCI juga memicu penyesuaian arus modal pada saham-saham blue chip Asia.
Berdasarkan analisis teknikal dan konsensus pasar, Wahyu Laksono memproyeksikan bahwa sejumlah pasangan mata uang utama Asia masih berpotensi untuk menguat hingga akhir kuartal I-2026.
Secara spesifik, Wahyu memprediksi USD/JPY akan berada di kisaran 151,00 – 150,00 pada akhir kuartal I-2026. Sementara itu, USD/SGD diperkirakan akan menuju level 1,25, dan USD/KRW diproyeksikan bergerak ke arah 1.360.
Ringkasan
Indeks Dolar AS (DXY) mengalami penurunan signifikan di Februari 2026, membuka peluang bagi mata uang Asia untuk menguat. Penurunan DXY dipicu oleh data ekonomi AS yang beragam dan spekulasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Pulihnya sentimen risk-on global juga menekan permintaan dolar AS sebagai aset safe haven.
Pergerakan mata uang Asia juga didukung oleh dinamika regional, seperti ekspektasi kebijakan fiskal ekspansif di Jepang dan langkah bank sentral regional dalam menjaga selisih imbal hasil. Berdasarkan analisis teknikal, USD/JPY diproyeksikan berada di kisaran 151,00 – 150,00, USD/SGD menuju 1,25, dan USD/KRW ke arah 1.360 pada akhir kuartal I-2026.