DVLA: Ramadan Jadi Momentum Rebound Saham? Cek Analisisnya!

Shoesmart.co.id, JAKARTA – Prospek PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) di tahun 2026 diperkirakan masih akan moderat. Hal ini terjadi di tengah koreksi harga saham, meskipun kinerja laba perusahaan tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Analis berpendapat bahwa tekanan pada saham DVLA lebih disebabkan oleh faktor likuiditas dan kondisi sektor secara umum, bukan karena fundamental perusahaan yang melemah.

Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menjelaskan bahwa koreksi saham DVLA sepanjang tahun 2025 lebih disebabkan oleh rendahnya likuiditas saham lapis kedua. Akibatnya, saham DVLA kurang diminati investor, meskipun laba bersih per September 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 11,5% secara tahunan.

“Ini lebih karena likuiditas saham yang rendah, bukan karena fundamental perusahaan yang bermasalah. Investor cenderung menghindari saham lapis kedua meskipun labanya tumbuh, sehingga valuasi DVLA saat ini masih undervalued,” ungkap Wafi kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Dari sisi bisnis, segmen consumer health masih menjadi pendorong utama pertumbuhan DVLA. Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan preventif pascapandemi dinilai mampu mempertahankan permintaan terhadap vitamin dan suplemen tetap solid.

Darya Varia (DVLA) Bagi Dividen Interim Rp 45,92 Miliar, Cek Jadwalnya Sekarang

Consumer health tetap menjadi mesin pertumbuhan utama, terutama vitamin dan suplemen yang volumenya masih terjaga,” imbuhnya.

Selain itu, momentum musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri juga dipandang sebagai katalis jangka pendek bagi kinerja DVLA. Secara historis, permintaan produk multivitamin cenderung meningkat signifikan pada periode tersebut.

“Ramadan biasanya menjadi katalis yang kuat karena permintaan multivitamin naik cukup drastis,” tambah Wafi.

Untuk tahun 2026, Wafi memproyeksikan kinerja DVLA akan tumbuh dalam angka single digit. Risiko utama yang perlu dicermati oleh investor adalah pelemahan nilai tukar rupiah, mengingat sebagian besar bahan baku farmasi masih diimpor dan berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan.

Dengan mempertimbangkan valuasi DVLA saat ini, Wafi merekomendasikan saham DVLA dengan rating buy dan target harga Rp2.100 per saham.

Sementara itu, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai bahwa kinerja DVLA masih menunjukkan pertumbuhan, namun prospek sektor farmasi secara umum masih stagnan seiring dengan lemahnya daya beli masyarakat.

“Pertumbuhan top line DVLA di 9M25 hanya 2,2% YoY. Kami melihat prospek pertumbuhan pendapatan dan laba masih moderat,” jelas Azis.

DVLA Chart by TradingView

Lebih lanjut, Azis menambahkan bahwa momentum Idul Fitri belum tentu mendorong lonjakan signifikan dalam penjualan, karena daya beli masyarakat yang masih terbatas. Selain itu, risiko fluktuasi nilai tukar juga berpotensi meningkatkan biaya bahan baku perusahaan.

Dari sisi valuasi, Azis mencatat bahwa price to earnings ratio (P/E) DVLA saat ini berada di bawah rata-rata lima tahun. P/E DVLA tercatat 10,35 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun sebesar 18,59 kali.

Meskipun demikian, Kiwoom Sekuritas masih bersikap wait and see terhadap saham DVLA, seiring dengan pergerakan harga yang telah menembus level support di Rp1.625 per saham.

Ringkasan

Saham PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) mengalami koreksi meskipun laba bersih perusahaan menunjukkan pertumbuhan positif. Analis KISI Sekuritas menjelaskan koreksi ini lebih disebabkan rendahnya likuiditas saham lapis kedua, bukan karena fundamental perusahaan. Segmen consumer health, terutama vitamin dan suplemen, masih menjadi pendorong utama pertumbuhan DVLA, didukung kesadaran masyarakat akan kesehatan preventif.

Momentum Ramadan dan Idul Fitri dipandang sebagai katalis jangka pendek karena meningkatkan permintaan multivitamin. Namun, analis Kiwoom Sekuritas menilai prospek sektor farmasi masih stagnan karena lemahnya daya beli masyarakat. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi risiko utama karena mayoritas bahan baku farmasi masih diimpor, yang berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *