Dolar AS Terjun Bebas: Tarif Trump Ditolak Mahkamah Agung

Shoesmart.co.id – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (20 Februari 2026) setelah Mahkamah Agung AS membuat keputusan yang menolak kebijakan tarif luas yang digagas oleh Presiden Donald Trump.

Keputusan dengan perbandingan suara 6-3 ini, yang dipimpin oleh Ketua Hakim konservatif John Roberts, menegaskan bahwa Trump telah melampaui batas kewenangannya dalam menggunakan undang-undang darurat nasional tahun 1977 untuk menerapkan kebijakan tarif tersebut. Keputusan ini menjadi sorotan utama di pasar keuangan.

Sebelumnya, dolar sempat menunjukkan penguatan di awal perdagangan hari itu. Hal ini dipicu oleh rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Namun, pertumbuhan ekonomi justru berada di bawah ekspektasi, menahan laju penguatan dolar.

Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) AS tumbuh sebesar 1,4% secara tahunan pada kuartal terakhir. Angka ini jauh di bawah perkiraan para analis yang memprediksi pertumbuhan sebesar 3%. Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat ini menjadi perhatian pelaku pasar.

Wall Street Melonjak Usai Mahkamah Agung Tolak Tarif Trump

Para analis berpendapat bahwa angka PDB yang lebih rendah ini sebagian dipengaruhi oleh penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown). Penutupan ini memberikan dampak negatif pada aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

“Sebagian besar minggu ini sebenarnya positif untuk dolar, kecuali hari ini. Sepertinya aksi ‘jual Amerika’ terjadi sedikit terlalu dini,” kata Erik Bregar, Direktur Manajemen Risiko FX dan Logam Mulia di Silver Gold Bull, Toronto, mengomentari pergerakan pasar.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,4% pada Desember. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan 0,3%. Secara tahunan, indeks PCE meningkat 3% setelah mencatatkan angka 2,8% di bulan November. Kenaikan ini mengindikasikan adanya tekanan inflasi yang meningkat.

Dolar, yang diukur melalui indeks terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen dan euro, turun 0,22% ke level 97,68. Sementara itu, euro menguat 0,19% ke $1,1794. Pergerakan ini menunjukkan respons pasar terhadap keputusan Mahkamah Agung dan data ekonomi yang dirilis.

Meskipun mengalami penurunan harian terbesar sejak 9 Februari, secara keseluruhan dolar masih naik sekitar 0,8% sepanjang minggu. Hal ini menjadikan minggu ini sebagai pekan dengan keuntungan mingguan terbesar sejak November. Ketahanan dolar menunjukkan sentimen pasar yang masih relatif kuat.

Trump Peringatkan Bencana Ekonomi Jika Mahkamah Agung Batalkan Tarif Impor

Sementara itu, data ekonomi dari zona euro menunjukkan adanya peningkatan aktivitas yang lebih cepat dari perkiraan pada bulan ini. Sektor manufaktur kembali tumbuh untuk pertama kalinya sejak Oktober, menandakan adanya pemulihan ekonomi di kawasan tersebut.

Namun, sektor jasa utama sedikit di bawah ekspektasi. Kondisi ini, ditambah dengan putusan terkait tarif, menurunkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed pun ikut berubah.

Peluang pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juni turun menjadi 53,6% dari 58,6%, menurut CME FedWatch Tool. Penurunan ekspektasi ini mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.

Sebelumnya, investor membeli dolar karena meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Ketegangan geopolitik ini sempat memicu permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar.

Trump menyatakan mempertimbangkan serangan militer terbatas ke Iran, sementara Menteri Luar Negeri Iran menyebut akan menyiapkan draf kontra-usulan dalam beberapa hari mendatang setelah pembicaraan nuklir pekan ini. Situasi ini terus menjadi perhatian para pelaku pasar global.

Mahkamah Agung AS Belum Mengeluarkan Keputusan Soal Tarif Trump

Di pasar lain, poundsterling menguat 0,33% ke $1,3504. Penjualan ritel Inggris pada Januari meningkat dengan laju tahunan tercepat dalam hampir empat tahun. Selain itu, survei menunjukkan bisnis Inggris mempertahankan pemulihan awal 2026 selama dua bulan berturut-turut. Data-data ini memberikan sentimen positif bagi poundsterling.

Terhadap yen Jepang, dolar melemah 0,07% ke 154,87. Data Jepang menunjukkan inflasi inti tahunan mencapai 2,0% pada Januari, laju terendah dalam dua tahun terakhir. Perlambatan inflasi di Jepang ini menjadi perhatian Bank Sentral Jepang (BOJ).

Ringkasan

Nilai tukar dolar AS melemah setelah Mahkamah Agung menolak kebijakan tarif luas Presiden Trump. Keputusan dengan suara 6-3 ini menyatakan Trump melampaui batas kewenangannya dalam menerapkan tarif menggunakan undang-undang darurat nasional. Pelemahan dolar terjadi meskipun sebelumnya sempat menguat karena data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan.

Selain keputusan Mahkamah Agung, pertumbuhan PDB AS yang lebih rendah dari ekspektasi juga memengaruhi pergerakan dolar. Data ekonomi zona euro menunjukkan peningkatan aktivitas manufaktur, namun sektor jasa sedikit di bawah ekspektasi. Pasar juga menurunkan ekspektasi pemotongan suku bunga oleh The Fed setelah data dan putusan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *