
Dolar AS mengawali tahun 2026 dengan momentum penguatan yang signifikan. Pada perdagangan Jumat (2/1), mata uang Negeri Paman Sam ini berhasil bangkit dari tekanan yang membayangi di tahun sebelumnya. Kebangkitan dolar terjadi seiring para pelaku pasar global menantikan rilis serangkaian data ekonomi krusial yang diprediksi akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan dinamika pasar keuangan secara menyeluruh.
Penguatan dolar ini menjadi sorotan, mengingat sepanjang tahun 2025, dolar tertekan hebat dengan penurunan lebih dari 9 persen, yang merupakan pelemahan tahunan paling tajam sejak 2017. Berdasarkan laporan Reuters, kemerosotan tersebut dipicu oleh beberapa faktor, termasuk menyempitnya selisih suku bunga AS dengan negara-negara lain, serta kekhawatiran yang terus-menerus terhadap kondisi fiskal AS, memanasnya perang dagang global, dan isu independensi The Fed. Semua risiko ini diperkirakan masih akan menjadi bayangan yang membayangi di sepanjang tahun ini.
Fokus investor pekan depan akan tertuju pada banjirnya data ekonomi, dengan sorotan utama pada laporan ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data vital ini diharapkan dapat memberikan sinyal jelas mengenai potensi The Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga. Saat ini, pasar global memproyeksikan dua kali penurunan suku bunga oleh The Fed, sebuah pandangan yang jauh lebih agresif dibandingkan proyeksi satu kali pemangkasan dari bank sentral yang masih mempertahankan pandangan konservatifnya.
“Ini akan menjadi waktu untuk melakukan banyak penilaian, kita tidak akan mengadakan pertemuan The Fed sampai akhir bulan, tetapi belum ada konsensus,” ungkap Juan Perez, Direktur Perdagangan di Monex USA yang berbasis di Washington. Ia menggarisbawahi bahwa ketidakpastian masih sangat tinggi di kalangan pengambil kebijakan dan pelaku pasar.
Perez menambahkan, “Penutupan pemerintahan AS baru-baru ini merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berlangsung sangat lama, sehingga benar-benar memengaruhi cara data dikumpulkan, diinterpretasikan, dan diukur atau dianggap sepenuhnya akurat.” Pernyataan ini menegaskan kompleksitas dalam menganalisis data ekonomi pascapenutupan pemerintah.
Di tengah kondisi tersebut, perdagangan global relatif sepi lantaran pasar Jepang dan China masih tutup pada hari yang sama. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, mencatat kenaikan 0,24 persen, mencapai level 98,48. Di sisi lain, mata uang tunggal Eropa, euro, sedikit melemah 0,25 persen, diperdagangkan pada level USD 1,1716.
Sementara itu, di kawasan Eropa, aktivitas manufaktur zona euro pada bulan Desember dilaporkan turun ke titik terendah dalam sembilan bulan berdasarkan hasil survei. Namun, terlepas dari pelemahan harian, euro secara keseluruhan menunjukkan kinerja impresif sepanjang 2025 dengan melonjak lebih dari 13 persen, menjadikannya kenaikan tahunan terbesar sejak 2017. Poundsterling juga mencatatkan koreksi 0,18 persen ke level USD 1,3445, setelah sebelumnya menguat 7,7 persen sepanjang 2025, sebuah lonjakan tahunan tertinggi sejak tahun 2017.
Selain data ekonomi, perhatian investor juga tertuju pada rencana Presiden AS Donald Trump untuk menunjuk ketua The Fed berikutnya, mengingat masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei mendatang. Trump menyatakan akan mengumumkan pilihannya pada bulan ini, memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar. Kandidat pilihan Trump dinilai berpotensi mendorong kebijakan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif, mengingat kritik keras presiden terhadap Powell dan The Fed yang dianggap terlalu lambat dalam menurunkan biaya pinjaman.
Pasar sepenuhnya memproyeksikan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini, sebuah pandangan yang kontras dengan proyeksi satu kali pemangkasan yang disampaikan oleh Dewan Gubernur The Fed saat ini. Perbedaan pandangan ini menggarisbawahi ketegangan antara ekspektasi pasar dan kebijakan bank sentral.
“Kami memperkirakan kekhawatiran seputar independensi bank sentral akan berlanjut hingga tahun 2026, dan melihat perubahan kepemimpinan The Fed yang akan datang sebagai salah satu dari beberapa alasan mengapa risiko seputar perkiraan suku bunga dana The Fed kami cenderung dovish,” demikian pandangan para ahli strategi Goldman Sachs dalam catatan mereka kepada klien, menunjukkan kecenderungan ke arah suku bunga yang lebih rendah.
Bergeser ke Asia, yen Jepang menunjukkan pelemahan 0,16 persen, mencapai level 156,91 per dolar AS, setelah hanya menguat kurang dari 1 persen sepanjang tahun 2025. Nilai tukar yen masih berkutat di dekat level terendah 10 bulan di 157,89 yang sempat tercapai pada November lalu. Kondisi ini telah memicu perhatian serius dari para pembuat kebijakan dan spekulasi mengenai potensi intervensi oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk menopang nilai mata uangnya.
Meskipun BOJ telah menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun lalu, langkah-langkah tersebut belum cukup kuat untuk menopang yen secara signifikan. Investor menilai kebijakan moneter Jepang belum cukup agresif untuk memberikan dampak besar. Data dari LSEG bahkan menunjukkan bahwa pasar belum melihat peluang lebih dari 50 persen untuk kenaikan suku bunga BOJ berikutnya hingga bulan Juli, mengindikasikan prospek kebijakan moneter yang masih akomodatif dalam beberapa bulan ke depan.
Ringkasan
Dolar AS mengawali tahun 2026 dengan penguatan signifikan setelah tertekan hebat sepanjang tahun 2025, dipicu antisipasi pelaku pasar terhadap data ekonomi krusial yang akan memengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Fokus utama investor adalah laporan ketenagakerjaan AS yang diharapkan memberi sinyal jelas mengenai potensi pemangkasan suku bunga. Pasar global memproyeksikan dua kali penurunan suku bunga oleh The Fed, yang lebih agresif dibandingkan pandangan konservatif bank sentral.
Selain data ekonomi, perhatian juga tertuju pada rencana Presiden AS Donald Trump menunjuk ketua The Fed berikutnya, yang berpotensi mendorong kebijakan pemangkasan suku bunga lebih agresif. Di tengah penguatan dolar, euro dan poundsterling menunjukkan pelemahan harian meski menguat signifikan sepanjang 2025. Sementara itu, yen Jepang terus melemah di dekat level terendah 10 bulan, meskipun Bank Sentral Jepang telah menaikkan suku bunga dua kali pada tahun lalu.