Jakarta, Shoesmart.co.id – Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) disarankan untuk mencermati pergerakan saham blue chip perbankan. Meski harga saham blue chip ini menunjukkan tren penurunan pada Maret 2026, emiten dengan kapitalisasi pasar besar (big cap) ini berencana membagikan dividen interim hingga tiga kali sepanjang tahun 2026.
Saham blue chip dikenal sebagai saham lapis satu yang telah teruji waktu di pasar modal, dengan fundamental yang kokoh. Biasanya, saham ini berasal dari perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar yang signifikan, mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.
Di BEI, saham-saham blue chip seringkali menjadi bagian dari indeks mayor seperti LQ45. Salah satu saham LQ45 dari sektor perbankan yang saat ini mengalami penurunan harga adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, harga saham BBCA berada di level Rp6.875, turun 25 poin atau 0,36% dibandingkan hari sebelumnya. Secara kumulatif, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini telah terkoreksi sebesar 1.150 poin atau 14,33% sejak awal tahun 2026.
Saham ADRO Sudah Naik 36%, Manajemen Siapkan Buyback Rp4 Triliun, Masih Layak Dibeli?
Di tengah penurunan harga saham, manajemen BBCA justru berencana membagikan dividen interim hingga tiga kali selama tahun 2026. Langkah ini direncanakan sebagai upaya untuk memberikan tambahan arus kas secara reguler kepada para pemegang saham setiap kuartal.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menjelaskan bahwa kebijakan dividen interim kuartalan ini akan selalu mempertimbangkan kondisi keuangan perseroan dan memerlukan persetujuan dari Dewan Komisaris.
“Pembagian dividen interim setiap kuartal diharapkan dapat memberikan tambahan cashflow bagi para pemegang saham yang selama ini setia mendukung kami,” ungkap Hendra dalam keterangan resminya, Jumat (13/3/2026).
Rencana pembagian dividen ini diumumkan setelah BCA melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Kamis (12/3).
Dalam RUPST tersebut, para pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih BCA tahun buku 2025 yang mencapai Rp57,5 triliun.
Tonton: 5 Pimpinan Baru OJK Dilantik, Ini PR Besar yang Menanti
Dari total laba tersebut, BCA menetapkan dividen tunai sebesar Rp336 per saham. Secara keseluruhan, dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2025 mencapai Rp41,3 triliun.
Dengan demikian, dividend payout ratio (DPR) BCA mencapai 72%, meningkat signifikan dibandingkan DPR tahun buku 2024 yang sebesar 67,4%.
Hendra Lembong juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemegang saham atas dukungan yang berkelanjutan kepada perseroan.
Lebih lanjut, Hendra menegaskan bahwa BCA akan terus fokus menjaga fundamental bisnis yang solid dan menjalankan strategi secara hati-hati (pruden) sepanjang tahun 2026.
Ringkasan
Saham blue chip perbankan, khususnya BBCA, mengalami penurunan harga di awal tahun 2026. Meskipun demikian, manajemen BBCA berencana membagikan dividen interim hingga tiga kali selama tahun 2026, sebagai upaya memberikan tambahan arus kas reguler kepada pemegang saham.
Keputusan pembagian dividen interim ini akan mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan dan memerlukan persetujuan Dewan Komisaris. Pada RUPST, BCA menyetujui penggunaan laba bersih 2025 sebesar Rp57,5 triliun, dengan dividen tunai Rp336 per saham, menjadikan dividend payout ratio sebesar 72%.