Direksi BCA Borong Saham BBCA Saat Harga Turun: Momentum?

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Kabar terbaru datang dari jajaran direksi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Lianawaty Suwono, salah satu direktur di bank swasta terbesar ini, menambah kepemilikan sahamnya di BBCA. Aksi korporasi ini tentu menarik perhatian investor dan pengamat pasar.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Selasa, 17 Maret 2026, Lianawaty Suwono memborong 300.000 lembar saham BBCA. Harga pembeliannya tercatat Rp 6.750 per saham. Perlu dicatat bahwa harga tersebut mencerminkan koreksi sebesar 15,88% secara *year-to-date* (ytd).

Dengan harga tersebut, total dana yang dikeluarkan Lianawaty untuk menambah porsi kepemilikannya di saham BBCA mencapai Rp 2,02 miliar. Langkah ini mengindikasikan keyakinan sang direktur terhadap prospek BBCA ke depan.

Lianawaty dalam laporannya menyebutkan bahwa tujuan pembelian saham ini adalah untuk investasi. Transaksi tersebut dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2026.

Setelah transaksi ini, jumlah kepemilikan saham Lianawaty di BBCA meningkat signifikan. Semula, ia memiliki 3,14 juta unit saham, kini bertambah menjadi 3,44 juta unit saham. Kepemilikan ini setara dengan 0,002% hak suara di BBCA.

Pada perdagangan hari Selasa (17/3/2026), saham BBCA dibuka pada harga Rp 6.775, mengalami penguatan tipis sebesar 0,37% secara harian. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Senin (16/3/2026), BBCA parkir di zona merah pada harga Rp 6.750, terkoreksi 1,82% dari perdagangan sebelumnya dan terkoreksi 3,22% dalam sepekan terakhir.

Dalam rentang waktu satu minggu, harga saham BBCA sempat menyentuh level tertinggi di Rp 7.000 pada tanggal 11 Maret 2026. Momen ini terjadi sehari sebelum pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan.

Sebagai informasi tambahan, dalam RUPST tersebut, BBCA mendapatkan persetujuan untuk melakukan *buyback* saham dengan nilai maksimal mencapai Rp 5 triliun. Hal ini menjadi sinyal positif bagi pasar.

Selain *buyback*, RUPST juga menyetujui pembagian dividen untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 336 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai Rp 41,4 triliun atau setara dengan 72% dari laba bersih perseroan pada periode tersebut.

Jumlah tersebut sudah termasuk dividen interim sebesar Rp 55 per saham yang telah dibayarkan pada tanggal 22 Desember 2025 lalu. Dengan demikian, sisa dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham adalah sebesar Rp 281 per saham.

Ringkasan

Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Lianawaty Suwono, menambah kepemilikan sahamnya sebanyak 300.000 lembar dengan harga Rp 6.750 per saham, menghabiskan dana sekitar Rp 2,02 miliar. Pembelian ini dilakukan pada 16 Maret 2026 dan bertujuan untuk investasi, meningkatkan kepemilikan sahamnya menjadi 3,44 juta unit atau 0,002% hak suara.

Aksi pembelian saham oleh direksi ini terjadi saat harga saham BBCA mengalami koreksi. Selain itu, RUPST BBCA menyetujui *buyback* saham maksimal Rp 5 triliun dan pembagian dividen tahun buku 2025 sebesar Rp 336 per saham, termasuk dividen interim Rp 55 yang sudah dibayarkan, menyisakan Rp 281 per saham untuk dibagikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *