Shoesmart.co.id – JAKARTA. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mengalami penurunan kinerja sepanjang periode Januari hingga September 2025. Manajemen perusahaan meyakini bahwa penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara akan menjadi faktor kunci yang menentukan kinerja AADI di tahun 2026.
Berdasarkan laporan keuangan, AADI membukukan pendapatan sebesar US$ 3,61 miliar pada kuartal III-2025. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 10,86% secara year on year (yoy). Lebih lanjut, laba bersih AADI juga terkoreksi signifikan, merosot 34,84% yoy menjadi US$ 810,55 juta pada periode yang sama.
Tim riset Phintraco Sekuritas dalam analisisnya menyebutkan bahwa penurunan pendapatan ini terutama disebabkan oleh performa segmen pertambangan dan perdagangan batubara yang kurang menggembirakan, turun 2,1% secara quarter on quarter (QoQ) menjadi US$ 1,16 miliar. Selain itu, AADI juga mencatatkan penurunan tajam sebesar 33,3% secara kuartalan, dengan pendapatan dari segmen lain hanya mencapai US$ 5 juta.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.829 Per Dolar AS Hari Ini (24/2)
“Jika dilihat dari segmentasi pasar, pendapatan ekspor AADI mengalami penurunan sebesar 14,3% yoy menjadi US$ 2,78 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun 2025. Namun, di sisi lain, pendapatan dari pasar domestik justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3% secara tahunan, mencapai US$ 824 juta pada periode yang sama,” jelas riset Phintraco Sekuritas yang dipublikasikan pada 4 Desember 2025.
Meskipun pendapatan mengalami penurunan, AADI berhasil menekan biaya operasionalnya. Tercatat, biaya yang dikeluarkan AADI menyusut 9% yoy menjadi US$ 2,67 miliar pada kuartal III-2025. Efisiensi ini terutama didorong oleh pengurangan biaya penambangan sebesar 1,9% yoy menjadi US$ 1,18 miliar, serta penurunan biaya royalti yang dibayarkan kepada pemerintah sebesar 31,2% secara tahunan menjadi US$ 550 juta dalam sembilan bulan di 2025.
Di sisi lain, AADI menghadapi tantangan berupa penurunan harga batubara, meskipun permintaan dari negara-negara seperti China dan India relatif stabil. Penurunan harga ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan pasokan dari negara-negara produsen utama, penurunan konsumsi batubara di negara-negara maju, dan normalisasi harga gas.
Lebih lanjut, impor batubara China diperkirakan akan lebih rendah, berkisar antara 470 juta ton hingga 500 juta ton hingga akhir tahun 2025, akibat penurunan harga batubara domestik di negara tersebut. Phintraco Sekuritas memprediksi bahwa penjualan ekspor AADI akan mengalami pelemahan karena penurunan harga jual rata-rata batubara (ASP), yang diperkirakan akan mengakibatkan penurunan pendapatan sebesar 3,8% yoy menjadi US$ 5,12 miliar pada tahun 2025.
Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, memiliki pandangan yang lebih optimis terhadap prospek AADI. Menurutnya, AADI memiliki daya tarik karena merupakan produsen batubara terintegrasi dengan profil imbal hasil yang kuat. AADI memiliki eksposur yang unik ke bisnis batubara termal yang terfokus dan terintegrasi secara vertikal dengan biaya tunai kuartal pertama dan tanpa hambatan belanja modal energi hijau.
“Didukung oleh cadangan batubara sebesar 917 juta ton dan sistem logistik yang efisien, AADI mampu menghasilkan margin yang tangguh bahkan ketika harga batubara mengalami penurunan,” ungkap Hasan dalam risetnya pada 12 Januari 2026.
Dengan kebijakan pembayaran dividen sebesar 45%, Hasan memperkirakan imbal hasil dividen AADI akan mencapai 8,5% – 8,6% untuk tahun fiskal 2025-2027. Arus kas bebas AADI yang kuat dan neraca keuangan yang sehat menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan batubara murni dengan imbal hasil tinggi dan kemampuan menghasilkan kas yang besar.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyoroti bahwa kuota produksi AADI masih cukup besar sehingga volume penjualan perusahaan tetap terjaga, meskipun kontribusi laba kemungkinan akan terbatas akibat harga batu bara global yang belum pulih secara signifikan.
“Di tengah rencana pemotongan RKAB, kinerja PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) diperkirakan relatif stabil pada kuartal I-2026,” ujar David kepada Kontan, Selasa (24/2/2026).
Soal 32 Kasus Goreng Saham, OJK Lakukan Proses Pendalaman
David menambahkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi AADI berasal dari tekanan harga batubara global yang masih mengalami oversupply, serta potensi penyesuaian kebijakan RKAB dan DMO yang dapat menekan fleksibilitas penjualan ekspor dan margin perusahaan.
Hasan memperkirakan pendapatan dan laba bersih AADI pada tahun 2025 masing-masing sebesar US$ 4,82 miliar dan US$ 756 juta. Sementara itu, untuk tahun 2026, pendapatan dan laba bersih AADI diproyeksikan mencapai US$ 4,89 miliar dan US$ 761 juta. Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, AADI berhasil mencatatkan pendapatan sebesar US$ 5,31 miliar dan laba bersih sebesar US$ 1,21 miliar.
Hasan, David, dan tim riset Phintraco Sekuritas merekomendasikan buy saham AADI dengan target harga masing-masing Rp 10.000 per saham, Rp 9.500 per saham, dan Rp 10.200 per saham.
Hasan berpendapat bahwa valuasi saham AADI memiliki potensi untuk meningkat, mengingat saat ini diperdagangkan pada 5,4x P/E tahun 2025, dibandingkan dengan 9-10x milik perusahaan sejenis. Hasan juga menambahkan bahwa AADI menawarkan potensi peningkatan peringkat jika harga batubara tetap berada di atas US$ 100 per ton dan perusahaan rutin membayar dividen. Namun, ia menggarisbawahi risiko terhadap rekomendasi saham tersebut, termasuk harga batubara yang lebih rendah dan potensi pemberlakuan pajak ekspor batubara oleh pemerintah Indonesia.
Ringkasan
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mengalami penurunan kinerja pada kuartal III-2025, dengan pendapatan dan laba bersih yang terkoreksi masing-masing sebesar 10,86% dan 34,84% secara year on year. Penurunan ini disebabkan oleh performa segmen pertambangan dan perdagangan batubara yang kurang menggembirakan, serta penurunan pendapatan ekspor meskipun pendapatan dari pasar domestik mencatatkan pertumbuhan positif.
Meskipun menghadapi tantangan seperti penurunan harga batubara global dan potensi penyesuaian kebijakan RKAB, beberapa analis tetap memberikan rekomendasi buy untuk saham AADI. Alasan utamanya adalah AADI merupakan produsen batubara terintegrasi dengan profil imbal hasil yang kuat, cadangan batubara yang besar, dan efisiensi biaya operasional. Target harga saham AADI berkisar antara Rp 9.500 hingga Rp 10.200 per saham.