Deregulasi Impor Tekstil Bisa Beri Angin Segar bagi MAPI, Cek Rekomendasi Sahamnya

Shoesmart.co.id JAKARTA. Kebijakan deregulasi impor tekstil yang diterbitkan pemerintah pada akhir Juni 2025 lalu dipandang sebagai angin segar yang berpotensi menyuntikkan napas tambahan bagi kinerja PT Mitra Adiperkasa (MAPI). Aturan baru ini tidak hanya diproyeksikan memangkas waktu impor, tetapi juga berpeluang signifikan menekan harga pokok penjualan (HPP) perseroan.

Pemerintah secara resmi merilis serangkaian deregulasi impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 17 hingga No. 23 Tahun 2025. Regulasi komprehensif ini mengatur tata kelola masuknya beragam produk ke Indonesia, termasuk sektor tekstil yang menjadi fokus utama MAPI.

Menurut analisis Novi Vianita, seorang Analis dari Panin Sekuritas, kebijakan deregulasi impor ini secara langsung berpotensi memangkas biaya impor yang ditanggung MAPI, sehingga menghasilkan efisiensi yang lebih baik pada harga pokok penjualan (COGS). Ia juga menambahkan bahwa proses impor kini akan menjadi jauh lebih cepat, mengingat tidak adanya lagi kewajiban pengurusan Persetujuan Teknis (Pertek) dan Persetujuan Impor (PI) yang sebelumnya dikenal memakan waktu cukup panjang.

Mitra Adiperkasa (MAPI) Raup Laba Rp 960,92 Miliar pada Semester I-2025

Namun demikian, Novi Vianita juga menggarisbawahi sisi lain dari kemudahan impor tekstil ini. Ia menilai bahwa deregulasi berpotensi meningkatkan intensitas persaingan di antara para peritel, seiring dengan semakin luasnya preferensi pilihan produk di kalangan masyarakat. Hal ini menuntut strategi adaptasi yang lebih gesit dari para pelaku pasar.

Terlepas dari potensi efisiensi, MAPI mencatat penurunan marjin kotor pada semester I-2025 menjadi 42,5%, dibandingkan 43,3% pada periode yang sama di tahun 2024. Meskipun demikian, secara nilai, laba kotor Mitra Adiperkasa justru tumbuh impresif menjadi Rp 8,1 triliun pada paruh pertama 2025, melonjak 8,7% secara tahunan. Novi menjelaskan, tren ini mengindikasikan adanya peningkatan volume penjualan yang diiringi dengan strategi penetapan harga jual yang lebih ketat, seiring dengan persediaan barang dagang yang lebih besar di awal tahun.

Menjelang akhir tahun, Harry Su, Managing Director Research & Digital Production dari Samuel Sekuritas Indonesia, menyarankan para investor untuk tetap mewaspadai berlanjutnya pelemahan daya beli masyarakat. Selain itu, ia juga mengingatkan akan potensi dampak tensi perang dagang global yang bisa berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi biaya operasional MAPI.

Di tengah tantangan tersebut, Novi Vianita menyoroti langkah diversifikasi merek yang dilakukan MAPI sebagai upaya strategis untuk secara perlahan meredam tekanan dari segmen F&B yang mungkin fluktuatif. Selain itu, kebijakan deregulasi impor yang baru ini diharapkan dapat terus melonggarkan beban biaya impor bagi perseroan ke depannya, memberikan ruang gerak lebih luas untuk pertumbuhan kinerja MAPI.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, baik Novi Vianita maupun Andrianto Saputra, Analis dari Indo Premier Sekuritas dalam risetnya per 30 Juli 2025, merekomendasikan untuk membeli saham MAPI. Keduanya kompak menetapkan target harga yang sama, yaitu Rp 1.600 per saham, menunjukkan keyakinan terhadap potensi kinerja Mitra Adiperkasa di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *