Shoesmart.co.id, PONTIANAK — Perekonomian Indonesia diprediksi masih menghadapi sejumlah tantangan berat pada tahun 2026 dan 2027. Ketidakstabilan politik global dan potensi tekanan pada neraca perdagangan akibat pemberlakuan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS) menjadi faktor-faktor yang dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Proyeksi yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan diperkirakan tidak sekuat ekspektasi pemerintah. BI mematok proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 4,9% – 5,7%.
Sementara itu, untuk tahun berikutnya, BI menetapkan rentang pertumbuhan ekonomi antara 5,1% hingga 5,9%.
Lihat Juga: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Teranyar usai PDB 2025 Tumbuh 5,11%
Angka-angka ini tergolong lebih konservatif dibandingkan dengan target yang ditetapkan pemerintah dalam APBN, yaitu sebesar 5,4%, dengan target optimis hingga 6%. Target 6% ini setidaknya tercermin dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Selain proyeksi pertumbuhan ekonomi, BI juga memperkirakan defisit transaksi berjalan akan berada di kisaran 0,1% – 0,9% pada tahun 2026 dan 0,4% – 1,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Proyeksi ini lebih lebar dibandingkan realisasi defisit transaksi berjalan tahun 2024 yang hanya 0,6% atau proyeksi tahun 2025 di kisaran 0,1% – 0,7% dari PDB.
Lihat Juga: Menilik Kans RI Kebut Pertumbuhan Ekonomi usai Laju PDB 2025 Lampaui Ekspektasi
Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa angka-angka tersebut tidak boleh diartikan sebagai pesimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ia menegaskan bahwa angka-angka tersebut hanyalah proyeksi berdasarkan garis waktu horizontal.
“Jadi, ini tidak berarti menunjukkan ketidakpastian ekonomi ke depan,” ujar Juli dalam sebuah acara di Pontianak, Jumat (6/2/2026).
Juli menekankan pentingnya transformasi sektor riil untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan, terutama melalui kebijakan industrial dan struktural yang meningkatkan kapasitas ekonomi nasional.
Selanjutnya, ia memaparkan lima agenda transformasi yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Pertama, sinergi untuk memperkuat stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kedua, sinergi untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Ketiga, sinergi untuk meningkatkan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan. Keempat, sinergi untuk akselerasi digitalisasi ekonomi hingga keuangan nasional. Kelima, sinergi kerja sama ekonomi bilateral dan regional.
Sentimen Negatif Pada Awal Tahun
Sejumlah sentimen negatif turut membayangi perekonomian Indonesia pada awal tahun ini, mulai dari pelebaran defisit APBN, tren depresiasi rupiah, hingga tekanan terhadap kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Selain itu, beberapa lembaga pemeringkat internasional juga memberikan catatan penting terhadap kebijakan pemerintah. Moody’s, misalnya, memberikan outlook negatif meskipun tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia di level Baa2. S&P juga menyoroti risiko fiskal Indonesia.
Namun, di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 mencapai 5,39% secara tahunan (year-on-year/YoY), yang merupakan angka tertinggi pada periode tersebut pascapandemi Covid-19.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) pada Oktober, November, dan Desember 2025 atas harga berlaku sebesar Rp6.147,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan Rp3.474,5 triliun.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tiga bulan terakhir tahun lalu mencapai 5,39% (YoY). Pertumbuhan pada kuartal IV/2025 ini merupakan yang tertinggi dibandingkan periode yang sama pascapandemi.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan IV 2025 sebesar 5,39% ini merupakan pertumbuhan tahunan triwulan IV tertinggi pascapandemi Covid-19,” terangnya pada konferensi pers, Kamis (5/2/2026).
Secara keseluruhan, PDB Indonesia sepanjang tahun lalu berdasarkan harga berlaku sebesar Rp23.821,1 triliun dan atas dasar harga konstan Rp13.580,5 triliun. Dengan demikian, secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% (YoY).
Ringkasan
Perekonomian Indonesia diprediksi menghadapi tantangan pada 2026-2027, termasuk ketidakstabilan politik global dan potensi tekanan neraca perdagangan. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9%-5,7% pada 2026 dan 5,1%-5,9% pada 2027, lebih konservatif dibandingkan target pemerintah.
Selain proyeksi pertumbuhan, BI juga memperkirakan defisit transaksi berjalan akan melebar menjadi 0,1%-0,9% pada 2026 dan 0,4%-1,9% dari PDB pada 2027. Transformasi sektor riil melalui kebijakan industrial dan struktural dianggap penting untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan, dengan fokus pada sinergi di berbagai bidang termasuk stabilitas makroekonomi, pertumbuhan berkelanjutan, dan digitalisasi.